
"Siska, apa jadwal hari ini?" tanya Iam pada sang sekretaris.
"Ada beberapa rapat pak, dan...."
"Apa?" Tanya Iam, pada jawaban Siska yang terputus.
"Bapak tidak melihat Papa Bos sama sekali? Beliau mempertanyakan Anda melalui saya. Katanya, terlalu takut menelpon Bapak, karena pasti sedang fokus pada Ibu." jawab Siska, berbicara dengan begitu hati-hati, agar Iam tak kembali terpancing amarahnya.
"Masih bisa menghormati, rupanya. Mau apa dia?" senyum Iam sinis.
"Saya tak tahu, Pak. Saya juga tak ingin mencampuri urusan ini. Maaf," sesal Siska. Tak lama kemudian, Hp Siska pun kembali berdering. Ia mengangkat, dan memberanikan diri memberikannya pada Iam.
"Pak, jawablah." bujuknya dengan sangat. Iam hanya menghela nafas, dan menjawab telepon itu meski dengan laundspeaker.
"Hallo?" jutek Iam. Ia serasa enggan mengucapkan kata-kata, hingga harus keluar dengan segala tekanan yang ada.
__ADS_1
"Iam? Kamu kah itu? Syukurlah, akhirnya kamu menjawab telepon papa." gembiranya Pak Wira. "Ada apa?" tanya Iam padanya.
"Iam, bagaimana dengan Lila? Apakah, sudah membaik?" pertanyaan yang akhirnya muncul untuk sang menantu.
"Kenapa? Anakku sudah tidak ada. Baru Papa tanya. Menyesal?" ledek Iam. Papa Wira justru terdengar menangis dari kejauhan sana.
"Kemarin, aku menangisi jenazah bayiku. Dia bahkan belum sempat melihat dunia karena perbuatan kalian. Sekarang, apa gunanya Papa menangis?"
"Papa bersumpah, Iam. Papa ngga ada sangkut paut apapun dengan masalah ini. Semua itu rencana Shandy, yang memang ingin membuat Dona pisah dengan Papa. Papa tak tahu menahu semuanya, Papa mohon." tangis Papa Wira semakin menjadi.
Iam memijat dahinya. Ia pun sakit mendengar semua itu. Tapi, jika sang Papa sedari awal tak melayani mereka, pasti ini tak akan terjadi.
"Papa ingin bebas? Tapi Papa tak akan pernah bisa kembali kemari lagi. Hanya itu syaratnya."
"A-apa maksud kamu? Kamu, mau buang Papa kemana?" tanya Papa Wira, yang kaget dengan pernyataan Iam.
__ADS_1
"Tak membuang. Hanya mengembalikan Papa, pada yang lebih berhak."
"Apa?" lirih Papa Wira, memicingkan mata di sela waktunya yang semakin habis untuk bicara. "Tiga menit lagi, Pak Wira." tegur sang penjaga padanya.
"Ba-baiklah," jawabnya dari ruang telepon. "Iam, tolong jelaskan, apa maksud kamu. Siapa yang akan menjemput Papa?" tanya nya lagi. Tapi, Iam terlanjur menutup telepon itu segera.
"Iam! Jawab Papa, Iam! Apa maksud kamu?"
"Pak Wira! Jangan buat keributan!" sang penjaga segera menjemputnya, dan membawanya kembali ke ruangan.
Iam kembali fokus pada Siska, "Sudah siap semuanya?" tanya Iam.
"Mungkin, sebentar lagi sampai. Apa tidak istirahat dulu dirumah, Pak?" tanya Siska.
"Ya, bawa dia kerumah. Biarkan dia istirahat. Setelah itu, biarkan Ia menjemput putranya. Membawanya ketempat dimana Ia tumbuh dimasa sulitnya. Agar ingat, bagaimana sulitnya menjalani hidup. Itu yang dikatakan nenek padaku."
__ADS_1
Siska mengangguk, lalu undur diri dari hadapan Bosnya. Tak lupa meninggalkan beberapa berkas untuk segera diperiksa.
" Maaf, karena aku hanya menuruti apa yang Papa mau. Semua ucapan Papa benar. Mama akan sedih, dan perusahaan akan tercemar. Maka, hukuman pengasingan akan lebih tepat untuk Papa." batin Iam, yang begitu berat melepas Papanya untuk kembali ke tangan sang nenek yang jauh di kampung sana.