
"Mas, Lila ngga ikut, ya?" rengeknya, ketika Iam mengajaknya menjemput Papa Wira di Stasiun kereta.
"Lila capek?"
"Engga, tapi...."
"Kalau ngga ikut, ngga papa. Biar aku sama Dona, yang...."
"Ikut.... Lila ikut, tunggu bentar. Lila ganti baju dulu," Lila berdiri dan langsung menuju lemarinya. Mencari pakaian dan hijab yang sesuai untuk hari ini.
"Serius, mau ikut?"
"He'emh, bentar lagi siap." ucap Lila, yang tengah memasang hijab selendangnya.
Iam hanya tersenyum sembari menaik turunkan bahunya. Melihat Lila yang semakin aneh, membuatnya semakin gemas dan samakin bahagia.
"Sayang?" panggilnya lembut.
__ADS_1
"Ya, Lila udah siap nih." Lila merentangkan tangan, dan memamerkan penampilannya yang cantik saat ini.
"Sini," tepuk Iam di pahanya yang duduk diatas sofa mereka. Lila menghampiri, lalu duduk tepat di pangkuan Iam. Tak lupa, mengalungkan tangan di lehernya.
"Apa?" tanya Lila, sementara Iam menciumi hijab yang menutup rambutnya dengan rapi itu. Biasanya, rambut panjang Lila lah yang selalu menjadi sasaran kegemasan Iam.
"Lila cemburu?"
"Engga," geleng Lila.
"Terus? Katanya tadi ngga ikut. Tapi, pas denger nama Dona, langsung berdiri."
Iam hanya tersenyum, dan menggandeng lengan Lila untuk keluar bersama. Menuju mobil dan menuju rumah Mami Dona dirumah besar. Sedangkan Aul, Ia fokus dengan pkerjaannya saat ini. Kinerjanya memang begitu baik, hingga mudah mendapat kepercayaan dari pada koleganya.
Tak perlu menunggu lama. Mami Dona memang telah menunggu mereka sejak tadi. Duduk santai diruang tamu dengan segelas susu di mejanya. Menatap senyum pada anak dan menantunya yang datang.
"Ngga usah turun, biar Mami aja yang kesana." teleponnya pada Lila. Ia pun segera menyandang tas dan menghampiri mereka berdua untuk pergi bersama.
__ADS_1
"Lila, maaf ya, ngerepotin." ucap Mami Dona, pada sang menantu.
"Iya, Mam. Ngga papa. Lila sekalian jalan-jalan. Suntuk, di rumah terus."
"Terus, kalau tiap sore ngajak jalan, itu apa?" lirik Iam, dibalas cubitian Lila di lengannya. "Aakh... Sakit lah." pekiknya.
Mami Dona hanya tertawa gemas melihat keduanya. Tingkah lucu mereka begitu menghibur, apalagi ketika Lila selalu memiliki cara untuk usil dengan suami nya itu.
Mereka kini telah tiba. Tepat ketika kereta pun berhenti sesuai jadwalnya. Tangan Lila menggenggam Mami Dona, dan Tangan Iam menggandeng istrinya tanpa lepas. Tatapan matanya terus mencari, keberadaan Papa nya yang seharusnya juga telah turun dari keretanya.
"Mas!" lambai Mami Dona, ketika melihat suaminya turun. Ia melepas genggaman Lila, dan berlari pelan menghampiri suami dan memeluknya erat. Wajar, karena memang sangat rindu.
"Sama siapa, sayang?"
"Sama Lila, dan Iam."tunjuknya. Mereka pun berjalan bersama, menghampiri Iam dan sang istri yang masih berdiri disana.
" Lila, kenapa?" toleh Iam pada sang istri. Pasalnya, tangan Lila mendadak dingin dan terasa berkeringat. Wajahnya menegang, dan spontan mundur kebelakang, bersembunyi di belakang tubuh sang suami.
__ADS_1
Iam faham, akan perasaan Lila. Dan Ia bergeser ke kanan, agar Lila tak semakin ketakutan.
"Maaf, telah membuatmu takut." sesalnya. Andaikan Ia tak mengajak dan memancingnya, pasti Lila tak akan seperti ini. Tangannya pun terasa bergetar, ketika Papa Wira makin dekat pada keduanya.