
Beberapa kecupan mendarat di pipi Lila. Ia pun terbangun, dan menatap Iam memainkan hidungnya dengan begitu gemas.
"Mas, udah bangun daritadi?" tanya Lila, masih bertahan dalam dekapan suaminya.
"Ya... Mau bangunin kamu, tapi ngga tega."
"Ehmm, Lila masak dulu, ya? Nanti telat. Kan mau pergi."
Iam justru mendekapnya lebih erat dari sebelumnya. Seakan tak ingin jika Lila pergi sejengkalpun darinya.
"Bentar, disini dulu." bisik Iam.
Lila hanya diam, menerima semua yang diberikan Iam padanya. Sesekali Ia membalas, dengan memainkan hidungnya yang mancung sempurna itu.
Hari semakin terang. Lila memaksa untuk lepas dari cengkraman suaminya. Ia segera menuju dapur untuk memasak sarapan mereka berdua.
"Nasi goreng aja, ya? Yang simple." tanya Lila, sembari mengikat rambut panjangnya dengan asal.
Iam hanya berdehem, kemudian pergi ke kamar untuk membersihkan diri. Ia pun keluar setelah siap dan rapi.
"Lila, mandi dulu apa makan dulu?"
"Ya, maunya Lila gimana? Mandi aja dulu, Aku tunggu disini."
__ADS_1
"Owh, oke..." larinya dengan cepat.
Iam memainkan Hpnya, memberitahu sang Oma akan kedatangannya kesana. Tapi, belum memberitahu mengenai pernikahannya dengan Lila. Ia ingin memberi kejutan, meski mungkin sang Papa telah menceritakan semuanya.
"Mas, udah." Lila datang, dengan menggunkan setelan celana cream dan kemeja pink. Rambutnya pun telah rapi Ia ikat, dengan poni selamat datang yang menambah manis wajahnya.
"Hey cantik. Ayo, sarapan. Oma sudah menunggu disana." sambut Iam.
Mereka pun menyantap sarapannya, lalu bersiap menempuh perjalanan jauh mereka. Tampak, aura tegang dari Lila kali ini. Lagi dan lagi, pasti Ia takut dengan penolakan yang sudah beberapa kali Ia terima.
"Tenanglah, Oma itu baik, sangat baik." Iam menggenggam tangan Lila.
Lila menghela nafas panjang, dan mencoba menenangkan dirinya. Ia kemudian menyandarkan kepapanya di bahu Lim yang bidang. Terasa begitu nyaman, dan Lila menggengam lengannya erat seperti ketika memeluk bantal guling di rumahnya.
***
Tiba di sebuah desa kecil. Masih begitu asri dengan pemandangan sawah di sekelilingnya. Iam memarkirkan mobil, di sebuah rumah yang masih sangat tradisional bangunannya. Meski tampak, telah banyak perubahan di sana sini.
"Ayo, turun." ajak Iam.
Lila masih diam, wajahnya sedikit pucat dan tangannya gemetar.
"Hey, kenapa?"
__ADS_1
"Deg-degan..." jawab Lila, yang justru terbayang sang Papa mertua.
"Ngga papa, ayo masuk. Atau, mau di gendong?" tawar Iam, dengan membungkukkan badan.
Lila menggeleng, lalu perlahan keluar dari mobilnya. Bahkan, Iam lah yang membawakan tas nya karena Lila sampai lupa membawanya sendiri.
Iam menggandeng Lila masuk, perlahan tapi pasti menaiki tangga rumah panggung itu.
"Oma, Oma..." panggil Iam.
Dan seorang wanita renta pun keluar. Tampak sudah begitu tua, tapi masih sanggup berlari menghampiri sang cucu dan memeluknya erat. Bahkan, mengecupi pipinya sampai tertinggal noda merah bekas menyirih disana..
"Cucuku, sayangku, sudah sebesar ini." ucapnya bahagia.
Iam mencium tangannya, dan Lila dengan sepontan mengikutinya kemudian.
"Oma, ini Khalila." ucap Iam, memperkenalkan istrinya.
"Pacar? Cantiknya..." puji sang Oma, yang juga memeluk Lila.
"Lila... Istri Iam." ucapnya jujur.
Sang Oma tampak syok, Ia bahkan nyaris roboh gara-gara kaget. Untung saja, Iam segera meraih tubuhnya yang kurus itu.
__ADS_1
Iam kemudian membawanya ke sofa, dan menidurkannya disana.