Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Cobaan bertubi-tubi


__ADS_3

Lila dan Mba Dinar, telah sampai di Apartemen mereka. Mba Dinar izin sebentar, untuk mengganti pakaiannya dengan yang lebih bersih.


"Lila langsung masuk, mau istirahat soalnya." ucap Lila. Jarak apartemen mereka, hanya beberapa meter saja. Terhalang oleh tembok yang tebal. Lila berjalan pelan, dengan terus mengelus perutnya yang mulai aktif dengan beberapa gerakan.


"Permisi," ucap seorang pria yang ada di belakang Lila.


"Ya, ada apa?"


"Ini, ada paket untuk Mba Lila. Katanya, dari Mami Dona." ucapnya, dengan memberikan sebuah paket.


"Oh, terimakasih, Mas." ucap Lila, membawa paket yang entah isinya apa. Ia masuk ke dalam, dan langsung membukanya.


"Wow, vitamin ibu hamil. Mahal ini," gumam Lila, melihat-lihat semua isi di dalamnya. Sebuah minuman sehat untuk Ibu hamil, Lila tahu itu adalah minuman mulitivitamin mahal yang di impor dari china. Ia pernah melihat, ketika Ia mencari info tentang kehamilan.


" Thanks, Mami." ucapnya dengan begitu bahagia. Karena Mami Dona yang memberinya, Ia pun tak segan meminumnya sebotol, dan langsung menghabiskan nya. "Ah, seger banget. Besok, Mas Iam suruh beliin yang banyak deh."

__ADS_1


Lila meregangkan ototnya sejenak, lalu mengganti pakaiannya untuk segera tidur. Ia menggantinya dengan daster yang biasa Ia pakai. "Ngantuk nya kebangetan. Biasanya ngga sengantuk ini." gumamnya. Ia mengambil bantal guling, lalu memeluknya dengan begitu nyaman.


***


"Mas, aku ke tempat Lila dulu. Biasanya, jam segini dia cari makanan." pamit Dinar, pada sang suami. Iwan tengah mendapat libur hari ini. Ia pun istirahat sejenak, dan menikmati santainya dirumah yang langka Ia dapatkan.


"Salam, buat Lila." ucapnya, yang tengah duduk santai dengan TV nya.


Mba Dinar keluar. Membuka pintu dengan kunci cadangan yang Ia pegang. Ia mencari Lila hingga mengintip ke kamar, dan di lihatnya Lila tengah tidur dengan begitu lelap.


"Ngga makan dulu, La?" panggilnya. Tapi Lila bergeming, sama sekali tak menjawabnya. "Ah, sudah begitu lelah rupanya." Ia pun menutup pintu kamar itu kembali, dan pergi membereskan seluruh ruangan yang ada. Tak lupa, mencucikan beberapa pakaian kotor milik keduanya


Mba Dinar menyibakkan selimut Lila. Dan betapa terkejutnya, ketika melihat banyak darah di atas tempat tidurnya. "Astaghfirullah, darah? Seger banget. Baru keluar sepertinya." Ia pun mengguncang-guncangkan tubuh Lila sedikit kuat. Tapi, Lila juga tak bangun dari tidurnya.


"La, bangun. Kamu abis makan apa, sih?" air mata Mba Dinar akhirnya tumpah, berusaha menolong Lila dengan segala cara.

__ADS_1


"Engga! Ngga bisa. Harus di bawa ke Rumah sakit. Bisa bahaya." Mba Dinar segera berlari sekuat tenaga. Ia memanggil Iwan yang sedang ada diapartemen mereka.


"Mas! Tolong, Mas. Lila, Mas." tangisnya semakin menjadi-jadi.


"Hey, kamu kenapa? Kenapa nangis? Lila kenapa?" Iwan memegangi kedua bahu Istrinya, dan menghujam begitu banyak pertanyaan.


"Aku, aku ngga bisa banyak omong. Tapi, ayo tolong Lila. Dia berdarah, banyak banget."


Mata Iwan terbelalak Ia segera berlari mendahului Dinar. Beberapa tetangga pun menatapnya dengan penuh rasa heran, namun belum berani bertanya begitu banyak.


"Astaga, Lila! Kamu kenapa?" panggil Iwan. Ia segera mendekat, dan menggendong Lila untuk membawanya keluar.


"Kita ke Rumah sakit. Kamu beritahu Iam mengenai Lila. Bagaimanapun keadaannya, dia harus tahu yang sebenarnya."


"I-iya,". Mba Dinar langsung memanggil Iam saat itu juga, dengan terus mengikuti Iwan dari belakang.

__ADS_1


Mampir ya gaes. 🙏🙏



__ADS_2