Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Kasih sayang tiada jeda


__ADS_3

"Lila yakin, ngga mau dianter sampe dalem?" tanya Dinar, yang membantunya turun dari taksi mereka.


"Ngga papa, Mba. Mba Dinar pergi aja, kan mau ada urusan. Lila bisa sendiri kok."


"Baiklah, hati-hati, ya? Mba pergi dulu." pamit Dinar, yang kembali masuk ke dalam mobil.


Lila kembali berjalan, disambut oleh para satpam yang berjaga diluar. Mereka menyapa dengan begitu ramah, bahkan mengantar Lila hingga ke ruangan Iam.


"Bapak, ada rapat. Akan saya panggil sebentar," satpam bernama Erwin itu pun keluar, meski Lila sudah sempat melarangnya.


Lila pun menunggu, duduk di kursi Iam yang selalu menjadi tempat ternyamannya dalam bekerja. "Begini rasanya jadi Bos? Kursinya, pasti mahal. Enak banget gini," Lila menyandarkan bahunya dengan nyaman disana.


Erwin mengetuk pintu, lalu membuka pintunya perlahan. "Erwin, kami sedang rapat. Kenapa kemari?" tegur Siska, yang duduk. Persis di sebelah Iam yang memimpin rapat mereka.


"Ada tamu, buat Bapak." jawab Erwin.

__ADS_1


"Kalau tamu, suruh tunggu dulu lah. Kan kamu tahu prosedurnya," Siska kembali mengomel, meski dengan suara berbisik.


"Siapa, Win?" sambung Iam, ditengah keheningan ruangan itu. Mereka tengah menjalani sebuah diskusi, dan menunggu hasil keputusan penting dari para anggota dewan direksi.


"Ibu, Pak." Mata Iam langsung membulat. Ia menyerahkan dokumen itu pada Siska, untuk segera menggantikannya.


"Pegang ini, aku akan segera kembali," Iam membungkuk, pada semua orang yang ada disana. Ia pun segera keluar menghampiri Lila yang telah menunggunya.


"Hey, sayang, kenapa kemari? Rindu kah?" Iam merentangkan tangan, menyambut Lila ke dalam pelukannya. Lila masuk, dan mendekapnya dengan begitu hangat, begitu manja.


"Tadi pagi itu spontan. Dia anak keperawatan meski ngga lulus, tapi ada ilmu 'kan? Kata Lila, dia kasihan, kalau harus di club begitu." Iam membawa Lila duduk di pangkuannya, dengan terus membelai rambut nya yang wangi.


"Cuma kaget aja, tiba-tiba dateng, pakaiannya rapi banget. Pemandangan yang bikin kaget, Amazing," Lila melambaikan tangannya, memperagakan sebuah ke kaguman nya pada sang tetangga.


"Berarti, dia profesional. Bisa menempatkan diri, dimana pun Ia bekerja. Ketika bersama Lila di hari biasa, ya memang karena tetangga dan sahabat. Tapi ketika bekerja, dia adalah seorang perawat." Iam mencolek hidung Lila, dan sesekali menempelkan hidungnya disana.

__ADS_1


Iam seketika teringat akan rapatnya. Ia meminta Lila menunggu sebentar, hingga rapat itu selesai. Ya, Lila menurutinya dengan baik. Duduk diam di sofa, sembari memainkan Hp nya. Bahkan Hp Iam ditinggal jika Ia bosan. Lila bahkan tertidur, karena menunggu dalam waktu yang lama.


***


"Hallo, Agung? Kamu dimana sekarang?" tanya Bu Marni, pada mantan adik iparnya itu.


"Saya lagi di proyek, Mba. Kenapa?"


"Gung, Mas Hari, sakit. Bisa ngga, kamu kesini?"


"Lah, kok manggil saya? Kenapa juga, Mba Marni yang repot? Istri dan anak tiri nya itu kan ada. Biarin mereka yang urus." Om Agung sedikit gusar ketika mendengar kabar Kakak kandungnya itu.


"Sakitnya, sakit jiwa, Gung. Istri dan anaknya minggat, bawa semua uangnya. Uang itu banyak, hasil dia minta sama Iam dan Lila, Gung. Dua ratus juta," Bu Marni menjelaskan awal mula kejadian itu. Om agung pun tercengang, bahkan nyaris jatuh karena tubuhnya seketika lunglai.


" Agung, akan segera kesana. Tunggu, Mba." ucap Om Agung. Bu Marni hanya mengangguk, karena memang hanya itu yang dapat Ia lakukan. Ia tak mungkin merepotkan Iam dan Lila lagi, karena itu adalah aib keluarga. Hanya takut, jika akan ada masalah dari keluarga besar Iam nantinya.

__ADS_1


__ADS_2