Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Cinta untuk bayiku yang terlelap panjang.


__ADS_3

Dokter membuka pintu. Ia keluar dengan pakaian lengkapnya. Ia sendiri yang keluar, karena semua perawat sibuk mengurus Lila di dalam. Apalagi, Beliau memang dokter sepesialis yang terbiasa menangani Lila selama ini.


"Pak Iam," panggil nya. Iam langsung berdiri, mengusap air mata dan menghampirinya dengan antusias.


"Bagaimana Lila, Dokter?"


"Dengan berat hati saya katakan, jika bayi kalian tak dapat di selamatkan. Bu Lila seperti mengkonsumsi obat tidur yang banyak, hingga Ia terlelap dan tak dapat merasakan sakitnya kontraksi. Dan itu, sangat berbahaya untuk janinnya. Kita tahu sendiri, bagaimana kondisi awalnya."


" Tapi, Lila tak kenapa-napa kan, Dok?"


" Syukurnya tidak apa-apa. Hanya tinggal menunggu dia bangun. Setelah ini, kita akan pindahkan dia ke ruang rawat inap." Dokter menepuk bahu Iam yang tampak begitu kacau. Lalu meninggalkannya untuk kembali menangani Lila di dalam.


"Mas, sabar, ya?" Mba Dinar mendekatinya. "


" Sakit, tapi setidaknya Lila selamat dan aman." ucap Iam."Bolehkah aku meminta bantuan kalian?" tanya Iam, melirik pada Dinnar dan Iwan.

__ADS_1


"Apa yang dapat kami bantu, akan kami lakukan untukmu dan Lila. Katakan," Iwan berjongkok di sampingnya, dengan penuh rasa simpati.


"Setelah ini, jaga Lila untukku. Aku akan memakamkan anakku dengan segala persiapan. Dan... Sedikit lama karena aku harus..."


"Ya, kami tahu. Usut dengan tuntas semuanya." potong Iwan.


"Mas, paketnya ada di atas meja makan. Aku membereskannya tadi." Iam mengangguk padanya, dan kembali mengusap wajahnhya dengan kasar. Raut wajahnya benar-benar kusam, sedih, dam bahkan sakit. Matanya masih memerah, antara marah dan begitu sedih. Tampak beberapa kali menelpon orang, yang entah siapa itu. Dinnae hanya mendukung, dan mendoakan dengan yang Ia lakukan.


"Pak Iam!" panggil seorang perawat padanya. Iam menghampiri, "Iya, sus. Kenapa?"


Deg! Dada Iam begitu sakit. Tubuhnya seketika bergetar dengan begitu hebat, dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Kalau kau tak kuat, biar aku saja." ujar Iwan.


"Tak apa, itu kewajibanku. Ini pertama kalinya, aku melihatnya secara langsung. Meski, kami tak dapat saling menatap." Iam berdiri dan mengusap air matanya. Ia pergi ke toilet sejenak untuk membersihkan diri. "Bismillah," Ia melangkahkan kakinya masuk ke ruangan bayinya.


"Silahkan, Pak. Ini bayinya," Perawat membukakan sedikit kain yang membungkus bay itu. Iam menghampiri, menatapnya dengan air mata yang menganak sungai. "Ya Allah," perihnya.

__ADS_1


Bayi itu masih seperti boneka barbie. Kecil, namun sudah terbentuk dengan sempurna. Rambutnya masih begitu tipis, begitu juga dengan bibirnya. "Kamu, mirip mama mu, Nak." tatap Iam pada bayinya.


"Mari, Pak. Di adzanin," sang perawat membantunya mengangkat bayi itu, dan memberikannya pada Iam.


Dengan terisak, Iam melafadzakan adzan pada putra pertamanya. Begitu sakit, apalagi teringat pada Lila yang masih terbaring lemah disana. "Maaf sayang, anak kita, harus segera di makamkan." Iam memeluk bayinya, lalu membawanya pulang sendirian.


Beberapa sahabat telah menunggunya di apartemen. Raja, Lala, dan yang lainnya. Sedang Alex, datang menjemputnya di Rumah sakit.


"Yang sabar, Ilham." tepuk dan peluknya pada sang sahabat. Iam hanya mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil dengan terus menggendong anaknya yang telah terbungkus dengan kain kafan.


"Bagaimana Lila?" tanya Alex.


"Dia, masih tidur." jawab Iam. "Setelah ini, bantu aku selesaikan urusanku."


"Ya, baiklah. Mereka pun tengah menyelidiki semuanya disana." angguk Alex.

__ADS_1


"Hanya kalian, orang yang dapat ku percaya saat ini. Tak ada yang lain." Iam mengepalkan tangannya dengan segala amarah dan dendam yang ada.


__ADS_2