Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Semua baik-baik saja.


__ADS_3

"Lila, kamu kenapa?" tatap Papa Wira, tetap tajam dan menakutkan meski berusaha ramah pada menantunya.


"Lila, Papa minta maaf jika Papa pernah menyakiti kamu. Semua isi kepala yang kotor ini, sudah membuat keluarga kita berantakan. Dan yang paling parah, adalah yang menimpa kamu. Papa... Minta maaf." Papa Wira menjulurkan tangannya, dan Lila perlahan mengelurkan tangan kanannya untuk menyambut permintaan maaf itu.


" Maaf, Pa. Lila sedikit syok. Tak apa 'kan, jika Iam menggantikannya?" Iam mengambil alih tangan Papa Wira dan menggenggamnya.


"Maaf jika ini ngga sopan, tapi..."


"Its okay. Papa ngerti." jawab Papa Wira.


Iam kembali menggandeng tangan Lila, lalu mengajaknya keluar dari tempat yang ramai itu. Hatinya sudah tampak gelisah, di tambah lagi dengan suasana. Pasti, akan mempengaruhi kesehatannya hari ini. Sedangkan Papa Wira, berjalan bersama istrinya di belakang.


"Lila mau makan dulu? Biasanya, jam segini laper?" tanya Iam dengan mengusap perut istrinya.


"Belum, Mas. Cuma pengen cepet pulang, terus istirahat aja."


"Kita antar Opa dulu ya, sayang." sapa nya pada sang calon buah hati.

__ADS_1


"Lila hamil lagi?" lirik Papa Wira.


"Iya, Mas. Lila hamil, dan baru sekitar Dua bulan. Nanti, keponakan sama Om nya akan main sama-sama. Kayaknya, sekolah juga barengan." gurau Mami Dona, dengan senyum yang mengembang bagai bunga teratai.


"Alhamdulillah," ucap Papa Wira, tampak penuh rasa syukur di wajahnya.


Mereka tiba dirumah Papa. Tak ada sambutan berarti, karena Aul juga tengah pergi. Sepi, sunyi dan tak seramai dulu.


"Nanti akan ramai, jika bayi kita lahir. Apalagi disusul cucu. Lila kuliah lagi aja, biar Mami yang ngasuh nanti."


"Boleh. Apa yang engga buat Lila. Lila memang perlu itu, setidaknya untuk pengembangan diri."


"Makasih," peluk Lila dengan erat. Memunculkan cahaya cerah, yang sejak tadi tertutup awan mendung.


Mami Dona mengajak Lila makan bersama. Kebetulan, Mbok disana sudah memasak dengan menu yang spesial. Pasti, Lila langsung tergugah karena selera makannya memang sangat tinggi saat ini. Memang beda, dengan kehamilan anak pertamanya tahun lalu.


"Udah, sayang? Pulang yuk," ajak Iam pada sang istri. Lila mengangguk dan tersenyum, pamit pada Mami Dona.

__ADS_1


"Eh, tas Lila?"


" Ini, Aku bawain." balas Iam yang sudah melangkah sedikit jauh. Lila tersenyum mengejar sang suami yang sudah beberapa meter di depan sana.


"Jangan lari, kasihan Baby..." tegur Iam, lalu mengelus perut Lila yang mulai tampak menonjol. Wajahnya tampak semakin berseri, dan senyumnya kembali semringah begitu lepas dan tanpa beban.


Sepanjang jalan pulang, hanya masa depan yang mereka fikirkan. Segala rencana mereka untuk sang Bayi di kemudian hari. Tak henti nya Iam dengan segala perhatiannya, yang bahkan dengan sukarela melayani sang istri meski dengan statusnya yang sebagai Direktur utama diperusahaannya.


"Sudah, mandinya?" tanya Iam, ketika Lila keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang basah.


"Udah, mau keringin rambut. Mas mau mandi?" tanya Lila, mengambil hairdryernya.


Iam menggeleng. Ia justru berdiri menghampiri Lila, dan mengambil alat itu dari tangannya. Ia meminta Lila duduk manis dan mengeringkan rambut Lila disana, menghadap kaca besar di temani senyum nya yang begitu ceria.


"Tetap tersenyum seperti itu. Aku, tak akan membiarkan senyum itu pudar darimu." ucapnya lembut.


Lila langsung membalik tubuhnya, meraih tubuh Iam dan memeluknya erat. Sesekali mendongakkan kepala dan menatap wajah yang tampan dan gagah itu. Bersyukur, bahkan tak henti Lila mengucap syukur kesekian kalinya untuk kebersamaan mereka.

__ADS_1


__ADS_2