Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Roti macan seribuan aja ngutang.


__ADS_3

"Lila mau kerumah Ibu, ngga?"


"Hah, boleh?"


"Ya boleh, kenapa harus melarang? Nanti ku antar sekalian ke kantor."


Lila yang tengah merapikan tempat tidur, lalu menghampiri suaminya untuk merapikan dasi. Lila tampak sudah mahir, dan begitu rapi dalam memasangkan dasi suaminya. Satu kecupan pun kembali mendarat di keningnya.


"Suka banget cium-cium."


"Suka lah, istriku." cubit Iam di pipi sang istri.


Ia tak berdandan, karena takut jika Iam akan telat ke kantor. Segera Ia sandang tas nya dan menggandeng Iam keluar menuju mobilnya.


"Nanti biar pulangnya aku jemput. Tunggu saja disana."


"Iya, Mas." turutnya.


Memang tak terlalu lama untuk sampai kerumah Bu Marni. Tapi Iam tak mampir, dan hanya memberi salam pada mertuanya.


"Kok, suaminya ngga turun, La?" tanya seorang tetangga.

__ADS_1


"Buru-buru, Bu wati. Ada rapat di kantornya." jawab Lila dengan penuh ramah.


Entah, Bu Wati tampaknya begitu perhatian saat ini. Pasalnya, tatapan matanya menelusuri tubuh Lila dari ujung kepala, hingga ujung kaki. Menurutnya mungkin ada yang berbeda, atau Dia sendiri tengah mencari perbedaan itu.


"Assalamualaikum..." Lila masuk ke rumah, dan langsung mencari sang Ibu.


"Waalaikumsalam, La, kok pulang? Sama siapa?" Bu Marni baru saja selesai membereskan warungnya.


"Mas Iam tadi, yang antar. Tapi langsung, karena buru-buru ke kantor. Ibu sudah sarapan? Ini Lila bawain makanan."


Lila langsung ke dapur, dan menyalin semua makanan yang Ia bawa ke dalam beberapa wadah. Seperti yang Ia duga, sang Ibu pasti jarang makan hanya karena tak ada teman. Karena biasanya seperti itu. Beliau bukan malas, tapi kadang lebih memilih mengistirahatkan tubuhnya daripada lelah memasak dan makan.


"Tinggal pesen, sama Bu Tatik. Gado-gado Satu aja kenyang. Kadang, Ibu makan Dua kali." ucap Sang Ibu padanya.


Lila kemudian meminta Ibunya sarapan, sementara Ia menggantikannya untuk mempersiapkan toko. Ia menakar gula, tepung dan yang lain dengan timbangan yang telah tersedia. Lalu, Ia menatanya dengan rapi.


"Eh, Lila pulang?" sapa Bu Murni.


"Iya, Bu. Lagi santai aja, jadi minta Mas Iam anter sekalian ke kantor."


Tatapan Bu Murni, tak beda jauh dengan Bu Wati. Lila yang risih, akhirnya bertanya pada yang bersangkutan.

__ADS_1


"Ada apa, ya? Kok gitu?"


"Lila, makin kinclong aja? Nikahnya sama orang kaya, ya?"


"Ngga kaya, sih. Tapi, alhamdulillah cukup." jawab Lila.


"Ehm, kayaknya orang kaya deh. Itu, mobilnya aja begitu. Tapi, kalau orang kaya, kok pestanya ala kadarnya?"


Lila pun akhirnya mendengar pertanyaan itu setelah sekian lama. Ia hanya dapat menghela nafas dan mengatur emosinya.


"Yang penting sah, Bu." senyumnya.


"Itu, Ayahnya suamimu sama Ibunya, kok ngga ada? Merestui ngga sih?" tanya nya lagi, sembari menggigit sebungkus roti macan seharga seribuan.


"Maaf, Bu. Itu privasi. Kan, adiknya sama Mama tirinya kemarin datang. Lihat 'kan? Papa sakit, jadi ngga boleh keluar rumah kelamaan." jawab Lila, yang mulai jengah.


Andai Bu Marni cepat keluar, Ia ingin sekali langsung masuk kedalam untuk menghindari mereka semua. Ya, Bu Murni yang datang sendiri. Tapi, ketika Bu Murni pulang, maka mereka akan berkumpul beramai-ramai untuk membahas gosip yang baru saja Ia temukan.


"Bu, maaf. Ini catatan hutangnya kok, belum di cicil sama sekali?" tanya Lila, yang membuka buku ungu di pojoka steling tokonya.


"Eh iya, itu... Ehm, anu... Minggu depan, ya? Pasti langsung lunas."

__ADS_1


Bu Murni pun segera pergi, tanpa membayar roti macannya.


"Seribu doang, utang pula." gerutu Lila, yang mencatatnya dalam bon.


__ADS_2