
"Lila kenapa diam? Bukankah, lebih baik jujur?"
"Sayangnya, jujur itu menyakitkan. Sesakit ini rupanya." dada Lipa terasa sesak. Bukan karean cemburu, tapi karena bayang-bayang masa lalu itu begitu dekat pada mereka.
Iam menghentikan aktifitasnya. Menghadap ke Lila dan menggenggam tangannya dengan erat.
"Dia masa lalu. Meski juga adalah sebagian untuk masa depan kita. Karena tak dipungkiri, dia selalu berada disekitar kita hingga nanti."
"Mas, masih memikirkan dia?"
Iam menggeleng. Tangannya menyibakkan rambut Lila kebelakang telinga, " Tidak... Hanya kamu saat ini."
Entah percaya atau tidak. Tapi Lila senang mendengar ucapan itu.
"Aku istrimu, dan Dia Mami tirimu. Ya, aku lebih memiliki hak atas dirimu." ucap Lila lirih.
Iam hanya menatapnya kala itu. Kembali memberi senyum terindah untuknya.
Rutinitas lain yang sering Lila lakukan yakni, menemani Iam bekerja diruang kerjanya. Memainkan Hp dan duduk di sebelah sang suami dengan tetap tenang. Ia tahu, Iam orangnya begitu fokus ketika berhadapan dengan pekerjaan. Meski kadang, Ia ingin sesekali mengganggunya.
__ADS_1
"Ah, capek." keluhnya dengan memijit tengkuk lehernya.
Ia pun bangkit dari tempat duduknya, meninggalkan Iam. Tapi, Iam meraih tangannya dan menariknya dengan kuat.
"Mau kemana?"
"Tidur, Lila ngantuk."
"Ngantuk, atau bosan menemaniku?" tarik Iam, semakin mendekatkan Lila padanya.
Ia memeluk pinggang Lila. Erat, dan membawanya duduk dipangkuannya berhadapan.
Tapi Lila justru menekuk bibir. Wajahnya menunduk murung dengan jari-jari bermain di dada suaminya itu. Menyiratkan, sebuah kegalauan dalam hatinya.
"Kenapa? Lila ngga suka?" tanya Iam, mengangkat dagu Lila.
Lila hanya diam, mengusap dada, naik ke punggung dan mendekap tengkuk leher Iam. Ia pun menenggelamkan wajahnya lagi disana. Mendunduk lagi, dan akhirnya terisak.
"Maaf, Lila manja." dekapnya begitu erat.
__ADS_1
"Mengenai Dona?"
Lila kembali mengangguk,"Lila kira ngga sakit. Ternyata, sakit baget."
"Maka dari itu, tak ku ceritakan sejak awal. Prasangka itu, pasti akan hadir. Meski pada dasarnya, tak ada rasa lagi dariku untuknya."
Tangisan semakin memuncah. Iam hanya membiarkannya hingga Ia puas melepas segala unek-unek yang di rasakan. Sesekali menepuk bahu, untuk menenangkan sang istri yang masih bertahan dalam kepedihan hatinya.
"Menangislah. Setelah puas, anggap semuanya baik-baik saja. Seperti kataku, jika saat ini hanya ada kau."
Sesekali Lila mengusap air matanya. Tapi setelah diusap, maka akan keluar lagi sederas tadi.
Rasa takut akan kehilangan, rasa takut akan sebuah kekecewaan. Pengalaman yang pahit, membuatnya seperti ini. Baru saja membuka hati, di hadapkan lagi dengan kenyataan rumit. Semua rumit bagi Lila, bahkan baru bernafas lega pun, di hadapkan lagi dengan sebuah kenyataan rumit.
Terlebih lagi ketika muncul fikiran, Ia membandingkan dirinya sendiri dengan Dona. Dia yang begitu sempurna, sangat jauh dengan dirinya yang tak memiliki apapun.
Iam terus mendekapnya, mengecupnya dengan begitu lembut. Memberi pengertian agar Lila melupakan rasa takut itu dari sekarang..
"Aku bisa menahan rasa, ketika melihat banyak orang mengagumi, bahkan mungkin mencintaimu. Mudah untuk bersaing dengan mereka. Tapi, aku begitu merasa takut, ketika berhadapan dengan orang yang pernah kau cintai."
__ADS_1
Iam berdiri, mengangkat tubuh Lila dalam gendongannya. Ia membawanya tidur diatas ranjang, lalu memeluknya kembali dengan erat. Hingga Ia tertidur, meski mungkin sulit untuk pulas. Hanya bergerak sedikit, Lila langsung bangun dan menarik tubuh Iam dalam dekapnya, lagi dan lagi.