Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Terimakasih, Iam


__ADS_3

"Ibu ngga bisa sendiri? Kan ada, layanan taxi khusus perempuan yang bisa menemani belanja hingga selesai. Atau layanan belanja online?"


"Anggap saja, aku sedang mengajaknya berkencan. Kenapa makin lama, makin banyak tanya? Ayo rapat." sergah Iam.


Siska langsung gugup, tapi juga masih dapat mengerjakan semua dengan baik. Ia mengikuti Iam dibelakang, menuju tempat rapat mereka. Dona telah menunggu disana.


" Mana Papa?" tanya Iam padanya.


" Sedang ada pertemuan di tempat lain. Duduk...." Dona menggeser kursi yang ada di sebelahnya.


Bukan karena cari kesempatan, tapi tempat duduk mereka memang sudah diatur sesuai posisi dan jabatan.


"Terimakasih." jawab Iam.


Rapat pun di mulai, dengan semua proposal yang telah ada di meja masing-masing. Mengenai perusahaan baru yang akan Iam kembangkan, yang masih menuai pro dan kontra diantara para dewan perusahaan.


*


"Terimakasih, sudah sudah membantu rapatku hari ini." ucap Dona yang mulai membereskan semua materinya.


"Ini tugasku." Iam menjawab singkat, lalu pergi meninggalkannya seorang diri.


Dona hanya menatap kepergian yang tanpa pamit itu. Menghela nafas, yang kali ini begitu pendek, lalu duduk sejenak menenangkan fikiran.

__ADS_1


"Ibu, ngga papa?" sang sekretaris menghampiri.


"Hanya lemas, dan pusing. Bisa ambilkan saya minum?"


Rumy mengangguk, lalu beranjak. Tapi, Siska telah datang dengan sebotol minuman di tangannya.


"Ini, kasih Mami Bos." ucapnya pada Rumy.


"Terimakasih, Kak." Rumy membawanya pada Dona.


Keadaan mulai membaik. Rumy pun menggandeng Dona meninggalkan ruangan itu. Rasa pengap, dan stres yang berlebih membuat Dona gampang lelah. Apalagi dengan kelakuan keluarganya di rumah.


Andai bisa, Ia ingin lengser dari perusahaan dan mengawasi rumah ketika Mamanya ada disana. Ia begitu khawatir, apalagi dengan Aul, anak tiri kesayangannya.


"Sayang, sudah siap?" tanya Iam, yang telah berjalan menjemputnya.


"Ehmm, Lila malah ketiduran, Mas. Maaf."


"Yaudah, siap-siap aja. Aku mulai jalan sekarang. Aku tunggu di bawah, ya?"


"Iya..." angguk Lila. Ia pun segera bersiap, dan kemudian turun menunggu Iam menjemputnya.


"Lila, mau kemana?" sapa Iwan yang juga keluar bersama Dinar.

__ADS_1


Ingin menghindari mereka, tapi sudah tak bisa lagi. Dan akhirnya, terpaksa lah meladeni mereka berdua.


"Nunggu Mas Iam, mau ajak ke supermarket." jawabnya..


"Lah, kalau mau ke supermarket aja, bisa bareng kita, loh. Kenapa harus antar jemput?" tanya Dinar, yang gandengannya tak dari sang suami.


"Mas Iam yang suruh. Bentar lagi, sampai kok."


"Tuh, dek. Kalau suami kasih perintah tuh diturut. Jangan jawab sama bantah terus. Contoh Lila... Suaminya ngga bolehin keluar, ya dia di dalem aja." Iwan membandingkan keduanya.


Dinar hanya mencebik bibir. Begitu kesal dengan perbandingan itu. Padahal, Ia selama ini pun menuruti apa yang di katakan suami padanya.


"Sifat orang kan, berbeda-beda. Jadi, jangan dibanding-bandingin, Mas. Mba Dinar ngga akan bisa jadi seperti saya, begitu juga sebaliknya." tukas Lila.


Dinas hanya mengangguk, membenarkan apa yang Lila katakan. Sementara itu, mobil Iam telah datang untuk menjemputnya. Saat yang tepat, ketika Lila bingung mengakhiri obrolan mereka berdua.


" Ayo...." Iam membuka jendela, dan meminta Lila masuk. Kemudian pergi, setelah menyapa Pasutri itu.


"Iya, Mas." Lila masuk mobil, lalu segera menutupnya, "Mba, Mas, Lila duluan."


"Ya, hati-hati di jalan." lambai Dinar padanya.


Ia dan sang suami pun menyusul. Memasuki mobil mereka lalu pergi. Tujuannya sama, hingga tak heran jika Iwan seolah membuntuti Iam dan Lila dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2