
"Siapa tadi?" tanya Bu Murni.
"Biasa, mereka yang suka cari info." jawab Lila, sembari menghitung semua bon yang ada.
"Lila? Bagaimana Iam dengan kamu?" Bu Marni menatapnya sedikit kawatir.
"Bagaimana, maksudnya?"
"Ya, perlakuannya terhadap kamu. Dan, kamu dengan dia?"
Lila menutup buku bon, lalu beranjak menghampiri sang Ibu yang tengah duduk sedikit termenung. Ia menggenggam tangan sang Ibu, lalu menatapnya dengan wajah yang begitu ramah.
"Lila bahkan ngga tahu, bagaimana lagi rasahya bersyukur. Memang, kala itu Lila sendiri takut. Dengan keadaan seperti itu, Lila fikir ini aneh. Tapi ternyata engga. Mas Iam orang nya baik banget sama Lila. Pengertian, selalu menuruti apa yang Lila mau. Dan bahkan, tak pernah memaksa ketika berhubungan."
"Kamu... Ngga hamil?"
"Belum..." geleng Lila. "Apakah, mereka disana sudah menerka-nerka?"
"Ya, seperti yang kamu fikirkan. Mereka membuat perhitungannya sendiri. Memperkirakan, yang bukan hak mereka."
Lagi-lagi dapat. Lagi dan lagi tapi Ia tahu ini akan terjadi. Benar kata Iam, dan untung saja Ia mengajak Lila menikah dengan segera. Karena jika ternyata Lila hamil, maka rasa malu mereka akan lebih parah dari ini.
" Maaf..." Lila nencium tangan Ibunya.
__ADS_1
"Ya, jalani saja. Yang penting, ucapan mereka belum terbukti. Kalaupun tebrukti, ya apa boleh buat. Kita jangan sampai menambah dosa, hanya untuk menutupi dosa yang lain."
Bu Marni menghela nafasnya kembali. Memang baru beberapa hari, dan masih saja terngiang-ngiang dalam ingatan. Berharap, ini segera dapat terlupakan dan segera menatap masa depan yang lebih baik nantinya.
***
" Pak, hari ini ada pertemuan dengan beberapa kolega." Siska membacakan semua jadwal Iam hari ini.
"Jam berapa?"
"Jam Dua siang."
"Ya, atur saja."
"Kenapa dia? Papa mana?" Iam tampak tegang.
"Papa Bos, terapi katanya. Ada jadwal untuk pemeriksaan jantung."
Kepala Iam mengangguk angguk. Setuju, meski mengeluarkan ekspresi datarnya. Seperti, Ia telah mengira hal ini akan terjadi tak lama lagi.
"Ternyata, lebih cepat dari yang ku duga. Cepat juga, cara kerjamu." fikir Iam.
Siska menatapnya aneh, tapi tak ingin menduga-duga. Yang jelas Ia tahu, jika tak akan ada rasa lagi dari Iam untuk Dona.
__ADS_1
"Tapi, pemikiran macam apa itu?" batin Siska.
Proyek baru memang sedang direncanakan. Iam akan sibuk dengan semua itu, termasuk sang Papa. Entah, apakah benar-benar akan diwakilkan pada Dona. Iam hanya menunggu, dan mewaspadai hal terburuk yang kemungkinan terjadi.
" Iam, bisa tolong aku?" Dona tiba-tiba datang ke ruangannya.
"Ada apa? Kenapa tak asistenmu saja mengurusnya." Iam memasang wajah datar padanya.
"Kalau bisa dengan Rumi, aku tak kan menghubungimu. Ini mengenai proyek baru. Bukankan, kita akan rapat bersama sebentar lagi?"
Helaan nafas Iam terdengar kasar. Ia maminta Siska mengambil dokumen yang ada di tangan Dona. Kemudian, membawanya ke hadapan Iam.
Dona duduk di sofa, dan menunggu Iam mengerjakan semuanya dengan baik.
" Kau, masih membenciku?" tatap Dona padanya.
" Untuk?"
"Menganai, pernikahanku dengan Papamu." jawab Dona.
"Aku bahkan sudah tak memikirkannya. Aku hanya ingin sibuk dengan istriku saat ini. Dia, membutuhkan perharian ekstra dariku." jawab Iam.
"Andai kau tahu jika aku akan semarah itu, kenapa kau lakukan? Ataupun jika kau tulus, setidaknya katakan dari awal." imbuhnya.
__ADS_1