Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Welcome Home, Baby


__ADS_3

Lila mengulurkan senyumnya. Wajahnya semakin cantik dan manis dari biasanya. Iam menggandengnya lagi, dan terus akan menggandengnya dengan erat, kemanapun Ia pergi. Mereka seperti akan memulai hidup baru yang lebih indah setelah ini.


Perjalanan sedikit jauh, menuju rumah baru mereka. Rumah yang telah di persiapkan Iam, sejak awal mereka menikah. Ia rahap sesuai selera Lila, itu pun dari yang Ia perhatikan ketika mengurus aparetemen. Rencananya, untuk hadiah ketika Lila telah melahirkan Baby Attar. Tapi, takdir berkata lain.


"Ini bukan jauh, tapi muter-muter. Kemana sih? Katanya mau kerumah baru?"


"Enggq muter-muter, tapi memang jalannya macet. Lila banyak ngeluh sekarang, kenapa? Apalagi maunya, sayang?" tanya Iam dengan lembut.


"Capek, pengen istirahat." gelendotnya manja.


"Disana ada Seorang pembantu, sudah Satu bulan mengurus rumah bersama suaminya. Belum terlalu tua, jadi tenaganya masih kuat. Namanya Mba Tatik, sama Mas Lukman."


"Heemmmh. Lalu? Ada kolam renangnya? Terus, kalau Lila mau berenang gimana? Malu sama Mas Lukman."


"Mas Lukman hanya datang pagi sampai siang. Lalu sore menjemput sang istri. Mereka tingal di kampung belakang. Hanya menginap jika kamu minta."


"Uluuuh, baiknya sayangku. Baik banget, makin gemeeeeess," usap Lila di pipi suaminya itu. Iam hanya meliriknya sedikit aneh. Ya, karena Lila memang tampak aneh baginya.


"Ingat, jangan minta hamil dulu." ucapnya.

__ADS_1


"Yaaa, ketahuan deh, pengennya apa." Lila melepas genggaman tangannya dari sang suami. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada, dan memasang wajah cemberutnya. "Cuma pengen segera kasih keturunan lagi, supaya lebih bahagia."


"Hey, kita berdua saja, aku sudah sangat bahagia. Jika belum waktunya, kita bisa apa? Ingat kondisimu, aku pun tak pernah memaksakan kehendakku padamu." rayunya.


Rayuan puh terhenti. Iam membelokkan mobilnya di sebuah rumah mewah. Lalu mobik berhenti tepat di depan pintu rumah. Mba Tatik dan Mas Lukman menyambut mereka. Tak ketinggalan, Duta, Siska, dan Bu Marni. Mereka menyambut Lila dengan senyum dan takjub dengan perubahan yang Ia berikan.



"Ibu senang sekali, Lila mau menempuh langkah ini. Berusaha memperbaiki diri ya, sayang." peluknya pada sang anak.


"Bismillah, ya, Bu." jawab Lila penuh haru. Mereka masuk bersama, dan Lila menceritkan perjalanannya barusan. Bertemu sang Bapak, dan merancang masa depan baru mereka.


Hari pun berganti, dan mereka pamit pulang setelah makan malam bersama.


"Mba Tatik, kalau mau pulang ngga papa. Biar Lila yang beresin ini nanti."


"Nyah, ini banyak. Nanti capek. Biar saja bereskan sebagian."


"Baiklah, terimakasih." ucap Lila. Ia membantu Mba Tatik mengusung barang. Mba Tatik mencuci piring, dan Lila membereskan meja makan. Tak lupa, membawakan sisa makanan untuk asisten rumah tangganya itu.

__ADS_1


"Terimakasih, ya. Besok datang pagi-pagi. Kita beresin ruangan lain. Lila belum sempat keliling rumah, soalnya."


Mba Tatik hanya mengangguk ramah padanya, lalu pergi meninggalkan rumah itu bersama suaminya.


Iam datang, memeluk Lila dari belakang. Lila menggenggam tangannya, dan satu tangan meraih wajah tampan sang suami.


" Makasih, Mas. Lila bahagia. Meski capek."


"Sudah capek kah?" bisik Iam, dengan menggesekkan wajahnya di tengkuk leher Lila.


"Ehmmm, mau apa? Emang Mas ngga capek? Kan seharian nyupirin Lila."


"Maka dari itu, Pak supir minta upahnya."


Lila melirik tajam, dan Iam mengedipkan matanya genit penuh arti.


"Ngga mauuuuu!" pekiknya, lalu berlari meninggalkan suaminya.


Iam menoleh, menggigit bibirnya dan langsung mengejar sang istri. Mereka naik ke atas, berkejaran seperti anak kecil. Lila menghindar, tapi Iam terus mengejarnya. Seperti tengah mengejar mangsanya yanh begitu menggiurkan.

__ADS_1


__ADS_2