
Bel berbunyi, Lila pun melihat keluar melalui celah yang ada. Dan segera membuka pintunya, ketika tahu jika Sang Ibu datang menghampirinya.
"Ibu, kok dateng?" tanya Lila.
"Iam, belum pulang?" tanya Bu Marni, yang perlahan masuk ke dalam apartemen putrinya.
"Belum, duduk dulu, Bu. Lila ambilin minum."
Bu Marni duduk di sofa mewah itu, memperhatikan seluruh ruangan yang terdesign dengan sangat rapi dan mewah.
"Ada apa, Bu?" tanya Lila, sembari memberikan secangkir teh hangat pada Ibunya.
"Bapakmu...."
"Ya, Bapak semalam menginap disini, dan...."
"Kenapa memberinya uang sebanyak itu? Apa ngga kasih tahu, kalu Bapak itu..."
"Udah, Bu. Lila berkali-kali kasih, tahu. Tapi, Mas Iam tetap pada pendiriannya. Ibu tenang dulu, nanti kita tanyai lagi ke Mas, tentang perjanjian yang mereka buat."
Bu Marni hanya memicingkan mata. Lalu Ia diam sembari meminum tehnya. Lila duduk, memainkan jari-jarinya yang panjang, menahan segala rasa tak enak hati.
"Bu... Lila hamil."
"Kamu serius? Sejak kapan?"
"Lila ngga tahu sejak kapan. Tapi, dari yang Lila inget, memang Lila belum haid selama pernikahan."
"Udah kasih tahu Iam?"
__ADS_1
Lila menggelengkan kepalanya, dengan kepala tertunduk.
"Apapun, bagaimanapun. Ini hasil dari kalian berdua. Syukuri, dan jaga dia sebaik mungkin, Lila."
"Iya, Bu. Lila, akan usahakan sebaik mungkin."
Lila dan Ibu duduk sebentar di sana. Bercengkrama mengenai kisah kehamilan Lila kala itu. Kisah rumitnya mengandung, tapi harus tetap bekerja dengan keras. Apalagi, kondisi Pak Hari yang seenaknya keluar masuk kerja. Membuatnya begitu stres pada masanya.
"Kamu bersyukur, dan harus lebih bersyukur lagi dengan kondisi yang sekarang."
"Iya, Bu."
***
Rapat selesai, waktunya Iam pulang dari rapatnya. Ia begitu semangat berlari dan menaiki mobilnya.
"Semangatlah, kan mau ketemu Ayang. Makanya nikah, biar bisa merasakan sensasinya." balas Iam, dengan menjulurkan lidahnya.
Siska mencebik kesal, menatap kelakuan bocah dari Bosnya itu.
Tiba dirumah, Iam langsung masuk dan memanggil Lila. Dan tak lama kemudian, Lila keluar menyambut dan langsung melompat ke dalam gendongan suaminya itu.
"Masss," Lila menenggelamkan wajahnya ditengkuk leher Iam.
"Hey, kenapa? Sakit?"
Lila menggeleng, dan Iam membawanya langsung ke kamar mereka. Dan Lila turun perlahan dari gendongan itu.
"Lila kenapa? Ada mau sesuatu? Astaga, aku lupa beliin makanannya." Iam menepuk dahinya.
__ADS_1
Lila hanya menggeleng manja, dan memainkan jari-jarinya di atas dada Iam. Membuatbya bergidik geli, lalu menangkap lengan sang istri.
"Hey, kenapa sih? Kok aneh?"
"Mas, Lila masih pengen pacaran." ucapnya manja.
"Lah, iya, terus? Kan memang kita lagi pacaran."
Lila beranjak, mengambil sebuah benda di dalam nakas. Lalu, Ia memberikannya pada Iam.
"Ini...." ucap Lila, sembari menundukkan kepala dan memainkan kakinya di lantai.
Iam membuka kotak itu, memperhatikan sebuah benda kecil dengan Dua garis merah yang Ia genggam. Seakan tak percaya, Iam bahkan mengucek matanya berkali-kali.
"Lila, ini punya Lila?"
"Iya, Lila cek tadi. Dan itu hasilnya. Lila ragu, karena siang. Kan harusnya pagi-pagi. Tapi....."
Tanpa aba-aba, Iam mendekap Lila dengan begitu erat. Hembusan nafas dan jantungnya terasa lebih cepar dari biasanya. Mengusap rambut Lila, bahkan terdengar tangisan darinya.
" Mas, nangis?"
"Bagaimana aku tidak menangis? Aku sangat bahagia, bahkan tak mampu mengekspresikannya dalam bentuk yang lain."
Iam kemudian meraih wajah Lila, menatap, dan mengecupnya bertubi-tubi dengan penuh rasa cinta.
"Terimakasih, aku akan menjagamu lebih baik lagi setelah ini."
"I-iya..." jawab Lila, yang kembali jatuh dalam pelukan Iam.
__ADS_1