
"Lila, sudahlah, Ini masih pagi. Dan Bapak, sebenarnya apa yang Bapak cari kemari?" lerai, dan tanya Iam pada sang mertua.
"Bapak sudah bilang, kalau Bapak mau pinjam uang, Am. Bapak mau usaha, itu aja."
"Berapa?"
"Dua Ratus juta. Kecil kan, buat kamu yang seorang pengusaha." ucapnya enteng.
"Bapak!" pekik Lila.
"Lilaa, duduk sayang." Iam merayu istrinya agar tetap tenang.
Iam menyelesaikan sarapannya sejenak, meminum air yang Lila sediakan hingga tandas. Lalu, mulai berfikir dan kembali berbicara.
"Pinjam, atau minta?"
"Ya, kalau boleh sih, minta. Kan, kamu memang belum membayar mahar Lila pada Bapak." jawab Pak Hari.
Iam menatap Lila, wajahnya tampak berkaca-kaca. Ia malu akan kelakuan Bapaknya yang semakin melunjak saat ini.
"Apa Bapak mau berjanji sesuatu?"
"Apa?"
__ADS_1
"Bapak berhenti mengganggu kami, dan berhenti mengacau di toko Ibu. Bagaimana? Anggap saja, uang yang Iam beli, adalah uang tebusan toko Ibu dari Bapak. Hingga lepas dari gono gini kalian."
"Mass, jangan diturutin. Dia ngga akan berhenti."tegur Lila padanya.
"Ya harus berhenti, karena ini adalah perjanjian. Kita akan sepakat, Hitam diatas putih. Dan itu ada pegangan hukumnya, bagaimana?" tatap Iam pada Pak Hari, yang tampak berfikir begitu keras.
"Dua ratus juta?"
"Dua ratus, Lima puluh juta. Tapi, berhenti mengganggu kami."
"Baiklah, toh selama ini juga, kami jarang bertemu." jawab Pak Hari, tampak senang dengan perjanjian itu.
"Baiklah, Bapak silahkan mandi dan setelah itu ikut Iam ke kantor."
Sedangkan dimeja makan, Lila tampak galau dan memainkan makanannya.
" Apa, tujuan Mas sebenarnya? "
" Apa? Tak ada. Aku hanya, ingin melihatmu dan Ibu tenang, tanpa adanya gangguan setelah ini. Bapak tak akan ganggu kalian lagi."
"Mustahil, Mas. Ngga segampang itu, untuk membuat perjanjian dengan Bapak."
"Kamu, meragukan suamimu?"
__ADS_1
Iam mengambil alih makanan Lila, lalu menyuapinya perlahan. Menatapnya dengan penuh cinta, menyembuhkan segala rasa khawatir yang berlebihan dari sang istri.
"Ayo, Bapak sudah siap." ajak Pak Hari.
"Sayang, aku pergi dulu. Jaga diri dirumah, dan jangan izinkan siapapun masuk. Kecuali Dinar."
"Iya, Mas."
Iam mengecup kening istrinya, lalu berangkat ke kantor dengan mertua matrenya itu. Sungguh, hidup baru mereka dikelilingi oleh orang-orang toxic, yang memang harus disingkirkan satu persatu.
Iam tiba di kantornya. Pak Hari membelalak, menatap kantor besar dengan ribuan karyawan itu. Tak menyangka, menantunya memang begitu kaya raya seperti yang para tetangga Bu marni sampaikan. Ia pun langsung di bawa masuk keruangannya.
"Siska, siapkan sebuah surat perjanjian,seperti yang saya katakan tadi."
"Baik, Pak." jawab Siska via teleponnya.
Pak Hari tampak tersenyum puas, ketika mengetahui rencananya berhasil. Tangannya serasa gatal, membanyangkan ketika Ia akan mendapat uang dalam jumlah yang banyak. Bahkan, khayalannya pun begitu tinggi, terbang menerawang menembus cakrawala.
"Ini, isi perjanjiannya. Silahkan Bapak baca dulu sebelum tanda tangan."
Pak Hari membaca, entah mengerti entah tidak, Ia langsung membubuhkan tanda tangan di kertas itu. Dan setelah itu, Iam memberikan sebuah kartu kreduit, berisi jumlah uang yang Ia minta.
Hati Pak Hari begitu riang gembira, dan Ia segera keluar dari ruangan itu, dengan kartu yang Ia genggam erat.
__ADS_1
"Biarkan dia bahagia, Lila. Biarkan, sampai Dia menangis tapi tak mampu lagi datang untuk memohon." lirih Iam, dengan senyum menyeringai menatap perjanjian mereka.