Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Semua mambicarakan Lila


__ADS_3

"Lila mandi, dan dandan yang rapi." pinta Iam.


"Mau kemana?"


"Ikut ke kantor. Aku akan perkenalkan kamu dengan semua staf disana."


"Hah? Tapi...."


"Takut Papa?" toleh Iam.


Lila hanya mengangguk, lalu tertunduk.


"Dia tak akan berani menyakitimu, disana." ucap Iam, sembari menegakkan wajahnya.


Meski lagi-lagi di dera rasa ragu, Lila pun menuruti apa yang Iam mau. Ia segera mandi setelah menyiapkan sarapan, Ia pun segera mandi dan memakai pakaian formal dengan rapi.


Lila tak begitu pandai berdandan, hanya karena tuntutan pekerjaan membuatnya bisa memoles wajah ala kadarnya. Dres cream formal Ia pakai, dengan rambut Ia ikat separuh dan membiarkan sisanya terurai panjang. Ia pun memakai lipstik merah merona, agar semakin terluhat segar pada penampilannya itu.


"Begini?" tanya Lila, yang keluar dari kamarnya.


"Oh, istriku. Kamu cantik sekali." puji dan colek Iam dengan gemas.


***


Ini kali pertama, Lila diajak ke perusahaan keluarga Iam. Perusahan besar dengan begitu banyak karyawan di dalamnya.

__ADS_1


Ia fikir, Ia akan menjadi istri yang tersembunyi. Namun rupanya salah. Iam akan dengan bangganya mengeskpose dirinya ke publik, dan memperkenalkan sebagai istrinya yang sah. Meski Ia tahu, akan banyak pertanyaan muncul setelah ini.


"Mas, Lila mau ke kamar mandi."


"Ke atas aja, di ruanganku?"


Lile menggeleng, "Udah ngga tahan. Mungkin karena nerveus."


Iam tersenyum, memaklumi kondisi Lila saat ini.


"Kamu lurus, belok kiri dari sini. Diujung sana." tunjuk Iam.


Lila segera berjalan, bahkan setengah berlari menahan segala rasa yang ada. Sedangkan Iam, menunggunya di lobi agar dapat naik bersama sang istri.


"Mau nemenin ke kamar mandi, nanti di kira Bos cabul." gumamnya.


*


Ia segera keluar dari biliknya, lalu mencuci tangan dan merapikan dandanannya.


Disanalah, terdengar beberapa orang tengah membicarakan dirinya.


"Pak Iam, bawa istrinya kesini?"


"Ya, katanya."

__ADS_1


"Hm, denger-denger, baru kenal beberapa hari, udah mau diajak nikah?"


"Biasanya, One Night stand gitu. Kan banyak kasusnya. Tapi, biasanya yang gitu ngga awet. Apalagi, kalau hasil jebakan gitu. Atau malah, karena pemerkosaan."


"Iya, kan terpaksa jatuhnya. Ngga trauma apa?"


Mereka saling bersahutan, berucap dengan statementnya masing-masing. Merasa paling tahu, dan berhak untuk menilai hidup seseorang.


Lila berusaha tenang, menarik nafas panjang berdiri diantara mereka.


"Lain kali, berdoalah yang baik-baik. Karena jika kamu mendoakan orang lain yang buruk, itu akan berbalik pada diri kalian sendiri." ucap Lila.


Mereka menoleh, sedikit terkejut dengan adanya Lila di samping mereka. Apalagi, melihat penampilannya yang begitu anggun dan mempesona. Bahkan, salah satunya meraih Hp dan melihat sebuah foto.


" Astaga... "ucapnya, ketika sadar akan siapa yang Ia temui.


Lemas, lunglai, dan seluruh tulang terasa hilang persendian karena gugup dan malu. Untung saja, Ia tak langsung pingsan dan membuat heboh seisi kantor. Sedangkan Lila, hanya diam dan berjalan keluar dengan anggun, menghampiri sang suami yang begitu setia menunggunya.


"Hey, kok lama?"


"Maaf, ada insiden kecil tadi."


"Kamu kenapa?" tanya Iam.


"Ngga papa. Lila sehat kok. Yuk, ngga sabar lihat ruang kerja suamiku." gandeng Lila dengan mesra.

__ADS_1


Mereka menaiki lift, dan ada beberapa karyawan disana. Iam mulai memperkenalkan Lila dengan mereka. Terkesan lebay, ketika Iam membanggakan istri hebatnya. Tapi, itu suatu bentuk kasih sayang Iam untuknya.


__ADS_2