
"Lila, aku berangkat dulu. Kalau ada apa-apa, panggil saja."
"Aul, ngga kesini lagi?"
"Aul kuliah, Sayang. Mungkin jika sempat, Ia akan mampir."
Lila hanya diam, memainkan makanannya diatas piring. Iam hanya menatapnya dalam diam.
"Bosan,"
"Bagaimana, jika akhir minggu kita berkunjung ke rumah Oma?"
"Nenek, Mas Iam?"
"Ya, nenek dari pihak Papa. Karena yang dari pihak Mama sudah tak ada."
"Oke... Akhir minggu sebentar lagi, semoga terasa semakin m sebentar." harapnya.
Iam segera berangkat ke kantor. Banyak sekali tugasnya hari ini. Bahkan, Ia izin lembur pada Lila.
Lila kembali pada aktifitasnya. Membersihkan rumah dan segala macamnya. Hingga Ia mendengar Hpnya berbunyi.
" Hallo, Mas Arya?"
__ADS_1
" Lila, kenapa keluar kerja ngga bilang dulu? Harusnya izin."
"Ya Allah, Lila lupa. Terus gimana?" kaget Lila.
Bahkan, Ia menikah pun teman sekantor nya tak ada yang tahu. Hanya desas desus, jika Lila menikah dengan mantan tamu hotel tempatnya bekerja. Dan cukup membuat gosip besar disana. Apalagi, dengan keluar tanpa izin sang Bos.
" Iya, Mas. Lila kesana sebentar lagi. Maaf sekali lagi." sesal Lila.
Ia pun mematikan teleponnya. Lalu, menyandang tasnya untuk segera pergi.
Namun, betapa terkejutnya Ia ketika membuka pintu, ada Papa mertuanya yang tengah berdiri di depan.
"Astaghfirullah." sebutnya.
"Engga, Pa. Hanya kaget. Masuk, Pa." Lila mempersilahkan dengan kedua tangannya.
Ia ingin mencium tangan, tapi takut di tepis lagi. Hingga Ia hanya ikut duduk diam, ketika Papa Wira telah duduk elegan di sofanya.
"Iam ke kantor?"
"Iya, baru saja berangkat. Kenapa, Pa?"
Tanpa basa basi, dan bahkan tanpa menatap mata Lila. Papa Tama mulai mempertanyakan sesuatu padanya.
__ADS_1
"Apa yang kamu inginkan dari anak saya?"
"Ma-maksudnya? Menginginkan apa? Lila ngga faham."
"Mau menikah dengan anak saya, begitu mendadak bahkan belum pernah saling mengenal. Pasti ada maksud tertentu. Kamu menjebak anak saya, untuk tidur denganmu malam itu?"
Hari masih pagi. Tak sesuai dengan peribahasa petir di siang bolong. Tapi, itulah yang di rasakan Lila saat ini. Sakit, perih, dan terhina rasanya. Ia menjadi tertuduh, padahal Ia adalah korban dalam kasus ini.
" Tak ada jebakan, tak ada kesengajaan untuk saya menikah dengan anak Papa. Harusnya Papa bersyukur, memiliki putra yang bertanggung jawab seperti Mas Iam. Yang justru menghampiri, untuk memberi tanggung jawabnya pada Lila."
"Saya telah menelusuri tentang hidup kamu, dan bagaimana keluarga kamu."
"Apakah, miskin itu adalah sebuah aib? Apakah, harus sederajad untuk menjadi menantu di keluarga ini? Maaf, jika Lila lancang masuk tanpa permisi. Tapi, berusaha sekeras apapun Lila menolak, Mas Iam tetap meminta Lila menjadi istrinya."
Lila berusaha tegar. Menahan air matanya agar tak tumpah sedikitpun, meski begitu perih dan sakit.
Iam tak ada, dan Ia harus membela dirinya sendiri kali ini. Apalagi dihadapan sang mertua yang berwajah sangar seolah akan menerkamnya tanpa ampun. Ia meremas tangannya sendiri, yang Ia taruh di atas paha.
"Kau takut padaku?"
Lila hanya menggelengkan kepalanya. Semua Ia lakukan, agar sang mertua tak merasa tersinggung padanya.
"Ku lihat perkembangan pernikahan kalian bagaimana. Jika ternyata kau hanya memanfaatkan putraku, bersiaplah pergi sejauh mungkin."
__ADS_1
Deeg! Jantung Lila berdenyut begitu kuat. Nafasnya sampai sesak, untuk berdiripun tak mampu. Ia tak melepas kepergian Papa mertuanya. Papa Wira berjalan sendiri, dengan langkah kakinya yang begitu berwibawa. Keluar dari apartment itu, tanpa sama sekali menengok kebelakang.