
Seharian, Iam dan Lila berada dirumah Papa Wira. Membereskan kamar Iam yang berada di lantai atas berdua. Sedangkan Aul dan Mami Dona, menyiapkan makan malam untuk mereka semua. Makan bersama yang selama ini di rancang, tapi selalu ada saja halangan untuk di laksanakan..
Seluruh pakaian, isi lamari, dan bahkan tatanan ruangan. Semua dirubah sesuai mau nya Lila. Iam hanya menuruti, dan menjadi tukang untuk angkat barang bagi sang istri.
"Iiiih, fotonya." ucap Lila, tatkala menemukan sebuah album foto di kolong tempat tidur Iam yang mewah.
"Apa itu, sayang?" Iam penasaran, dan menghampiri Istrinya yang cemberut menahan cemburu.
Ya, itulah foto-foto Iam bersama para sahabat. Dan tentunya, Mami Dona ada diantara mereka. Di sebuah foto, tampak Iam begitu intens memperhatikan sang pujaan hati. Tampak begitu tulus dan penuh harap padanya.
"Hey, ini kan foto lawas. Kenapa cemberut?"
"Tapi, kalau di inget-inget, cemburu juga rasanya." Lila melipat tangan di dadanya.
Iam hanya tertawa, membuka lipatan tangan itu. Tapi, Lila menepisnya. Dicoba berkali-kali, masih juga Lila kekeuh dengan pendiriannya.
"Cemburu? Kayak gitu kok, mau tinggal disini? Malah bakal ketemu setiap hari 'kan?" ledeknya.
"Masss... Tapi nyesek. Tapi, pengen deket. Lila harus gimana? Bingung." Lila melepas sedekapnya, lalu memainkan jari-jarinya.
__ADS_1
"Yaudah, maunya gimana? Kan Lila yang ajak kesini."
Iam menarik tangan Lila, dan membawanya duduk diranjang. Tepatnya, duduk diatas pangkuannya.
"Mau pulang, apa nginep semalam lagi? Tadi garang, kenapa sekarang manja lagi?" colek Iam di hidung Lila yang bangir.
Lila melingkarkan lengan di leher Iam, kemudian menempelkan dahinya disana.
"Untuk rasa, sama sekali sudah ngga ada. Apalagi dalam hal suka, atau bahkan cinta. Meski, untuk memanggilnya Mami, itu masih begitu berat di lidah ini."
Lila hanya mengangguk, tetap dengan posisi itu dan memejamkan mata. Mungkin sedang manahan rasa, yang berkecamuk di dalam dada. Seperti yang sering Ia katakan, jika Ia bisa melawan orang yang menyukai Iam. Tapi, Ia tak bisa melawan orang yang Iam sukai. Apalagi, dalam keadaan seperti ini.
"Lila, kenapa suka sekali begitu?"
"Nyaman, Mas." ucap Lila dengan begitu manja.
"Tapi... Aaah, yang tertekan berbeda."
"Apanya?" Lila mengangkat kepala, dan menatap sang suami dengan wajah yang tampak gelisah.
__ADS_1
"Ehm, itu... Pulang yuk?" ajak Iam.
"Kenapa pulang? Mami sama Aul udah siapin makan malam loh. Ngga enak, kalau gagal lagi."
Iam tak kuasa. Ia pun hanya diam, lalu tangannya meraih dagu lila dan memangut bibir sensualnya. Mungkin, seperti baru saja tersengat oleh listrik tegangan kuat. Begitulah kira-kira.
Lila tak membalasnya. Bahkan beberapa kali ingin menolak. Ia malu, jika harus melakukan itu disana.
"Nanti, ada yang datang."
"Lalu? Ini kamarku, dan sudah ku kunci. Kenapa takut?"
"Takut dengan suara......"
Iam meraup rahang Lila, dan melumaatnya kembali. Tak perduli, dengan apa yang dikatakan Lila padanya. Tangan Lila mulai aktif, menekan tengkuk leher Iam, agar memperdalam aktifitas mereka bertukar saliva.
"Kau, menikmatinya? Apakah, takutnya hilang?"
Lila hanya mengangguk, tanpa melepaskan bibirnya dari Iam. Hawanya semakin panas, apalagi Ia mengenakan sweater tipis ditubuhnya. Iam membantu melepaskan sweater itu, dan membuangnya sesuka hati.
__ADS_1
"Lain kali, jangan memancing. Aku, sama sekali tak bisa kau pancing seperti itu. Kau diam saja, aku sudah tak karuan rasanya." ucap Iam, dengan tangan yang semakin aktif melucutti pakaian Lila satu persatu.