Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Kabar bahagia


__ADS_3

Lila kini telah duduk meringkuk memeluk lututnya. Ia sesekali menatap Hpnya, Menunggu kabar dari Iam mengenai Bapaknya. Meski, Ia tahu hasil akhirnya.


"Maaf, Mas. Aku lagi-lagi harus merepotkan mu. Apalagi, menguras uangmu. Kau bilang tak apa, tapi Ia akan kembali dan kembali lagi nanti. Lila tahu, siapa dia." gumamnya.


Ia sesekali mengusap perutnya. Terasa begitu mual, dan kepalanya pun terasa sangat pusing.


" Efek tidur di sofa nih, semalem. Mana ditambah mikirin Bapak, lagi." keluhnya, dengan sesekali memijat tengkuk leher yang terasa berat.


" Eeeeghh, pusing." pekiknya, lalu berguling diatas sofa sendirian.


Tok... Tok.. Tok..


Pintu diketuk. Lila bangun dan melihat keluar, Dinar menghampirinya. Ia yang telah mendapat izin dari Iam, langsung membuka pintu dan menyambutnya masuk kedalam..


"Lila sakit?"


"Hmm, pusing sih. Pucet ya?"


"Iya, kelihatan banget. Minum obat gih."


"Ehmm, Mba Dinar, bisa ngerokin?" lirih Lila.


"Bisa sih, kamu biasa kerokan?"


"He'emh, tolong ya?"

__ADS_1


Dinar mengangguk, lalu Lila mencari uang koin dan minyak angin untuk mengerik punggungnya. Ia membuka baju, dan Dinar duduk di belakangnya untul memulai tindakan.


"Ngga merah, Lila. Udah lah, ngga usah diterusin, malah ngga sehat nanti."


"Tapi enak loh, Mba. Ayolah, dikit lagi. Dikit-dikit aja, yang penting ringan." mohonnya pada Dinar.


Dinar menuruti, dan hanya mengoles-oles minyak angin itu di tubuh Lila. Ia pun curhat, mengenai perasaannya yang tak enak. Mual, dan pusing.


"Eh, Lila udah nikah berapa bulan?"


"Mau, Tiga bulan, Mba. Kenapa?"


"Lila, haidnya lancar?"


Seketika Lila teringat, jika memang Ia belum haid selama pernikahan berlangsung. Hanya saja, Ia memang tengah dalam masa subur, ketika kejadian malam itu.


"Iya, kenapa?"


"Lila, perlu testpack ngga? Lila, belum haid."


"Oh iya, perlu. Sebentar, Mba ambilin testpack Mba dirumah. Sangking pengennya punya anak, Mba beli itu alat Satu box. Tapi, negatif terus. Tunggu dulu disini."


Dinar beranjak dari tempat duduknya, pergi meninggalkan Lila dengan penuh semangat. Sedang kan Lila, hanya diam dengan segala rasa tegang dan gemetar di tubuhnya.


" Benarkah, apa mungkin iya?" fikirannya penuh tanya, hatinya pun penuh harap.

__ADS_1


Tak lama, Diar kembali datang. Ia memberikan testpack kepada Lila. Tak hanya Satu, tapi ada Lima benda di tangannya.


"Mba, banyak banget?"


"Ngga papa, itu barang murah. Tapi, pasti hasilnya efektif. Coba deh."


"Bukanya, harusnya besok pagi?"


"Satu aja, buat sekarang. Nanti, kalau positif, mba antar kamu ke dokter. Apa harus Iam?" goda Dinar padanya.


Lila akhirnya masuk ke kamar mandi, dengan Dua alat di tangannya. Ia mencoba, dan menunggu beberapa menit di dalam.


"Bismillah," Lila mulai mengangkat alat itu, dan melihat hasilnya.


"Mba! Mba Dinar...."


"Ya, ada apa, Lila?"


"Sini! Masuk aja, ngga papa." panggil Lila, dari kamar mandi yang ada dikamarnya.


Lila duduk diatas kloset, menatap hasil yang ada di tangannya. Ia diam, dengan tangan gemetar, dan wajahnya begitu pucat. Sulit untuk menggambarkannya.


"Loh, Lila kok malah diem? Harusnya seneng. Ini hasilnya positif. Lila hamil, dan akan menjadi seorang Ibu." ucap Dinar.


Air mata Lila jatuh tanpa bisa di kontrol lagi. Terharu, begitu bahagia dengan hasil yang ada. Hanya tinggal menunggu Iam pulang, dan memberi kabar bahagia itu padanya.

__ADS_1


" Apa kau akan bahagia, Mas? Aku mengandung benihmu sekarang. Meski sebenarnya, aku masih ingin bermanja penuh cinta berdua denganmu." batin Lila, mengusap perutnya.


__ADS_2