Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Lilaaaaaa!!


__ADS_3

"Ibu, kenapa?" tanya Lila, yang menghampiri Ibu nya ke dalam kamar. Kala itu, Mami Dona telah pamit pulang.


"Ngga papa, kenapa?"


"Sama Mami Dona, bukan sama Lila. Bu, Ibu kenapa bersikap seperti itu? Ngga enak sama Mami. Kasihan."


"Ibu masih trauma, sama Mami mu itu. Apalagi, Ia masih saja menganggu hubungan kamu dan Iam." jawab Bu Marni, bernada begitu ketus.


"Bu, Mami itu ngga tahu apa-apa. Mami juga korban dari keluarganya. Ayo lah, jangan seperti ini."


"Tapi dia mantan Iam. Ia akan selalu dekat dan merebut perhatian Iam untuk kamu. Ibu bisa rasakan."


"Ya Allah, Bu. Ngga gitu, Bu. Mas Iam sama sekali ngga pernah mengalihkan perhatian nya dari Lila. Sama Mami, itu karena menjaga adiknya. Tolong lah, Bu. Lila baru saja ingin berdamai dengan masa lalu. Hati, jiwa, dan fikiran ini sudah mulai tenang menerima semua keadaan."


" Kamu kira, Ibu mau bikin kacau semuanya? Keterlaluan kamu, Lila. Ibu pulang."


Bu Marni langsung menyandang tasnya. Kemudian pulang meninggalkan Lila yang masih termenung di kamar itu. Ia bingung harus menyikapi Ibunya bagaimana. Dan ini, bagai buah simalakama untuknya.


" Mas, pulang... Kangen," rebahnya di tempat tidur yang empuk itu.


*

__ADS_1


Telinga Iam berdenging. Beberapa kali Ia memijatnya menggunakan tangan dengan lembut.


"Bapak kenapa?" tanya Siska, yang masih setia di sampingnya.


"Telinga saya, berdenging. Ngilu," Iam meniup-niup genggaman tangan, lalu menaruh ke telinganya. "Ini, jam berapa?"


"Ehm, jam Setengah Empat, Pak." jawab Siska, melirik jam tangan antiknya.


Iam meraih Hp, dan menelpon Lila. Sayangnya, tak juga diangkat setelah beberapa kali Iam memanggil. Membuat pria itu langsung cemas seketika.


"Lanjutkan pekerjaan, aku pulang duluan."


"Kerjakan, atau potong gaji." Iam mengulurkan jari telunjuknya pada Siska, membuatnya diam seketika.


"Itu mulu, ancemannya." Siska mencebik kesal.


Iam berlari secepat mungkin. Berlari naik menuju mobilnya lalu menyetir dengan cepat. Hingga Ia tiba dirumah, dan masuk mencari sang istri.


"Lila! Lila, kamu dimana, sayang?" panggilnya, agak cemas. Tak ada jawaban, dan membuatnya semakin cemas. Apalagi, ketika Lila juga tak ada di kamar mereka.


"Mas, kenapa?" tanya Mba Tutik, yang datang dari dapur.

__ADS_1


"Lila mana? Kenapa ngga ada di kamar? Dimana-mana juga ngga ada."


"Tadi, duduk disini. Sama Mami, sama Ibu Marni. Tapi, abis itu saya ke belakang buat nyuci." jawabnya.


Iam menjambaki rambutnya. Tampak Ia mulai frustasi, wajahnya pun tampak mulai pucat. Mba Tatik pun ikut cemas melihatnya, dan berinisiatif mencari Nyonya nya di kamar yang lain.


" Mas, itu loh, Mba Lila nya. Tidur pules disana, " tunjuk Mba Tatik, yang menemukan Lila di kamar Ibu Marni.


"Tidur, pulas?" Iam langsung berdiri dan berlari menghampiri nya. "Ya Allah, Sayang. Hey, bangun lah. Jangan buat aku khawatir. Aku bisa mati berdiri, jika terjadi sesuatu denganmu. Bangun Lila."


Iam menepuk-nepuk lembut pipi bulat dan tembam itu. Tapi Lila tak kunjung bangun. Iam yang masih sangat trauma, meminta dengan keras, agar Mba Tatik menghubungi dokter langganan mereka.


" Cepat, Mba. Kalau ngga nyambung, saya bawa ke Rumah sakit segera."


"Iya, Mas. Sebentar," ucap Mba Tatik, yang juga kebingungan.


Namun, di tengah kebingungan itu, Lila justru bangun dengan sangat santai. Menggeliatkan tubuhnya dan menatap Iam yang begitu cemas padanya.


"Hehhe, Mas ngapain?" tanya nya, tanpa rasa berdosa sama sekali.


"Lilaaaaaaa!!!" pekik Iam, yang meradang dengan kelakuan sang istri?

__ADS_1


__ADS_2