
Usai berbelanja, Iam mengajak Lila makan di sebuah cafe tempat mereka parkir.
"Pernah makan disini juga?"
"He'em..." angguk Iam.
"Sama Mami?"
"Lilaaa..." tegur Iam.
"Semua kenangan memang berkaitan dengan dia. Tapi kami kemanapun bersama yang lain. Lala, Raja, dan yang lain. Mau membuang semua kenangan pun begitu sulit. Gimana? Pindah kota?"
Lila menggeleng, masih dengan es kelapa muda dalam pangkuannya.
"Ngga usah membahas dia lagi karena apapun. Tanya tentang dia sebagai istri Papa."
"Mami?"
"Lilaaaa..."
"Mas masih berat panggil dia Mami?"
"Udah Lila, kesel lama-lama." lirik Iam dengan tajam.
__ADS_1
Lila hanya tertawa, sembari memainkan wajah Iam yang kusut. Menatap matahari yang mulai tenggelam di langitnya yang jingga. Begitu indah, dengan segala peluk manja yang Iam berikan padanya.
*
"Mam, Kak Iam sama Kak Lila ngga bisa di hubungi." ucap Aul, yang terus mencoba menelpon Iam.
"Mereka dimana?" Dona tampak gelisah. Pasalnya, mereka pergi dalam keadaan emosional. Dan Ia merasa amat bersalah dengan segala keadaan.
"Mereka pergi berdua, sudah suami istri. Mau kemana juga bebas." sahut Oma Nia.
"Kata Mama benar. Mau kemanapun, Iam punya tempat tinggal, yang layak. Menginap di hotel pun, tak masalah." sambung Papa Wira, yang lahap dengan makan malamnya.
" Mam, udah lah. Mami makan aja dulu, nanti kalau ada balasan Aul kasih tahu. Okey?"
Dona pun duduk dan makan bersama yang lain. Andai tak ada kericuhan, pasti mereka tengah berkumpul begitu ramai, dan bersenda gurau satu sama lain.
"Mau menyalahkan siapa? Karena lagi-lagi, aku yang salah dalam hal ini." batinnya ngilu.
"Shandy dan Mama tidur di bawah. Dikamar tamu." ucap Dona, pada kedua benalu itu.
"Ngga mau. Shandy udah terlanjur nyaman di kamar Kak Iam. Mama aja tidur dikamar bawah." sergah sang adik.
"Terima, atau pergi." tegas Dona.
__ADS_1
"Kakaaak, kenapa gini sih? Ish, ngeselin."
"Dirumah ini, mereka punya tempatnya masing-masing. Apalagi Iam dan Aul. Tempat mereka, tak pernah bisa diganggu gugat oleh siapapun."
"Makasih, Mam." ucap Aul, yang memang sedikit takut akan kehadiran kedua orang itu.
Oma Nia dan Shandy hanya bisa menghela nafas panjang dan kasar. Mau tak mau harus menerima, apalagi mereka baru datang disana.
"Tapi nanti, aku akan dapat lebih dari ini." isi fikiran Oma Nia adalah dapat menjadi Nyonya di rumah itu. Menikmati segala fasilitasnya dengan mudah.
Ia fikir, dengan menikahkan Dona dengan Papa Wira, semua itu akan dinikmati dengan mudah. Nyatanya tidak. Dona malah semakin tegas dengannya, dan tak menurut seperti dulu.
"Benar, atau hanya mencari muka di hadapan Wira? Awas kamu, Dona."
Shandy pun membereskan pakaiannya. Begitu juga dengan kamar Iam yang telah Ia buat berantakan. Dengan dengusan nafas kesal, dan tampaknya begitu berat beranjak dari kamar besar itu. Menggerutu, bahkan mengucapkan sumpah serapah untuk sang Kakak.
"Shandy, eh Tante, kalau capek istirahat aja. Biar Aul yang selesaikan semuanya." tegur Aul yang menghampirinya.
"Tante, Tante... Loe kira gue setua apa? Kita seumuran!"
"Lah, kan... Mami Dona, Kakanya Tante. Jadi, pas dong panggilnya?"
"Aaarrrkh, menyebalkan. Jangan sampai Loe panggil gue Tante di kampus. Awas Loe!" ancam Shandy pada gadis itu.
__ADS_1
Aul hanya diam, tertunduk dan mengangguk. Ia sebenarnya tak terlalu lemah. Hanya saja, Ia menghargai mereka sebagai keluarga Maminya.