Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Kapan pindah ke rumah baru?


__ADS_3

"Aku merindukanmu, sangat merindukanmu." ungkap Iam dengan segala hasratnya. Begitu ganasnya, hingga meninggalkan tanda-tanda cinta nya di tubuh Lila.


"Kamu harus memakai pakaian tertutup nanti." bisik Iam. Lila hanya mengangguk, menatapnya dengan bahagia karena dapat kembali melayani suaminya seperti sedia kala. Maski Ia harus merintih kesakitan, ketika Iam membawa tubuh mereka untuk menyatu.


Desaahan demi desaahan mengisi kamar mereka. Keringat yang bercucuran pun mengalir dari dahi Iam, menetes ke tubuh Lila, dan membuatnya semakin terlihat eksotis. Tangan Lila di gengamnya erat diatas kepalanya, dan Iam bebas menjelajah tubuh itu sesuka hatinya. Tak perduli, berapa kali saja Lila menggelinjang dengan teriakan yanh begitu seksii terdengar di telinga Iam.


Lila melepaskan tangannya dari cengkraman suaminya, lalu mengalungkannya di leher Iam. Meraih bibirnya untuk menahan desaahannya mungkin akan semakin kuat setelah ini. Dan benar saja, bahkan Lila mencakar punggung Iam hingga meninggalkan bekas merah disana.


Iam membaringkan tubuhnya dengan nafas terengah-engah, usai mereka sama-sama saling melepaskan cintanya. Terkulai lemah dengan menggenggam dan mengecupi tangan Lila terus menerus tanpa henti.


"Pesta jam berapa?" tanya Lila. "Sebentar lagi, ayo mandi." ajak Iam, membantu Lila bangun dari ranjangnya. Masuk berdua ke kamar mandi, dan saling menggosok tubuh satu sama lain. Bahagia dengan canda dan tawanya yang lepas.


Lila kini tengah berdiri di depan kaca. Memasang dress yang akan Ia pakai ke pesta. Dress panjang, sesuai dengan yang di pilih Iam untuknya, karena untuk menutupi bekas cinta mereka barusan.


Sreeeet! Iam membantunya menarik resleting yang ada di bagian belakang. "Terimakasih," ucap Lila dengan begitu manis. Iam hanya tersenyum, dan duduk di kursi sembari menunggu istrinya siap dengan segala ecesorisnya.

__ADS_1


Tiba-tiba, Lila duduk di pangkuannya dengan sepasang anting yang panjang. "Pasangin dong," pintanya manja. Iam segera menurutinya, dan memasangkan kedua anting itu dengan cepat dan tepat.


"Apalagi?" tanya Iam. Dan Lila mengambil sepatunya. "Ini?" tunjuknya pada Iam.


Iam menepuk pahanya, dan Lila membawa sepatu itu pada pangkuan Iam. Menaruh kakinya diatas dan Iam memasangkan sepatu untuknya. Sepatu hitam, dengan tali yang dilingkarkan di betisnya. Tak lupa, Iam memberi kecupan disana.


"Sudah?" tanya Iam, dan Lila hanya mengangguk dengan cerianya. Mereka bergandengan keluar apartemen, turun kebawah menuju mobil mereka.


"Kita kapan, pindah ke rumah baru?"


"Pembantu?"


"Ya, begitulah. Kamu ngga akan bisa mengurusnya sendirian." ucap Iam.


"Seberapa besar rumah itu? Sampai Lila ngga bisa urus?"

__ADS_1


"Lebih besar dari rumah utama, milik Papa."


"Hah! Gede banget! Ngga mahal? Kan sayang duitnya."


"Aku lebih sayang dengan kamu." jawab Iam singkat. "Tak usah perdulikan apapun. Terima yang ku beri, dan nikmati. Biar aku yang mengurus, bagaimana bisa mendapatkannya." colek Iam di dagu sang istri. Ia pun mendahului Lila yang bengong karena tingkahnya, lalu membukakan pintu mobil untuk sang istri.


"Eh, ayo... Kok malah bengong."


"Eh, iya." ucap Lila, lalu berlari menghampiri suaminya.


Perjalanan sedikit jauh, karena malam minggu biasanya macet di jalan utama. Hingga Iam harus sedikit memutar memilih alternatif jalan yang lain.


"Telat dong, kalau begini. Mas sih, malah aneh-aneh dulu."


"Mana ada aneh, itu wajar tau. Kan puasanya lama. Itu aja kurang." kedip mata Iam. Lila hanya melotot, dan menyilangkan kedua tangan di dadanya.

__ADS_1


__ADS_2