
"Bagaimana, Lila?"
"Hah, apanya yang bagaimana?"
"Mengenai pembelian saham tadi?" tanya Iam, mengungkit masalah barusan.
Lila tertunduk. Tampaknya berada dalam sebuah kebingungan yang teramat pelik.
"Mas...." panggilnya lirih.
"Ya, ada apa?"
"Papa, tadi pagi ke apartemen. Pagi sekali, Lima belas menit setelah Mas pergi."
Sebenarnya Lila ragu untuk mengatakannya. Ia takut, akan terjadi prahara lagi diantara Papa dan anaknya itu. Apalagi, prahara itu hanya gara-gara Lila. Benar-benar tak enak hati rasanya.
" Dia, bilang apa? Ngga macam-macam 'kan? "
" Hanya bilang, akan mengawasi pernikahan kita. Lila ngga tahu maksudnya apa."
"Jangan dengarkan, nanti kamu bisa stres. Hubungan ini, yang menjalani adalah kita. Menilai dari segi apa, itu bukan haknya."
"Makanya, Mas jangan tergesa-gesa membeli sesuatu untuk Lila. Lila ngga minta kok. Lila, hanya takut di cap matre atau memafaatkan keadaan."
__ADS_1
Iam meraih kepala Lila, dan nengusap rambutnya dengan lembut. Lila pun meminta, agar Iam tak perlu ambil pusing dengan kunjungan itu. Anggap saja, tak terjadi apapun hari ini.
Iam mengantar Lila pulang ke apartemen mereka. Tapi hanya sampai diparkiran. Iam melanjutkan perjalanannya dan kembali kekantor untuk segala pekerjaan yang ada.
"Jaga diri di rumah. Jangan terima siapapun, kecuali Aulia."
"Iya, Mas." ciumnya ditangan sang suami.
***
"Darimana kamu?" tanya Papa Wira, pada putranya yang baru saja tiba.
"Dia melapor? Dasar pengadu..." cibir sang Papa.
"Dia bukan pengadu, hanya istri yang terbuka dengan suaminya. Wajar, karena Ia bingung, sang Papa mertua mendatanginya ketika suaminya tak di rumah."
Papa Wira tersenyum sengit. Ia meninggalkan Iam dan kembali ke dalam ruangannya.
Iam pun demikian, kembali keruangan dan berkutat lagi dengan segala dokumennya. Ia menuruti apa maunya Lila, karena Ia tahu jika Lila dalam keadaan terpojok saat ini.
"Aku, harus membuatnya nyaman dulu. Membuatnya menikmati pernikahan ini. Dia masih canggung, meski sudah berusaha menyesuaikan diri."fikir Iam.
__ADS_1
Menyembuhkan trauma itu memang sulit. Untung saja jiwa Lila tampak kuat, sehingga dapat menyembunyikan itu dari Iam. Tetap tersenyum, dan tetap melayaninya dengan baik.
Seperti saat ini, Lila tengah mengguyur tubuhnya dikamar mandi. Dengan shower yang mengalir dengan deras, membasahinya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Kenapa masih ingat? Kenapa masih sakit jika mengingatnya? Aku sudah berusaha ikhlas, berusaha menerima dia untuk hidupku. Apalagi yang kurang? Dia sudah memberikan semua hatinya untukku. Berhenti Lila! Berhenti menyalahkan diri sendiri atas nasib ini." tangisnya.
Ia merenung sejenak, berusaha menghilangkan rasa trauma itu dari dirinya. Ia berusaha menutupnya dengan segala rasa syukur, dan menerima kasih sayang dari Iam untuknya.
" Berhentilah... Banyak orang yang menyayangimu." ucapnya lagi.
Lila pun mematikan showernya, lalu keluar dari kamar mandi. Mengganti pakaiannya, dan berusaha kembali tersenyum memulai hari. Ia pun menyibukkan diri, dengan mengurus apartemen besarnya itu. Memindah beberapa dekorasi, dan mengganti seprai dikamarnya agar semakin tampak indah dipandang mata.
Dikala hari telah sore, Ia pun bergegas mempersiapkan makan malam untuk suaminya. Ya, hanya itu yang dapat Lila lakukan saat ini. Ia pun tertidur di sofa karena kelelahan dengan segala aktifitasnya barusan.
*
"Bapak, sudah mau pulang?" tanya Siska.
"Ya, rapat sudah selesai 'kan? Saya akan pulang lebih dulu. Besok hari minggu, rencananya ingin membawa Lila ke rumah nenek."
"Oh, baiklah. Selamat berakhir pekan, Pak. Sampaikan salam saya pada Ibu. Bahkan, saya pun belum pernah bertemu dengan Beliau." ucap Siska.
"Ya, tak satupun orang kantor ini tahu tentangnya. Aturlah, kapan acara perkenalan kita." pinta Iam.
Siska hanya mengangguk, den menyanggupi apa yang Bosnya perintahkan.
__ADS_1