
"Lila, Mas Iam? Kalian darimana aja?" tanya Dinar, yang keluar dari appartementnya tepat ketika Iam dan lila datang. Iwan pun bersamanya, tetap dengan tatapannya pada Lila
"Mba Dinar, kami dari luar. Kenapa?"
"Tadi, ada Ibu-ibu dateng cari kalian. Tapi rumah kosong. Mba ngga tahu kalian kemana, nomor Hp juga ngga ada buat nanya."
Iam hanya diam, menyeret Lila masuk, lalu menutup pintunya.
"Mas, Lila masih ngobrol."
"Tatapan lelaki itu, aku ngga suka. Menatap istri orang seperti itu, padahal istrinya sendiri terbuka."
"Cemburu?" Lila menatapnya dengan mengedip-ngedipkan mata.
Iam membuka kaos nya, lalu Ia lemparkan ke keranjang baju kotor mereka. Telapak tangannya di tutupkan ke wajah Lila yang mungil, hingga Ia tak dapat melihat tubuh kekar itu.
"Maasss, gelap." Lila berusaha menyingkirkan tangan itu dari wajahnya.
Hanya bagian jempol yang Iam singkirkan. Membuka bagian bibir Lila yang tak henti berceloteh. Ia pun menyergap bibir itu seolah mendapat umpan segar yang begitu menggiurkan.
Cupp, berkali-kali Iam melakukannya.
"Lepasin!" pekik Lila kesal, yang akhirnya dapat menyingkirkan lengan Iam darinya, "Jahat..."
__ADS_1
"Seberapa jahat aku dimatamu?" tanya Iam, dengan mengusapkan kedua tangannya, menelusuri pipi mulus Lila.
"Jahat banget. Pria yang bahkan ngga pernah sekalipun, membiarkan Lila bernafas dengan bebas."
"Hm, kenapa?"
"Karena setiap jauh, nafas ini terasa begitu sesak dan jiwa ini kesepian." Lila meraih tangan itu, lalu menciumnya.
"Bahwa setiap hembusan nafasmu, itu hanya milikku. Tubuh ini, semua milikku."
Iam menatap Lila dengan nafas yang begitu memburu. Desaahannya begitu lembut, sembari tangannya terus merayap di tubuh sang istri yang semakin sintal dan padat itu. Lila mengalungkan tangannya, lalu meliloncat dalam gendongan Iam di depan.
" Lila belum mandi. Masih lengket dengan air pantai." bisiknya lembut.
"Aku, selalu menginginkanmu."
"Aku, kan sudah jadi milikmu." ucap Lila, dengan nafas yang terengah-engah karena semua serangan yang diberikan Iam padanya.
Erangan, ******* tak terdengar karena kalah dengan kucuran air itu. Tubuh mereka basah, dari atas hingga bawah. Tapi, permainan terasa semakin memanas. Lagi dan lagi, mereka sampai di puncak bersamaan dengan helaan nafas lega yang tiada tara.
"Aku mencintaimu, bahkan tak ada orang lain yang boleh menyentuhmu. Kau milikku, tak akan pernah aku lepaskan. Demi apapun itu."
"Hatiku terenyuh. Karena baru kali ini kamu ucapkan itu padaku."
__ADS_1
Mereka saling menempelkan dahi. Menatap senyum di bibir masing-masing. Indah memang, ketika saling menunjukkan rasa cinta dari hati masing-masing. Tanpa ada yang menentang mereka saat ini. Atau belum.
Karena Papa Wira, sepertinya masih terus mengawasi mereka. Entah dengan cara apa, tapi Iam dapat merasakannya.
"Mas, laper. Makan apa, ya?"
Lila kini telah di dapur, masih dengan handuk kimono dan kepala yang diikat handuk karena basah. Sementara Iam, telah mengenakan pakaian lengkap dengan celana pendeknya.
"Adanya apa?"
"Telur, nasi, sama beberapa sayuran." jawab Lila, dengan menunjukkan isi kulkas mereka yang mulai habis.
Iam menghampiri, memeluknya dari belakang dan tak lupa mengecup pipinya.
"Lila duduk aja, biar aku yang masak."
"Bisa?" Lila memicingkan matanya.
"Hhh, kau anggap remeh suamimu ini? Kau tak tahu, jika aku sering di puji karena kelihaianku memasak."
"Hihi, kiraih kelihaian menaklukan wanita. Mami Dona aja ngga luluh.".
"Terus Lila... Terus... Ledek aja terus."
__ADS_1
Lila pun berlari dalam tawanya. Duduk di sofa dan menunggu Iam masak hingga waktu mereka makan malam bersama.