Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Apa Bapak siap, punya adik lagi?


__ADS_3

Lila keluar, dengan sekantung sampah yang Ia seret karena berat. Bukan hanya sampah biasa, tapi Ia juga membawa beberapa baju bekas yang akan Ia letakkan diluar. Berniat ada orang yang membutuhkan memungutnya.


Syuuuttzzz... Seorang meraih satu kresek dari tangan Lila. Ia begitu kaget, hingga tersentak ke dinding di belakangnya.


"Astaghfirullah..."


"Hey, tak perlu kaget. Aku hanya ingin membantumu."senyum Iwan padanya.


Lila hanya diam, ragu untuk menjawab. Di lingkungan apartemen, memang tak seperti di tempat Ibunya. Tapi, sekali menjadi bahan gunjingan, maka akan menjadi musuh selamanya.


" Maaf, saya bisa sendiri." Lila berusaha merebutnya balik.


"Ngga papa, Cuma ke depan. Aku sekalian berangkat kerja."


"Oh, iya..." Lila hanya mengangguk, sembari menoleh kanan kiri. Hanya merasa risih, jika nanti akan banyak orang yang berprsangka buruk.


Keduanya telah tiba di luar. Lila meminta kantung sampahnya kembali, tapi Iwan kekeuh untuk mengantarnya hingga sampai di tempat tujuan.


"Sini, sekalian ku lempar."


"Ah, engga. Ini mau di bagiin ke yang lebih membutuhkan." jawab Lila.

__ADS_1


"Apa?"


"Ehm, cuma baju bekas. Ngga ada yang istimewa."


"Oh, bolehkah meminta beberapa?"


"Untuk?" Lila memicingkan matanya.


"Di kantor, kadang masuk pedagang gorengan. Masih muda, mungkin pakaian itu cocok."


Tatapan itu tampak meyakinkan. Karena alasannya jelas, akhirnya Lila memberikan beberapa pasang pada Iwan. Pria itu, membawanya dengan senang hati masuk ke dalam mobilnya. Ingin bertanya lebih lanjut, tapi takut menganggu aktifitas. Hingga Lila membiarkannya pergi setelah itu.


Lila menunggu sejenak. Awalnya, Ia ingin meletakkan nya disana. Tapi Ia takut, justru tak sesuai sasaran nantinya. Ia sendiri membagikannya dengan beberapa orang yang lewat. Pemulung, pengamen, dan banyak lagi yang sekiranya sesuai dengan pakaian itu.


***


"Pagi, Pak. Segar sekali tampaknya?" goda Siska pada Bosnya.


"Ya, apalagi? Bangun tidur di temani ayang, makan ditemani ayang, mandi, ganti baju pun dilayani ayang. Sungguh nikmat tiada tara."


Siska hanya tersenyum kecut. Menggelengkan kepala melihat kebucinan sang Bos. Ia pun segera memberikan dokumen penting padanya. Berusaha memanfaatkan moodnya yang baik, agar bekerja dengan penuh semangat tanpa terlalu banyak memberi omelan.

__ADS_1


Terdengar suara langkah kaki. Dua orang, mendekati ruangannya. Telinganya bergerak, memahami siapa yang datang. Ya, Papa dan Dona. Tak mampir, karena ruangannya melewati ruangan Iam.


"Mami Bos, makin cantik aja."


"Hah?"


"Aura keibuannya, makin kelihatan."


"Dia hamil?"


"Siapa?"


"Kok kamu balik nanya ke saya, Siska?"


"Oh, Mami Bos? Engga, belum hamil. Emang, Bapak siap punya adik lagi?" goda Siska.


Iam hanya mendelik, mengacak-acak rambutnya. Tak terbayang, jika Ia benar akan memiliki adik lagi. Apalagi, adik itu dari Dona.


"Aaarrrghhh! Semakin rumit hidupku." gerutunya.


Iam sudah tak perduli lagi dengan Dona atau pernikahannya dengan sang Papa. Yang Ia fokuskan adalah, agar perusahaan itu akan tetap berada di tangannya. Bukan serakah, Ia hanya ingin tetap menjaga hak Mamanya.

__ADS_1


" Kalaunpun memiliki adik, yang juga akan menjadi pewaris. Maka, Aku juga lah yang akan membaginya. Tak ada pindah tangan, atau apapun disini. Iam berjanji dengan Mama."


Iam menatap foto Mamanya, yang terpajang rapi di ruang kerja. Matanya, sikapnya, mirip dengan Lila. Hanya saja, Lila lebih polos. Mungkin, karena tak terlalu bebas bergaul dengan dunia luar. Hanya fokus bekerja, dan mengurus Ibunya.


__ADS_2