
"Yupz, Baby... Ini ruanganku. Tempat kerjaku, dan terkadang juga jadi tempat istirahatku jika jenuh dirumah." sambut Iam, ketika mereka tiba diruang kerjanya.
Merek duduk bersama di sofa, dan Iam menghadap Lila yang masih takjub dengan ruangan besar itu.
"Jadi, kalau besok-besok Mas ngga pulang, berarti Mas disini?"
"Untuk apa aku ngga pulang? Tak ada alasan untuk tak pulang saat ini."
"Kali aja, lagi males pulang." jawab Lila, bernada meledek pada suaminya itu.
"Dulu, Iya. Tapi sekarang, aku justru selalu ingin cepat pulang dan menemuimu."
Iam menatapnya tajam. Entah karena aura pengantin baru, atau memang Lila telah menjadi candu berat untuknya. Seakan, Ia tak pernah bisa tenang ketika berada di hadapan sang istri.
Tangannya kian aktif, membelai rambut Lila yang indah itu. Turun ke pipi, lalu meraih dagunya.
"Ini di kantor.".
"Kamu lupa, ini kantorku?"
"Ya tetep jangan. Dirumah 'kan bisa?"
"Bentar, sekali aja." pinta Iam.
Iam meraih dagu Lila, tapi Lila menepisnya. Beberapa kali Iam melakukan itu, dan selalu Lila tepis dengan lembut
"Ayooo lah." pinta Iam begitu manja.
__ADS_1
Bahkan, sangking gemasnya Iam menjepit pipi Lila dengan kedua tanga hingga bibirnya manyun begitu lucu.
"Maas..."
"Dikit aja." pinta Iam.
Cup...! Satu kecupan di bibir sensual itu. Lalu Iam melepas jepitannya.
"Selamat pagi, Bapak... Ooopsss.!" Siska membalik badan.
"Siska, ada apa?"
"Ehm, anu... Papa Bos, udah datang." lapor Siska.
"Bersama siapa?"
"Mami Bos, Beliau ikut." jawabnya.
"Mereka sudah siap?"
"Ya, mereka di ruang pertemuan." jawab Siska.
Iam pun berdiri, menggenggam tangan Lila dan membawanya pergi. Genggaman itu tak pernah lepas sepanjang jalan, meski Lila tengah diajak berbicara oleh Siska.
"Saya, Siska. Saya sekretaris senior disini. Tugas saya, melayani semua pekerjaan, jadwal rapat, dan memeriksa dokumen sebelum ditanda tangani oleh Bos. Beserta yang lain, itu Plus plus..."
"Hah? Apa?" kaget Lila.
__ADS_1
"Plus plusnya adalah, saya harus siap kapanpun menjadi penengah jika ada huru hara yang datang." jawab siska.
Lila pun menghela nafas lega.
"Aku bukan tipe pria yang sembarang mencari wanita. Apalagi untuk urusan ranjang. Hanya kau saja, dan tak ada yang lain." ucap Iam..
"Uluuuh, so sweet nya Bapak Bos ini." puji Siska.
Sementara, Lila hanya tersenyum dan tersipu malu dengan wajahnya yang manis.
Siska melangkah lebih dulu untuk membuka pintu. Lila tercengang, dengan apa yang Ia lihat. Suasana begitu menegangkan, dengan perkumpulan orang besar di perusahaan itu. Mereka menatapnya tajam, menerka-nerka akan asal keberadaannya.
"Masuk..." ucap Papa Wira pada keduanya. Ditemani sang istri tercinta, yang selalu duduk di sebelahnya dengan anggun dan begitu menawan.
Iam mengangguk, sedikit menarik tangan Lila agar mundur di belakangnya. Lalu Ia membawanya maju untuk duduk bersama. Bagai Dua orang yang akan di sidang, atas sebuah kesalahan besar.
Acara pun di mulai. Lagi-lagi Siska yang harus jadi moderatornya. Ia dianggap paling mengerti, akan permasalah prinadi Bosnya itu.
"Kenal baru satu minggu, langsung menikah?" tanya salah seorang anggota dewan..
"Ya, kami tak ingin mengulur waktu setelah merasa cocok." jawab Iam.
"Bukan untuk pelarian, karena sebuah rasa kecewa?" sahut sang Papa.
"Ma-maksudnya?" tanya Lila, menoleh ke Iam..
"Tuan Iam baru saja ditinggal gadis pujaannya. Ia menikah dengan seseorang, dan begitu membuat Tuan kecewa." sambung yang lain.
__ADS_1
Percakapan itu, sontak membuat Dona tampak gugup. Karena, namanya akan di catut disini.
"Jangan bahas itu, ku mohon." batin Dona, yang tak karuan rasanya.