Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Bahagialah, demi diri kita sendiri


__ADS_3

"Sayang, semuanya udah. Aku, berangkat dulu, ya?" ucap Iam. Tapi, tangan Lila menahan lengannya agar tetap di tempat. "Cerita dulu," pintanya. Iam meraik sedikit bagian celannya ke atas, lalu berjongkok di depan Lila.


"Apa?" tanyanya. Menatap Lila dengan begitu dalam, menandakan ketika Ia siap diberondong pertanyaan oleh istri nya.


"Papa kenapa? Sakit? Karena apa?"


"Papa, kan memang sakit jantung. Karena memang usianya udah segitu, jadi wajar sering kumat." ucap Iam dengan tenang.


"Tatapannya sama Lila, Mas. Kelihatan, benci banget. Lila mau cium tangan aja ngga bisa. Kenapa?" Lila tampak begitu sedih. Mereka kini duduk di sebuah lorong Rumah sakit di dekat apotek. Mba Dinar tengah mencari minum, karena Lila memintanya. Itu alasan, agar Ia dapat menahan Iam pergi darinya.


"Hey, jangan fikirkan itu. Ingat, kamu ngga boleh stres, dan harus selalu ceria."


"Ceria dengan penuh rahasia? Ada berapa, rahasia yang Mas simpan dari Lila? Cerita, Mas. Lila ngga bisa di giniin. Kalau kemarin, Lila bener-bener ngga tahu, itu wajar. Tapi sekarang? Lila justru tenggelam dalam semua rasa penasaran. Ngga enak, Mas. Sesak." Lila memegangi dadanya dengan erat. Air matanya nyaris tumpah, untung Iam segera menyekanya agar tak semakin banjir.


" Darimana, aku harus cerita?" tanya Iam, beralih duduk di sebelah Lila, dan meraih tangan mungilnya untuk Ia genggam.

__ADS_1


" Mulai dari Papa." pinta Lila. Iam menghela nafas, dan menyandarkan bahunya di dinding belakang.


"Waktu kamu masuk Rumah sakit kemarin, Aku sempat emosi dan beradu argumen sama Papa. Dan itu, buat jantung Papa sakit. Akhirnya dia dirawat. Udah sembuh, tapi harus tetep kontrol."


"Kenapa berantem sama Papa, hanya demi Lila? Ngga boleh, Mas. Itu Papa kandungmu. Kalau dia meminta, Lila akan....."


"Hey, jangan pernah ucapkan kata itu," Iam membekap mulut Lila. "Sekalipun, jangan pernah ucapkan, meski hanya main-main."


"Maaf," ucap Lila, tertunduk lesu.


"Itu makanya, Mas ngga biarin Lila keluar rumah? Dan tak mengizinkan, mereka menjenguk Lila?"


"Ya, itu salah satu alasannya. Maaf, terkesan mengekang. Setelah anak kita lahir, kita akwn pindah ke rumah baru. Disana, kamu akan semakin aman." ucap Iam.


Lila meraih tangan Iam, lalu mengecup telapak tanhannya. Dada Iam bergetar dengan sangat hebat, meraih dan memeluk tubuh Lila seketika."Maaf, andai aku jujur dari awal." kecupnya.

__ADS_1


"Lila, ini minumnya." Mba Dinar datang dengan semua pesanan Lila.


"Iya, Mba. Makasih. Pulang yuk, Lila capek." ajak Lila, setelah meneguk minuman itu.


"Kalian pulanglah, aku akan pesankan taksi. Aku, pergi kekantor dulu. Sudah banyak pekerjaan menunggu." ucap Iam. Lila merapikan dasinya, lalu membiarkan Iam kembali pada pekerjaannya.


"Ayo, Mba." gandeng Lila pada perawatnya itu.


Satu masalah terungkap, Lila sedikit lega. Setidaknya, setelah ini Ia tak akan meminta perhatian mertuanya lagi. Ia tak akan, mengharap lagi kasih sayang dari orang yang terang-terangan membencinya.


"Karena mengharap kasih dari orang yang membenci kita itu, berat dan menyakitkan." fikir Lila.


"Kita fokus pada diri kita ya, sayang. Mama akan menjaga kamu, hingga kita bertemu." usap Lila pada perutnya.


"Sebentar lagi," sambung Mba Dinar, yang juga gemas melihat kegembiraan Lila saat ini.

__ADS_1


__ADS_2