
Amat sangat bahagia. Itu yang di rasakan Lila sekarang. Semua rasa khawatir dan cemas mengenai sang Bapak, berganti menjadi rasa yang penuh bunga.
Ia sengaja menghubungi Iam tentang ini, dan meminta Dinar agar tetap tutup mulut. Ia menunggu hingga suaminya itu pulang akan memberikan kejutan untuknya.
"Siska?"
"Ya, Pak? Kenapa, kok gelisah?"
"Hmm, ngga tahu. Bagaimana rapat sore ini, jadi?"
"Jadi, sebentar lagi kita berangkat."
"Baiklah."
Siska memberikan secangkir kopi pada Bosnya itu. Iam pun segera memiumnya hingga tandas, karena Siska tahu Ia suka dengan kopi yang hangat. Setelah itu, mereka keluar berdua untuk menghadiri rapat sore ini.
"Aku pulang telat, kamu jangan kemana-mana. Nanti kita kencan."
"Beliin makanan aja, Lila gampang laper sekarang."
Jawaban Via Whatsap itu, menyunggingkan senyum di bibir Iam.
__ADS_1
"Bapak kenapa, senyum-senyum sendiri?" tanya Siska, yang terheran menatap Bosnya.
Mereka kembali melakukan pertemuan di hotel Horizon. Sepertinya memang tempat pavorit, karena lokasinya yang nyaman dan dekat dengan pantai. Iam masuk bersama sang sekretaris, di sambut para pegawai hotel yang berjaga di depan. Lalu masuk ke ruangan rapat yang di janjikan.
**
"Marni, kau lihatlah. Menantu dan anakmu yang polos itu, telah memberiku uang sebanyak ini." ucap Pak Hari, yang menyambangi kediaman mantan istrinya.
"Keterlaluan, tak tahu malu. Harusnya kau memberi warisan untuk anakmu, bukan malah kau yang meminta-minta seperti pengemis." cibir Bu Marni yang sangat kesal agaknya.
"Ini hakku, Hak sebagai ayah dari anakku. Andai seperti ini dari awal, pasti aku yang akan menikahkannya. Tak perlu repot, mencari Agung yang jauh disana."
"Sudahlah, mau kau apakan uang itu. Segeralah pergi, aku malas mendengar ocehanmu."
"Ya terserah, bukan urusanku." jawab Bu Marni, dengan nada datarya sembari menghitung catatan hutang para tetangga.
Bu Marni memang sudah tak perduli lagi, dengan apa yang Pak Hari lakukan. Dan menegenai rencananya membuka toko, itu pun haknya sendiri.
"Andai kau tak meminta terus uang dariku, toko ku pun sudah maju sejak dulu. Sayangnya, lintah sepertimu memang tak pernah puas menyesap darah dan keringat orang."
"Aah, terserah. Yang penting, aku banyak uang sekarang. Aku pergi..." ucap Pak Hari, berlalu sembari menciumi kartu yang Ia pegang saat ini.
__ADS_1
Bu Marni hanya nencebik bibir. Kesal, marah, semuanya menjadi satu. Ia perlu penjelasan pada sang menantu, akan apa alasnnya memberi uang dengan begitu mudah dan dalam jumlah banyak.
Pekerjaannya pun menjadi tak fokus, memilih menutup tokonya segera dan bersiap menuju kediaman Iam dan Lila. Ya, ini baru pertama kalinya Ia kesana sejak mereka menikah.
"Bu Marni, kok tutup cepet? Mau kemana?"
"Kerumah Lila." jawabnya singkat, tapi wajahnya menunjukkan sebuah rasa cemas dan amarah.
"Heh, kenapa itu? Kenapa begitu mukanya? Ada sesuatukah terhadap anaknya?"
Berbagai pertanyaan kembali mencuat. Prasangka pun mulai muncul dinfikiran para tetangga yang melihatnya. Tapi Bu Marni tak perduli. Ia tetap melenggang dengan santai dan fokus pada tujuan awalnya.
" Wooooh, Lila sama Iam tinggal disini, tah? Di ruangan mana, kok besar sekali? Ya pusing lah." gerutunya.
"Ibu, mau kemana?" tanya salah seorang satpam jaga.
"Mau cari rumah Iam, dimana ya?"
"Mari, saya antar." jawab Satpam itu dengan ramah.
Bu Marni berjalan masuk, menelusuri setiap lorong ruangan, dan menaiki lift menuju tempat tinggal mereka.
__ADS_1
"Pantes, Bapakmu berani minta duit sebanyak itu, Nak. Rupanya, hidup kalian memang sangat mewah. Maafkan dia, Nak."