Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Aku hanya ingin ramah, Mas.


__ADS_3

"Huaaammzzz!" Aul menggeliatkan tubuhnya.


Ia segera mencari Iam dan Lila, yanh menghilang dari pandangan. Bahkan, suaranya pun tak terdengar.


"Opps, Sory..." Aul kembali menutup pintu, ketika kedua sejoli itu tengah bermesraan.


"Lanjutin aja, Aul ngga lihat kok." pekiknya dari luar.


Iam membuka pintu, kemudian keluar dari kamarnya. Menatap sang adik dengan tatapan tajam, dan menaik turunkan alisnya yang tebal.


"Apa?" tanya Aul.


Tuiing! Sebuah tonyoran mendarat ke dahinya.


"Ngga sopan, masuk kamar orang sembarangan."


"Kan, Aul ngga sengaja. Belum terbiasa. Ya maaf." tunduknya.


Lila punĀ  ikut keluar dan melerai mereka. Ia segera menyiapkan meja makan, dan menghidangkan semua makanan disana.


"Lila sendiri yang masak?" tanya Iam.


"Iya, Mas. Lila ngga tahu, kesukaan Mas apa aja."


Iam mengangguk, lalu mengambil satu persatu lauknya. Ia pun melahapnya dengan begitu nikmat. Tak hentinya, Ia memuji sang istri, sama seperti Aul yang selalu memujinya.

__ADS_1


"Aul pulang, ya? Papa sama Mami, pasti udah nunggu."


"Ngga nginep?" tanya Lila.


"Ah, engga dulu. Nanti aja, kalau udah dapat keponakan."


Lila melotot seketika. Untung saja, Iam pun tak tersedak dengan makanannya.


"Mas, boleh bungkusin makanan buat Papa?" tanya Lila.


"Ngga usah. Mereka bukan orang yang kekurangan makanan. Bagi saja ke orang kurang mampu. Itu akan lebih baik." ucap Iam, dengan nada sedikit keras.


Lila langsung diam, dan terduduk lesu. Aul pun tak berani berkata apa-apa, dan Ia keluar lagi tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Untung Iam telah menyelesaikan makan malamnya. Ia segera menghampiri Lila dan mengusap air mata yang sedikit jatuh di pipinya.


"Aku, hanya tak ingin kau kecewa. Apalagi, jika makanan yang kau berikan di buang olehnya. Aku kenal Papaku, Lila."


"Maka dari itu, Lila juga ingin kenal, Mas." sergah Lila.


"Tolong, jangan meminta itu untuk saat ini. Aku, hanya ingin kita saling mengenal sekarang. Saling memahami satu sama lain."


Lila mengangguk, dan menghetikan tangisnya. Ia sebenarnya bukan gadis yang manja. Tapi, dalam kondisi seperti ini Ia memang sensitif. Seorang istri sah, yang bahkan belum dianggap oleh sang papa mertua. Membuatnya begitu tertekan.


" Katakan, Lila mau kemana malam ini?" tanya Iam.

__ADS_1


"Kemana?"


"Ya, anggap saja aku mengajakmu kencan. Bagaimana? Nonton mau?" tawar Iam.


"Boleh?"


"Tentu... Apa yang tidak buat kamu. Segera bersiap, aku menunggumu disini." coleknya di hidung sang istri.


Lila dengan segala semangat, masuk ke kamar dan mengganti pakaiannya. Lalu Ia keluar lagi dengan pakaian, yang menurutnya sudah rapi dan bagus. Tapi, sepertinya tidak menurut Iam.


" Lila jelek?"


" Kamu cantik. Hanya saja, pakaianmu itu yang kurang menarik. Kita tunda nonton, dan mari kita belanja." rangkul Iam padanya.


"Lah, tapi itu, anu... Baju Lila masih banyak."


"Berikan pada yang lebih membutuhkan. Istriku, harus menjadi wanita yang sempurnya." ucap Iam.


Ragu, tapi Iam ingin yang terbaik untuknya. Lila memang sudah lama sekali tak berbelanja pakaian baru. Mungkin hanya ketika idul fitri, itupun hanya beberapa. Ia fokus menabung, berusaha keras melanjutkan kuliahnya.


Ia pun sekarang bingung, akan melanjutkan atau tidak. Ketika Ia harus kembali meminta restu pada sang suami.


"Harus bagaimana? Bahkan jika aku harus bekerja lagi, aku siap." fikirnya.


Hanya tak ingin merepotkan untuk yang kesekian kalinya. Atau bahkan, dianggap memanfaatkan suaminya yang kaya raya itu.

__ADS_1


__ADS_2