Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Lila akhirnya pulang ke rumah.


__ADS_3

"Dokter, apa syaa sudah boleh pulang?" tanya Lila, ketika Visit pagi di lakukan.


"Ya, hari ini sudah boleh. Tapi ingat, harus bedrest total selama beberapa minggu. Jangan sama sekali lakukan pekerjaan berat." balas sang dokter padanya. Lila hanya mengangguk, dan tersenyum tanda setuju.


"Dokter, saya perawat pribadi Ibu Lila. Bisa beritahu saya, apa saja yang tidak boleh dilakukan, dimakan, atau yang lainnya mengenai terapi dirumah?" sambung Dinar, yang menghampiri mereka.


"Untuk itu, mari ikut saya, Bu." seorang perawat lain meminta nya ikut bersama ke sebuah ruangan. Sedang saat itu, Iam masih membersihkan dirinya di kamar mandi. Dan segera keluar setelah urusannya selesai.


"Mas, katanya Lila boleh pulang hari ini." sambut Lila dengan senyum gembiranya. "Benarkah, baguslah kalau begitu. Ibu dan Aul ngga usah kesini lagi, tandanya." ucap Iam. Padahal, Aul juga tengah sibuk mengurs Papa nya di Rumah sakit sebrang sana.


Iam pergi untuk mengurus administrasi, dan Dinar datang dengan segala ilmu baru untuknya. Ia siap, dengan segala bekal dan peralatan yang akan Ia gunakan untuk Lila nanti.

__ADS_1


"Itu, apa, Mba?" tanya Lila, yang perlahan merapikan dirinya sendiri dalam posisi duduk. "Ini? Alat-alat buat perawatan, nanti. Ngga banyak, cuma beberapa perlengkapan aja." jawab Dinar, menghampiri Lila dan membantunya berbenah.


Dinar meraih kursi roda yang ada disana. Membantu Lila pindah tempat dan duduk disana, untuk menunggu Iam datang. "Loh, udah siap?" tanya Iam. Terkejut melihat Lila sudah begitu rapi di tempatnya..


"Udah bosen, pengen pulang kerumah." rengeknya manja. Iam mengambil sisir dan menyisiri rambut Lila, sedangkan Dinar membereskan semua barang mereka untuk di bawa pulang.


"Udah, Mas. Tinggal pulang, kan?" tanya Dinar, yang membawa tas besar milik Lila. Tanpa terasa, sedikit demi sedikit, bawaan mereka sudah sebanyak itu.


"Ya, ada apa? Ada yang Lila mau?" tanya Iam. Lila menggeleng, tapi matanya menatap ke seluruh sudut ruangan yang ada. "Papa sama Mami, ngga ada jenguk Lila sama sekali, ya?" tanya nya.


Iam tersentak, menghentikan langkahnya sejenak. Ia mengubah haluan ke hadapan Lila. Berjongkok dan sedikit menaikkan celananya dari pinggang. "Kenapa? Kok nanya mereka?" tanya Iam padanya.

__ADS_1


"Lila cuma nanya. Kok ngga ada jenguk Lila? Papa, ngga kenapa-kenapa, kan?" tanya nya penasaran. Iam menggeleng, dan meraih wajah Lila yang penuh tanya itu. "Perusahaan, sedang banyak sekali kegiatan. Dona dan Papa, sedang mewakili tugasku disana. Nanti, kalau selesai, mereka akan datang ke apartemen kita. Mereka janji."


"Hmm, alhamdulillah, kalau sehat. Lila cuma kepikiran aja, takut Papa sakit. Soalnya, semper lihat Papa cemasin Lila, kamarin."


"Ya, Papa sehat." Iam kembali berdiri, dan mendorong kursi roda Lila untuk menuju mobil mereka. Berjalan pulang menuju appartemen, dan naik menuju kediaman ternyaman mereka saat ini..


"Welcome home, Baby." sambut Iam, membuka pintu apartemen mereka.


"Aah, akhirnya sampai. Lila rindu kasur kamar kita." jawabnya, dengan merentangkan tangannya pada Iam. Pria itu langsung menyambutnya, dan menggendong sang istri menuju kamar. Lalu, merebahkannya dengan nyaman disana.


"Ibu, ngga kesini juga?" tanya Lila lagi.

__ADS_1


"Ibu, katanya lagi sibuk. Toko sedang ramai, dan melatih pegawai barunya. Lila sabar, ya? Nanti sore, Ibu kesini." bohong Iam. Padahal, Bu Marni tengah menemani Pak Hari yang sedang dalam masa observasi di Rumah sakit jiwa.


__ADS_2