Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Penyesalan yang terlambat


__ADS_3

"Papa!" pekik Iam yang masuk ke dalam ruangan itu. Ia langsung menghampiri Lila, dan memapah tubuhnya untuk kembali duduk di sofanya, tapi Lila teramat lemah. "Mas, ngga kuat." Lila ambruk, tepat dalam pelukan Iam. "


" Lila, sakitmu serius?" panggil Papa Wira yang mulai cemas. Iam hanya menatapnya tajam, tanpa ekspresi apapun. Seperti seorang yang telah mati rasa, dan tak perduli lagi dengan apa yang akan Ia lakukan..


"Sayang, kita ke Rumah sakit, ya? Bertahanlah, demi bayi kita." Iam berusaha membopong Lila. Dan rupanya, ada sedikit cairan merah yang mengalir melewati pahanya. "Astaghfirullah," ucap Iam.


"Mas, kenapa?" tanya Lila dalam keadaan setengah sadar. "Ngga papa, sayang. Aku, akan bawa kamu." ucap Iam. "Duta, ambil kunci mobil, dan segera kebawah."


"Baik, Pak." jawabnya.


"Iam, maafin Papa. Papa hanya...."


"Diam disana, dan renungkan kesalahan Papa. Sampai Papa mengetahui kesalahan, dan meminta maaf pada istri Iam... Iam tak akan pernah mau melihat Papa, dimanapun." ucap Iam tanpa menoleh kebelakang. Ia pun pergi, menyusul Duta yang berlari terlebih dulu kebawah menuju mobilnya.

__ADS_1


" Astaga, apa yang aku lakukan? Kenapa jadi begini?" Papa Wira terduduk lemah di lantai. Dadanya sesak, dan jantungnya begitu sakit hingga Ia harus menahannya dengan sedikit mencengkram bagian dada. Hingga tak lama setelah nya, Mami Dona datang dengan segala rasa cemas di wajahnya.


" Mas, ada apa? Apa yang terjadi barusan?" Mami Dona membawa nya duduk di sofa, dan memberikan pertolongan pertama pada suaminya itu.


"Aku... Aku telah salah lagi. Iam, murka kali ini." ucap Papa Wira, yang terus menghela nafas menormalkan ritme jantungnya.


"Astaga, Mas. Apa lagi yang Mas lakukan kali ini? Aku ngga nyangka, kalau Mas bisa sejahat itu dengan Lila." Mami Dona mendengar sekilas, berita yang ada dari para karyawan disana. Wajahnya seketika pucat, begitu takut dengan amarah Iam yang akan memuncah, lebih dahsyat kali ini.


" Ketika Ia kecewa dengan kita, dia memilih mengalah dan pergi. Tapi, kali ini berhubungan dengan Lila dan anak mereka, Mas. Bersiaplah, kita pun akan ditendangnya dari sini."


***


" Mas?" panggil Lila lemah. " Ya, sayang, Ada apa? Apa masih sakit, yang mana sakitnya?" usap Iam di perutnya.

__ADS_1


"Mas jangan marahin Papa begitu, ngga boleh. Lila juga salah, karena nunda makan karna nungguin Mas, tadi. Jadi, waktu kaget langsung sakit." Lila mengusap Pipi Iam dengan tangan dinginnya. Ia meraih tangan itu, dan mengecupnya berkali-kali dengan air mata yang mengalir begitu deras.


"Apapun yang terjadi setelah ini, tetaplah menjadi Khalila ku yang ceria. Jangan pernah sesalkan, apapun yang terjadi hari ini. Karena, aku akan selalu ada disamping kamu, apapun yang terjadi." ucap Iam padanya.


Tiba di Rumah sakit, Duta langsung menghentikan mobil, tepat di depan ruang IGD. Para perawat berlari dengan brankarnya, dan membantu Lila turun dari mobil mereka. Lalu, membawa Lila langsung ke ruang tindakan untuk mendapat penanganan darurat.


"Maaf, Bapak tunggu disini saja. Kami akan melakukan tindakan yang terbaik untuk istri anda." ucap sang perawat, lalu menutup pintunya.


"Hallo, Pak?" seseorang mengangkat telepon Iam, dari seberang dana.


"Roland, aku minta kau urus perpindahan semua aset perusahaan, atas namaku. Semua persyaratan yang diminta, sudah lengkap, bukan?"


"Ya, Anda sudah menikah, tepat di usia 27 tahun. Dan anda, sudah menjalankan perusahaan dengan baik. Sehingga, semua persyaratan itu lengkap."

__ADS_1


"Ya, lakukan. Tak perduli, dengannya yang harus pergi dari sana." ucap Iam, lalu mematikan dan menggenggam Hpnya dengan begitu kuat.


"Kau bertahan demi apa? Dan aku bertahan demi siapa? Kita sama-sama mempertahankan hak dan milik kita."


__ADS_2