
"Bagaimana, Mas? Apakah Iam mau mencabut tuntutan itu?" tanya Mami Dona, yang saat ini ada di hadapannya. Matanya nanar, menikmati semua nasib buruk yang Ia terima. Ia sedari tadi menunggu nya bicara dengan Iam melalui telepon lapas yang waktunya terbatas. Ia tak ingin melanggar aturan, untuk memberikan Hp pada suaminya itu.
"Dia, akan memberikanku kembali pada Ibu. Aku memikirkanmu. Bagaimana nasibmu setelah aku pergi." jawabnya, dengan tertunduk lemas.
"Baru memikirkan aku sekarang? Kenapa tak sejak awal memikirkan aku? Aku sudah memperingatkan, kalau Mas jangan ikut lagi dengan permainan mereka. Bahkan aku sudah mengancam akan pergi. Tapi, kenapa masih juga?" tangis Mami Dona, dengan segala rasa sakitnya...
" A-aku, tak tahu jika, mereka akan sejahat itu. Bahkan, mereka berencana memisahkan kita. Aku tak bisa, aku mencintaimu."
"Cinta! Kamu mencintaiku, tapi tak pernah bisa menghargai cinta orang lain. Sulit dipercaya, Mas." gelengnya.
__ADS_1
Papa Wira masih tertunduk, tak mampu menatap wajah, bahkan mata sang istri yang penuh dengan air mata. "Aku, tak mau diceraikan." pintanya. .
"Tidak, karena setidaknya, anakmu butuh Papanya. Dan... Dengan ini, Iam masih bisa memberi nafkah untukku dan anak ini. Adiknya." jawab Mami Dona. Papa Wira terbelalak, mendengar apa yang istrinya ucapnkan. Tangis pun memuncah, dengan rasa syukur dan sesal yang sama besar menggelanyut dalam hatinya.
Ia turun dari kursinya, merangkak dan bersujud ke kaki istrinya dengan raungan yang sangat keras. Bahkan menjadi bahan perhatian semua orang yang ada disana.
"Aku menyesal! Aku bahkan sangat menyesal dengan semua yang aku lakukan. Andai waktu dapat diputar, aku ingin memperbaiki semuanya. Maaf!"
"Ti-tidak! Kau harus ikut aku. Aku tak mau kita pisah. Kau masih istriku, aku tak mau kita jauh! Berdosa jika kau tak menurutiku."
__ADS_1
"Akibat perbuatan kamu, Shandy dipenjara. Dan Mama, harus dirawat karena stroke, Mas. Aku anaknya, dan aku harus membiayainya. Aku tak mungkin, memakai pemberian Iam untuk mereka. Aku sudah tak punya muka, bahkan hanya sekedar untuk menganggapnya anak sambungku. Aku hancur, Mas." isaknya. "Dan lagi, aku seperti tengah mendapat karma. Karena semuanya begitu bertubi-tubi. Maaf."
Mami Dona beranjak pergi dari suaminya, setelah berdiri dan menepis tangan yang menggenggamnya. Tak perduli, dengan tangis yang Papa Wira keluarkan yang memenuhi seisi kantor itu. Mami Dona terus melaju, dengan mobil yang Ia pinjam dari Iam.
" Maaf, Mas. Aku butuh ketenangan agar tetap bisa mempertahankan anak ini. Bahkan pernah berfikir, menjadikannya sebagai tebusan untuk anaknya yang telah pergi." fikirnya, sembari mengelus perut ratanya.
Mami Dona menyetir mobil itu, dengan kepala yang pusing dan berkunang-kunang. Ia berusaha tetap sampai di kantor, untuk bisa kembali bekerja.
Sangat di sayangkan. Diusia itu seharusnya dimanja dan di beri banyak perhatian. Sayangnya, keadaan berkata lain dari yang biasanya.
__ADS_1
"Harus mandiri, Kembali seperti dulu. Toh, aku sudah terbiasa. Sayangnya, kali ini sedikit berbeda, karena Mami harus ekstra menjagamu." ucapnya. Ia seolah tak ingin perduli lagi pada Ibu dan adiknya, hingga hanya menitipkan Oma Nia di panti jompo. Hanya, Ia harus rutin mengirim uang untuk pengobatan sang Mama yang sedang parah-parahnya itu.
" Lagi-lagi, kembali padaku."