Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Masih sulit, memanggilnya Mami.


__ADS_3

"Ya, saya disini. Dan sepertinya, akan lebih sering kesini. Lila butuh perhatian ekstra, apalagi kehamilan pertama yang membuat trauma begitu dalam." jawab Bu Marni. Ia meraih tempat makanan yang dipegang Lila, dan membawanya ke dapur.


"Mam, duduk yuk." ajak Lila, meski Ia menatap aneh tingkah sang Ibu.


"Lila, sehat? Kapan tahu nya, kalau hamil?" tanya Mami Dona, dengan sangat ramah.


"Kerasa nya, udah dari seminggu yang lalu sih, Mam. Tapi baru cek tadi. Untung Mas Iam ngga marahin Lila." senyumnya konyol.


"Kenapa marah? Kan Lila hamil, bukan macem-macem."


"Mas Iam, mau nya Lila jangan hamil dulu. Setidaknya sampai setahun ini. Masih takut, katanya." jawab Lila, dengan setoples cemilannya.


"Ya wajar lah takut. Kita ngga tahu, sekuat apa kandungan kamu. Yang lain emang udah ngga ada. Tapi ngga tahu, kadang ada yang diem-diem masih jahat. Gimana?" sambung Ibu Marni, yang datang dari dapur.


Mami Dona hanya tertunduk, sembari menghela nafasnya dalam-dalam. Tak pernah Ia sangka, jika Bu Marni masih menyimpan rasa kesal padanya.


"Padahal, aku juga tak tahu apapun." ucapnya dalam hati.


"Ibu, apa-apaan sih." tegur Lila dengan lirih.


Bu Marni hanya diam, lalu berjalan menuju ke kamarnya.

__ADS_1


"Lila?"


"Ya, Mam?"


"Ibu, masih kesal sama Mami? Tampaknya begitu?"


"Jangan diambil hati, Mam. Ibu, hanya terlalu protektif sama Lila. Padahal, Lila sehat banget saat ini."


"Ya, semoga saja. Dan, biarpun tampak sehat, kamu tetap harus hati-hati. Ingat, pengalaman adalah guru paling berharga."ucap Mami Dona, mengelus dan menyapa calon cucu pertamanya.


***


"Engga, hanya... Lila hamil." jawab Iam.


"Lah, Ibu hamil kok malah galau. Bersyukur dong, pak. Kan, memang udah menunggu."


"Saya memang menunggu, tapi jangan sekarang. Masih begitu khawatir, dengan kondisi kandungan Lila. Belum satu tahun, Siska."


Sekretaris itu lalu duduk di depan Bosnya, "Enam bulan, kondisi sudah stabil, Pak. Ngga perlu terlalu cemas. Bapak jaga dan awasi saja, karena Ibu pasti tahu kondisi dirinya sendiri." ujar Siska.


Iam hanya mengangguk beberapa kali. Ucapan Siska, persis dengan ucapan Lila. Kecemasan Iam saja, yang terasa berlebihan.

__ADS_1


" Apa saya lebay?" tanya Iam.


" Engga, ngga lebay. Itu wajar. Tapi, harus di kurangi sikapnya. Lebih care aja, sama Ibu."


Iam sedikit tenang mendengarnya. Ia akan menuruti ucapan Siska, dan memanjakan Lila sebagaimana mestinya. Ia berusaha kembali semangat untuk menjalani hari, apalagi dengan setumpuk dokumen yang ada di hadapannya itu.


" Aul mana?"


" Sedang meninjau lokasi, untuk proyek baru." Siska pun tengah membantu Iam, untuk membaca beberapa file. Lalu, Ia akan memberikan pada Iam untuk meminta tanda tangan darinya.


Kerja Aul memang bagus, semua kolega memujinya. Ia pekerja keras, seperti Papa Wira, sebenarnya. Hanya perlu di bimbing lagi, agar tak mudah terpengaruh oleh dunia luar yang keras. Penuh adu domba dan dapat mencuci otak tanpa sadar. Dan itu adalah tugas Iam dan Mami Dona.


"Papa Bos, apakah akan kembali?" tanya Siska.


"Nanti, ketika dekat dengan persalinan Dona."


"Kenapa Bapak, masih begitu sulit memanggilnya Mami?"


"Jangan memancing perdebatan, Siska. Saya sedang tak ingin berdebat."


"Saya hanya bertanya, Bapak." jawab siska, dengan segala ke isengannya.

__ADS_1


__ADS_2