
"Hey, sayang, kenapa?" peluk Iam dari belakang, dan entah kenapa justru mengagetkan Lila hingga tersentak.
"Eh, ya Allah. Mas, Lila kaget."
"Lila kenapa? Apa yang di pikirin?" tanya Iam, sembari membawanya duduk di sofa, tepat di pangkuannya.
"Mba Dinar bilang, kalau Bapak kesini."
"Beneran Bapak?" tanya Iam, memastikan.
"Katanya, dan rokok sisa yang berserakan. Itu, memang Bapak, sepertinya. Lila takut. Apa mungkin, karena Lila kasih duit waktu itu? Jadi, Bapak mau minta lagi."
Lila tertunduk lesu, tampak sekali jika Ia tengah dalam keadaan takut saat ini. Tapi, Iam terus coba menenangkannya dengan segala macam cara.
" Hey, kenapa suudzon? "
"Entah, tapi mendengar namanya saja, Lila begitu takut."
"Aku keluar sebentar," Iam mendudukkan Lila di sofanya.
"Kemana?"
__ADS_1
"Mau cek CCTV, Lila dirumah aja."
"Jangan lama," Lila menarik ujug kemeja Iam.
"Ngga akan, hanya untuk memastikan. Tidur jika mengantuk, atau nonton jika bosan." kecup Iam dikeningnya.
Entah kenapa, mood Lila suka berubah-ubah sekarang. Kadang manja, cemburu, marah dan kesal. Tapi, Iam suka dengan semuanya. Membuatnya semakin gemas dengan sang istri, dan merasa mendapat sebuah tantangan akan hubungan mereka.
Iam pun keluar, dan tak sengaja bertemu kembali dengan Dinar yang juga keluar dari rumahnya. Mengenakan pakaian seksi, dan dandanan yang cukup menor dan glamor.
"Mba Dinar, mau kemana?" tanya Iam, berusaha ramah.
"Mau kerja, Mas. Saya kalau malam gini, emang kerja terus. Pulang pagi."
"Saya kerja jadi penari, di sebuah club malam. Mungkin, Mas Iam bisa membayangkan, bagaimana pekerjaan saya dengan pakaian seperti ini. Jadi, saya ngga perlu jelasin."
"Iya, ngga usah." Karena pasti sesuai ekspetasi ku.
Mereka berpisah di persimpangan jalan keluar. Dinar pun menaiki taxi yang telah menunggunya di bawah, sementara Iam mendatangi pos keamanan.
Iam masuk, dan meminta izin mengecek CCTV yang ada di luar ruangan mereka.
__ADS_1
" Ya, itu." tunjuk Iam, ketika tampak Pak Hari tepat di depan apartmennya.
"Lama dia disana. Bahkan, nyaris saya tegur ke atas. Tapi, untungnya ngga lama itu, dia turun." terang sang satpam.
Wajahnya tampak begitu penasaran, bahkan sesekali mencoba mengintip ke dalam. Mungkin, andai itu rumah biasa, Ia akan nekat masuk dengan membobol kunci rumahnya. Syukurnya, di sana benar-benar aman saat itu.
Iam kemudian keluar, dan kembali pada Lila yang telah menunggunya dari tadi.
"Mas, gimana? Benar, Bapak?"
"Iya, itu Bapak." jawab Iam, yang langsung menghampiri istrinya.
" Mau apa? Bahkan sudah berani datang kemari. Lila takut lagi, padahal baru saja menghela nafas lega, setelah Aul aman. Tapi, Lila lupa jika Lila sendiri tak aman."
"Hey, tak usah takut. Disini aman, apalagi banyak penjaga disini. Jika ada apa-apa, panggil tetangga kita."
"Tapi hanya Mba Dinar dan Mas Iwan yang dekat dengan kita?"
"Tak apa, yang penting kamu aman." ucap Iam, yang meraih Lila dalam pelukannya.
Lila bahkan belum terfikir untuk menelpon sang Ibu. Ia hanya ingin bertanya pasal Bapaknya itu dengan Bu Marni. Dan jika bisa, ingin langsung bertanya mengenai apa tujuannya untuk datang.
__ADS_1
Malam ini, Lila dan Iam kembali terlelap berdua di sofa. Dengan tangan Iam, yang tak pernah lelah memeluk tubuh sang istri.