Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Khalila itu milikku


__ADS_3

"Sayang, belanja nya udah semua?" tanya Iam, yang melihat-lihat isi troly mereka.


"Udah, Mas. Apa ada lagi, yang Mas mau?" tanya Lila. Ia kini tengah memilih beberapa parfum di bagian kosmetik. Dan memilihkan beberapa untuk Iam, beserta semua kebutuhannya yang lain.


"Ini, harum ngga?" Lila memberikan lengannya pada sang suami.


"Enak baunya, ambil aja. Wanginya begitu menggoda," lirik Iam dengan tajam.


Lila langsung mendelik, ketika mengetahui arti lirikan itu padanya. Iam hanya membalasnya dengan tawa yang renyah, seperti biasa.


Agenda selesai. Mereka berdua membayar di kasir. Tapi karena antrean panjang, Iam hanya memberikan dompetnya lalu menunggu di luar. Pastinya, dengan terus menatap layar Hp untuk segala pekerjaannya.


"Hay Lila, ketemu lagi." sapa Dinar, di sela antrian.


"Eh iya, Mba. Udah selesai juga?"


"Iya, namanya juga, cuma berdua di rumah. Jadi ngga terlalu banyak belanja." jawab Dinar.


Mereka mangantri bersama di kasir, sembari bercakap ria mengenai isi belanjaan mereka.


Sementara itu, Iwan pun juga menyapa Iam di tempatnya menunggu. Berusaha ramah dengan tetangganya itu, meski Iam sendiri tak telalu meladeninya.


" Boleh aku, duduk disini?" tanya Iwan."

__ADS_1


"Ya, tak ada yang melarang. Siapapun bebas duduk disana, asal mengikuti peraturan yang ada." Iam menunjuk sebuah peringatan anti merokok disana.


"Ya, Aku tahu." Iwan duduk, tepat di sebelah Iam.


Sesaat mereka diam, karena Iam begitu fokus dengan layar Hpnya. Hingga akhirnya, Iwan menegurnya terlebih dulu agar suasana tak hening.


"Iam, kau sudah lama menikah?"


"Satu bulan lebih, kenapa?" jawab Iam.


"Ya, pasti tengah hangat-hangatnya saat ini. Apalagi, Lila begitu dapat menjaga dirinya dirumah, mau pun diluar."


"Maksudnya?" Iam akhirnya menutup Hp.


"Apa itu termasuk kau?" Iam begitu jujur, akan segala rasa tak sukanya.


Iwan hanya tersenyum. Senyuman itu membuat Iam kesal seketika. Tapi, Iam tak ingin membuat keributan sekarang. Lila baru saja mereda, Ia hanya tak ingin Lila kembali meluapkan amarahnya.


"Sesuka apapun kau dengan dia. Kau harus ingat, dia itu sudah ada yang memiliki. Aku, suaminya."


Iam beranjak dari tempat duduknya, memasukkan Hp di saku celana dan pergi meninggalkan Iwan yang masih bertahan disana.


"Lila, sudah?"

__ADS_1


"Iya, Mas, dikit lagi. Buru-buru?" tanya Lila, yang tengah menghitung semua barangnya.


"Kalau buru-buru, biar Lila sama kami aja. Kami langsung pulang setelah ini." sambung Dinar yang tepat di belakang Lila.


"Ah, tak apa. Aku akan menunggunya." Iam mengibaskan tangannya.


Dinar hanya mengangguk, sementara Lila kembali pada rasa kesalnya. Tak enak hati, dan merasa lagi ketika Iam begitu mengekang dirinya. Ya, mungkin trauma pasal tikungan itu sudah mendarah daging.


"Tak apa, Lila. Itu bentuk cinta nya padamu. Nikmati saja semua prosesnya." Lila menghembuskan nafas panjang, lalu mengeluarkannya dengan begitu lega..


Semua telah dibayar. Lila menggandeng Iam yang membawa troly mereka untuk keluar.


"Mas, udah. Pulang yuk." ajak Dinar pada Iwan.


"Ya, ayo kita pulang. Tak perlu berlama-lama, karena aku juga sibuk." ucap Iwan.


Mereka keluar, tak lama setelah Iam dan Lila. Mengendarai mobil mereka dengan begitu cepat.


"Jangan ngebut-ngebut lah, ngga ada kerjaan 'kan, setelah ini?"


"Tak ada, hanya saja tak ingin terlalu lama di jalan. Cuaca begitu panas rasanya. Apalagi, pakaianmu begitu terbuka, dan membuat gairahku pun memanas." lirik Iwan pada sang istri.


Bukan tanpa alasan ketika Dinar berpakaian seksi. Ia hanya ingin menjaga rumah tangganya agar tetap harmonis. Apalagi, ketika Iwan adalah seorang Hyper yang dapat meluapkan gairahnya dimana saja. Seperti saat ini. Mereka berhenti di sebuah tampat sepi, dan bertukar hasrat di mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2