
"Tenanglah, Nak. Terima Dona dengan baik, dan Papa akan terima Lila dengan baik. Meski, pada kenyataannya sulit. Tapi kita sama-sama berusaha. Demi mendiang, Mama."
Tatapan mata itu begitu meyakinkan. Menyentuh hati Iam hingga bagian terdalam. Sebenci apapun, pria itu adalah Papanya. Pemberi hidup untuknya.
" Apa mau Papa?"
" Jika kamu sulit menerima. Papa akan diam. Tapi, jangan terlalu keras pada Dona. Dia tulus, pada keluarga kita. Mengurus Papa dengan baik, dengan semua kelemahan dalam diri Papa."
Dona memang wanita yang baik. Ia begitu pengertian selama masih berhubungan baik dengan Iam. Wanita yang ramah, dan selalu di segani oleh sahabat mereka yang lain. Raja, Lala, dan yang lain, juga faham akan hal itu.
Iam mengejarnya, Iam selalu menanti jawaban cinta darinya. Semua respon yang diberikan baik, dan mungkin itu yang membuatnya salah sangka selama ini. Bahkan memperkenalkan Dona pada Papanya kala mereka bertemu. Tak disangka, justru lain pula yang Ia dapatkan.
"Jika sudah membaik hatimu. Ajak lah Lila makan bersama keluarga besar, besok. Mama Nia, dan Shandy juga akan datang kesana. Ya, mereka kan sudah masuk dalam keluarga kita."
Papa Wira menepuk bahu Iam, lalu pergi meninggalkannya.
Mama Nia adalah Mama kandung Dona. Dan Shandy, adalah adik Dona. Usianya sama dengan Lila dan Aulia. Gadis yang ceria, dan suka berteman dengan siapa saja.
Iam meraih jasnya. Tanpa memakainya, Ia bergerak pulang. Ia tahu, jika Lila sudah menunggunya. Apalagi Ia juga telah berjanji mengajaknya nonton malam ini.
__ADS_1
"Siska, aku duluan." pamitnya pada sang sekretaris.
"Oke, Bapak. Hati-hati di jalan."
Perjalanan begitu lengang. Iam menyetir dengan kecepatan yang cukup kencang. Ia masih memikirkan tawaran sang Papa, untuk undangannya esok hari.
*
"Lila, aku pulang."panggilnya yang telah memasuki apartemennya.
Lila berlari keluar dan meloncat dalam gendongan suaminya, menggelendot manja disana. Iam tak berucap apapun. Hanya menyangga bagian belakangnya, dan membawanya ke kamar seperti biasa.
"Seharian ngga ada kabar?" bisiknya lembut.
"Takut ganggu." gelendotnya begitu manja. Menenggelamkan wajahnya di tengkuk leher penuh keringat itu.
Ini bukan kali pertama Ia jatuh cinta. Tapi, ini kalia pertama Ia merasakan kasih sayang yang begitu tulus. Apalagi, hubungan yang sah membuatnya bisa bebas mengekspresikan rasa cinta itu.
Iam membawanya duduk, dan Lila masih di pangkuannya. Tangan mungilnya aktif membuka kancing kemeja Iam hingga semua tanggal.
__ADS_1
"Dah, mandi lah. Udah bau asem." ledeknya, dengan menjepit hidung.
"Ah, kirain mau ngapain. Udah berharap, juga."
"Ih, maunya. Emang ngga capek?"
"Engga lah. Apapun buat kamu, seolah hilang semua rasa lelahku." goda Iam.
Entah mengapa, Iam merasa tubuh Lila memang semakin berisi. Dadanya, pinggulnya, dan semua aset berharga itu tampak semakin mempesona. Semua menjadi daya pikat sendiri untuknya saat itu. Apalagi, ketika dirumah Ia sering berpakaian minim, dengan lingerie atau sekedar baju tidur serba pendeknya.
"Sayang, besok Papa ajak kita kerumahnya." ucap Iam, di sela makan malamnya.
"Ehm, diundang?"
"Ya, Papa bilang sendiri tadi. Papa mau akrab seperti dulu, katanya."
"Ya, bagus dong. Lila suka seperti itu. Hanya saja, Lila mau nanya sesuatu. Tolong mas jawab jujur."
"Ya, tanya aja. Ngga perlu ada yang di tutupi antara kita." jawab Iam dengan yakin.
__ADS_1
"Mami Dona... Apa ada masa lalu diantara kalian? Atau, selama ini mantan itu adalah dia?"
Rupanya Lila sudah memiliki feeling selama ini. Wajar saja, dilihat dari usia, dan perlakuan satu sama lain yang mencurigakan. Hanya saja, kenapa begitu berat hanya untuk jujur padanya.