Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Apapun akan ku turuti, tapi bukan ini.


__ADS_3

Iam menggandeng Lila keluar dari kamar mereka. Genggaman yang seperti biasa eratnya, tak akan lepas jika bukan Iam sendiri yang melepasnya.


Beberapa rekannya pun keluar dari kamar masing-masing. Dengan berbagai rupa, dari rapi hingga sedikit berantakan. Lila hanya menatap mereka sedikit heran, namun tak terlalu kaget karena sering menjumpai pemandangan seperti itu ketika masih bekerja di hotel.


"Lila ngga kaget lagi." bisiknya pada sang suami.


"Lah, tadi malem, kenapa marah-marah?"


"Ngga marah, Lila nanya?"


"Tapi nyolot, sampai minum. Padahal udah di larang."


"Mas Iam jawabnya lama. Kan kesel. Lila penasaran, eh... Rupanya mabok beneran." jelasnya.


"Haish, wanita ini...." gerutu Iam.


"Ya, wanita ini adalah istri tercintamu. Benar kan?" Lila menggandeng lengan Iam dengan erat.


Keduanya menuju ke mobil, segera ingin pulang rasanya. Tapi, Lila menahan dan merengek ingin ke pantai.


"Capek, Sayang."


"Bentar aja. Ini adalah tempat tanpa kenangan dengan Mami, kan?"

__ADS_1


"Kok tahu?"


"Ya, karena Mami Dona ngga akan mau dibawa ke acara seperti itu. Cuma Lila seorang." ucapnya dengan begitu bangga. Sangking gemasnya, Iam sampai menyentil dahi istrinya itu sampai meringis kesakitan.


"Cium aja," pinta Lila, memonyongkan bibirnya. Tapi Iam hanya meraihnya dengan menguncupkan tangan ke bibir manis itu.


Lila mengangkat gaun panjangnya, ketik onbak datang. Kakinya basah, dan sedikit kotor. Tapi Ia tampak senang, bahkan tawanya lepas. Semakin berlarian menghampiri ombak yang makin jauh meninggalkannya kembali ke lautan. Lila mengangkat roknya tinggi,


"Hey, jangan terlalu tinggi!" pekik Iam pada sang istri, tapi Lila tak me dengarnya. Suaranya kalah dengan bunyi ombak yang begitu kencang.


Akhirnya Iam mengalah lagi. Ia menggulung celana panjangnya, menghampiri sang istri yang tengah asyik bermain disana. Bagai anak kecil yang baru saja lepas dari kurungan Ibunya. Iam segera meraih tubuh Lila, memeluk dan menutup kaki jenjangnya yang tampak hingga paha mulusnya.


"Gimana bisa main, kalau diturunin."


"Syurga apa?"


"Syurgaku!"


"Syu-syurga apa? Bagaimana?" Lila menatap Iam, dan Iam memberi beberapa kedipan padanya.


"Syurga dunia, yang ada dalam dirimu. Yang hanya boleh untukku."


"Hish, apaan sih." Lila menepuk dada Iam dengan kuat. "Bawa-bawa syurga dunia segala, Mas."

__ADS_1


"Kamu yang mancing, ayo pulang."


"Ngga mau, main dulu." jawab Lila. Akhirnya Iam membopongnya, tanpa perduli dengan tatapan orang lain pada mereka.


"Jahat," sergah Lila.


"Jangan kayak anak kecil, inget umur. Ambekan mulu."


Lila menghela nafas pasrah. Yang tadinya menyangga dagu dengan tangannya, kini lepas dan menggantungkan tubuhnya di pundak Iam. Persis, seperti anak yang baru saja dimarahi Ayahnya karena terlalu banyak bermain. Iam hanya menoleh dan tersenyum melihatnya.


Bruuugh! Iam menurunkan tubuh Lila di jok mobil. Lila duduk dan menyilangkan kedua tangan di dadanya.


"Ice cream, mau?" bujuk Iam, yang duduk di kursi setirnya.


"No!"


"Maunya apa, Istriku?" rayu Iam dengan menggelitik dagunya. Lila tak menjawab, hanya memeluk lengan Iam dan menggelendot manja di lengan suaminya itu.


"Bebaskan Papa, biarkan Papa menemani Mami. Mami, begitu membutuhkan Papa, lebih dari apapun saat ini."


"Kenapa, jadi mereka yang Lila bahas? Kita sedang berdua, jangan membahas dia."


"Dia papamu, Mas. Apapun yang terjadi, tetap Papamu."

__ADS_1


"Semua yang kamu minta, akan aku turuti. Tapi, tidak dengan ini. Dona lebih kuat dari yang kamu kira, dan justru akan lebih sakit jika Papa tetap disini. Tapi di dalam penjara." jawab Iam, yang teleh berubah wajahnya dalam mode dingin, yang nyaris membekukan hati.


__ADS_2