
"Uangku! Uangku mana? Aaaaarrrrrrggghhh!" Pak Hari berteriak sekuat tenaga. Berlari keluar rumah dan mencari-cari istrinya yang baru saja pergi.
"Rikaaaaa! Rikaaaa! Mana uangku, Rika! Pulang kemari."
Pak Hari keluar sampai ke halaman. Tampangnya linglung, menatap ke seluruh arah tapi kosong entah kemana arah tujuan yang akan Ia datangi. Hingga seorang tetangga datang menghampirnya, "Pak Hari mau kemana?"
"Rika? Rika mana? Dia bawa uang saya?" tanya Pak Hari, yang hanya memikirkan uang nya untuk saat ini.
"Lah, kan namanya istri ya harus di nafkahin. Emang duitnya berapa?"
"Dua ratus juta, tambah... Lima puluh juta," jawabnya gagap. Sang tetangga hanya memicingkan mata, dan memberi mosi tak percaya padanya. Mereka tahu, bagaimana Pak Hari, yang hanya mampu meminta pada mantan istrinya.
"Pak, Bapak kalau pusing, pulang terus istirahat. Jangan kemana-mana, nanti nyasar." ucap sang tatangga padanya. Apalagi, melihat kondisinya yang begitu pucat dan seperti orang linglung. Khawatir, jika nanti terjadi sesuatu padanya.
"Saya mau cari Rika, sama Lidia. Mereka bawa uang saya."
"Nanti saya bantu cari, deh. Tunggu aja, kan katanya ke pasar. Kalau ngga pulang, baru kita cari."
__ADS_1
"Uang saya! Kamu tahu uang saya! Itu banyak, uang saya semua."
"Ah, gila," Tetangga Pak Hari akhirnya kesal, dan meninggalkannya sendiri di jalanan. Dan Pak Hari tetap berdiri diam ditempatnya. Melamun, dan menatap kosong ke segala arah. Hinga akhirnya pulang setelah Ia lelah.
***
"Hallo, Mas, ada apa?" tanya Lila, yang menjawab telepon suaminya. Biasanya Iam tak pernah menelpon jika sore, karena memang Ia sudah akan pulang. Tapi kali ini berbeda, Iam menelpon hanya untuk bertanya, Lila ingin apa sebagai oleh-oleh kepulangannya.
"Apa, ya? Lila belum pengen apa-apa, nih? Masih ada Ibu dirumah, jadi minta masakin aja langsung."
"Oke, bentar lagi Aku pulang. Tunggu di rumah, ya? I love You."
"Bu?" panggi Lila, menghampiri sang Ibu yang tengah memasak.
"Ada apa?"
"Kalau istri hamil, biasanya suami gimana?"
__ADS_1
"Kok nanya gitu? Kenapa?"
"Ya, tanya aja. Karena otomatis, Lila ngga akan bisa melayani suami seperti biasa."
"Kamu takut, Iam protes? Atau, Iam perlahan menjauhimu?" tanya Bu Marni, yang tengah asyik memotongi bayam di tangannya.
"Lila, Iam itu pria baik. Ibu bisa lihat itu. Jangan hanya karena pengalaman pahit Ibu, jadi kamu yang trauma akan pernikanan. Itu ngga baik, Nak, hindari itu. Akan membuatmu stres, dan dipenuhi rasa takut. Perlakukan Iam seperti biasa nya kamu bersamanya. Iam pasti mengerti, jika kamu tengah lelah atau dengan alasan lain."
Lila memutarkan jarinya di atas gelas. Melihat wajahnya sendiri yang terpantul di kaca gelas itu, yang tampak sayu. Ya, memang pengalaman sang Ibu membuat ketakutan sendiri di hatinya. Bukan karena Iam yang akan pergi, tapi pasti akan banyak penggoda diluar sana.
Pintu dibuka, Iam masuk dan langsung di sambut Lila dengan pelukan hangatnya. Seperti biasa, Iam pun mengecupnya dengan lembut ditambah mengusap perut sang istri.
"Hey, gimana hari ini?"
"Ngga gimana-gimana. Masih enak aja, ngga manja, ngga ngidam, dan ngga rewel."
"Ya, padahal pengennya kamu manja. Biar aku bisa melayani semua keinginan ngidam mu yang aneh-aneh. Seru sepertinya." goda Iam.
__ADS_1
"Emang, ngga repot?"
"Engga, malah menyenangkan menurutku."