Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Begitu bahagia


__ADS_3

Hasil USG telah di print. Bu Marni memotret nya dengan Hp Lila, dan mengirimkannya pada Iam. Sementara Lila tengah mendengarkan arahan dan semua yang dikatakan dokter padanya.


"Itu anakmu, tapi belum kelihatan, cewek apa cowok." ucap Bu Marni, pada sang menantu.


Iam yang tengah berada di kantor, menerima pesan itu dan langsung melihat fotonya. Hatinya bergetar hebat, tak kuasa menahan haru yang teramat dalam.


"Loh, Bapak kenapa?"


"Siska, coba lihat ini," Iam dengan bangga menunjukkan foto itu pada sang sekretaris.


"Ini....?"


"Iya, ini calon anak saya. Hebat kan, saya?" puji Iam pada dirinya sendiri.


"Wuih, selamat ya, Pak. Akhirnya, kecebongnya jadi juga." ledek Siska.


"Kecebong, asal aja kalau ngomong. Udah, terusin kerjanya."


"Lah, yang manggil kesini kan, Bapak."


"Eh iya, lupa. Mana berkasnya? Saya mau kerja malah diajak ngobrol."


Siska hanya memanyunkan bibirnya. Kesal pada sang Bos, tapi Ia juga bahagia ketika melihat Bosnya itu bahagia.

__ADS_1


Mereka kembali fokus bekerja, dan Iam terus menyalakan Hpnya. Memajang foto calon bayi mereka sebagai penyemangat lebih hari ini. Siska hanya menggelengkan kepalanya, lagi dan lagi.


***


"Bu, ayo pulang." ajak Lila, pada sang Ibu yang menunggunya di luar.


Bu Marni langsung berdiri, menggandeng tangannya dan keluar dari ruangan itu.


"Apa katanya?"


"Bagu, Bu. Mulai sekarang, Lila harus sering istirahat katanya. Jaga stres, dan jangan terlalu banyak fikiran."


"Ya, semoga memang Bapakmu ngga pernah kembali lagi untuk mengganggu kita."


***


Pak Hari masih duduk santai, dengan secangkir kopi di rumahnya. Hidupnya tampak mewah untuk beberapa hari ini. Makan enak, semua serba dilayani dengan baik oleh istri dan anak tirinya yang cantik. Begitu nikmat.


"Pa, minta duitnya dong. Duit segitu banyak, minta Sepuluh juta juga, ngga ilang banyak."


Lidia, sang anak tiri yang usianya sepantaran Lila.


Pak Hari langsung berdiri, dan mengambil uang yang telah Ia tarik cash itu di kamarnya.

__ADS_1


"Mau buat apa? Meski enak dapetnya, tapi kita harus hemat. Itu uang buat usaha Bapak."


"Lah, besok minta lagi sama Lila. Lebih banyak bila perlu. Lidia dan Ibu siap bantu kok. Kita baikin aja mereka, kan gampang tersentuhnya."


Lidia hanya mengulur senyum, lalu berlari menaiki taksi yang Ia pesan. Tak perduli, apa yang akan terjadi dengan apa yang Ia rencanakan. Sedangkan Pak Hari hanya duduk, seketika teringat isi perjanjian itu.


" Isinya apa, ya? Kenapa ngga dibaca baik-baik? Mana ada bawa-bawa polisi lagi." fikirnya, dengan mengusap dagu yang mulai berkerut itu.


"Pa, belanja dong. Isi kulkas udah abis nih. Sesakali belanja sekalian banyak, boleh dong. Nanti, Mama cari info ruko yang ada di pasar."


"Yaudah, ambil di laci uangnya. Jangan sampai lupa, sekalian Mama tanyain harganya."


"Siap, Papa." cubit sang istri pada Pipinya.


Pak Hari kembali santai, tanpa mengecek kembali uang yang istrinya ambil. Begitu percaya, begitu cinta dan tergila-gila. Tanpa sadar, itu membutakan hatinya selama ini.


"Ke pasarnya jangan kelamaan, nanti Papa kelaparan."


"Iya, Pa." jawab Sang istri, berjalan kaki untuk mencegat ojek langganannya.


Sedikit lama menunggu, Pak Hari lelah dan masuk untuk beristirahat di kamarnya. Tapi, Ia melihat lacinya masih terbuka. Ia menghampiri, dan rupanya isi laci telah terkuras habis.


" Astaga, uangku!" pekiknya, dengan kaki lunglai dan kepala berkunang-kunang.

__ADS_1


__ADS_2