
"Ma, yang dikatakan Iam itu benar. Dan jika Mama mau bertahan disini, itu semua harus atas izin Iam." ucap Papa Wira.
Oma Nia mencebik bibir, sedangkan Shandy terus memperhatikan Iam dalam senyum penuh obsesinya.
"Jika mau tinggal, silahkan tinggal. Tapi, jangan pernah anggap ini rumah kalian sendiri. Dona akan menjadi pengawas kalian." Iam membuat peraturan.
"Padahal, baru saja aku ingin baik. Tapi ada saja penemuan ku, dan membuatku tak mood hari ini. Aku pergi."
Iam memanggil Lila agar segera turun. Ia kemudian menggandengnya keluar dari rumah itu.
"Mau kemana?"
"Pergi, kemana aja Lila mau."
"Tapi...."
"Patuh, Lila."
"Iya, Mas."
Iam memasukkan Lila kedalam mobilnya, bahkan tanpa sempat mengucapkan sepatah katapun pada mereka. Dan Iam masuk, begitu kesal hingga membanting pintu dengan kasar.
__ADS_1
"Astaghfirullah..." Lila sampai tersentak karenanya.
"Mau kemana?" Iam menyalakan mobil dan mulai berjalan.
"Pantai."
Lila spontan menjawab, karena melihat Iam yang tampak begitu suntuk saat ini. Fikirnya, dengan mengajak ke pantai yang memang tak terlalu jauh, itu akan sedikit menghibur hatinya.
Untuk sedikit meredakan amarah, Lila menggelendot manja pada Iam. Mengusapkan kepalanya bak seekor kucing yang tengah mencari perhatian tuannya. Nyatanya berhasil. Iam mengelusnya dengan sedikit senyum di bibir manisnya yang menggemaskan.
***
"Mas Wira, sudah jujur sejak awal. Semuanya, bahkan kepemilikan harta keluarga."
"Lantas, kenapa masih menikahi dia? Akan dapat apa, kamu nantinya? Sudah tua, tak punya apa-apa. Kenapa ngga sama Iam aja dari kemarin?"
"Dona tulus, sama Mas Wira." jawab Dona, dengan terus menundukkan kepalanya.
Dulu, sang Mama meminta nya mendekati Papa Iam, agar hidupnya lebih terjamin, di banding dengan anaknya yang masih labil. Dona sebanarnya tak terlalu menuruti permintaan itu.
Tapi, lambat laun memang tumbuh rasa dihatinya terhadap pria itu. Serasa nyaman, tenang, dan selalu terlindungi ketika bersamanya. Siapa sangka, perasaan itu terbalas, dan akhirnya memberanikan diri untuk menikah meski Iam harus sakit karenanya.
__ADS_1
"Kak Iam buat Shandy aja. Ribet ngga masalah."
"Jangan macam-macam, kamu. Iam sudah menikah." ancamnya pada sang Adik.
"Lah, kenapa? Banyak kok, pasangan berpisah. Apalagi, mereka nikah karena One night stand. Aman lah." Percaya diri Sahndy begitu tinggi tampaknya..
"Mba sendiri yang akan menghalangi kamu, Shandy." sergah Dona.
Shandy tampak tak menghiraukan. Justru memainkan bibirnya penuh ejekan untuk Dona. Dona yang kesal, menghentakkan kakinya lalu pergi keluar meninggalkan mereka semua dari kamar itu. Tak perduli apapun lagi, hanya ingin menenangkan diri di kamarnya.
"Kenapa, sayang?" tanya Papa Wira, yang fokus dengan laptopnya.
"Mama jahat, Mas. Kenapa masih saja bersikap seperti ini padaku. Padahal, aku sudah berusaha menuruti semua ucapan mereka." curhatnya.
Papa Wira menghampirinya. Mengusap bahu sang istri agar sejenak lebih tenang saat ini.
"Maaf, telah memberikan mu beban seberat ini. Aku yang sudah tak begitu sempurna, merasa hanya menambah beban untuk hidupmu. Mulai dari Iam, dan sekarang Mama."
"Aku ngga pernah menuntut apapun, Mas. Bersama seperti ini saja, sudah begitu membahagiakan. Apalagi ketika Iam dapat menerima ku sebagai Ibu sambungnya."
Sebuah doa yang memang sering Dona ucapkan, meski masih belum juga terkabulkan. Begitu sulit untuk sebuah penerimaan dalam hubungan mereka, yang sejak awal menimbulkan prahara yang memang sulit diselesaikan.
__ADS_1