
Hari yang ditunggu telah tiba. Saatnya untuk Lila pulang ke apartemen mereka. Beristirahat disana hingga kondisinya pulih, dan nantinya akan dibawa pulang ke rumah baru yang telah dipersiapkan Iam untuknya.
"Mas, mau kemana?" tanya Lila, ketika melihat Iam beranjak darinya.
"Cari kursi roda, buat bawa Lila. Kenapa?" tanya nya membalik badan.
"Ngga usah, Lila jalan kaki aja." Lila berdiri sendiri, Iam menatapnya sedikit cemas. Tapi, Lila sendiri tak nampak sakit sedikitpun.
"Istriku, memang wanita kuat." pujinya.
"Kuat, operasinya juga mahal. Iya kan? Abis berapa?"
"Hssst, ngga usah nanyain biaya. Andai harus menghabiskan bermilyar uang sekalipun agar anak kita bertahan, aku pasti lakukan." jawab Iam, kembali dengan mata berkaca-kaca. Lila hanya menghampiri dan memeluknya dengan erat.
"Udah, ngga papa. Lila juga salah. Nanti kita mampir makam, ya? Lila kangen anak kita. Siapa namanya?"
"Attar Adi prawira. Itu, sudah ku persiapkan sejak lama. Kamu, jangan kesana dulu." pinta Iam. Lila mendongakkan kepalanya, "Kenapa?"
"Besok saja. Besok saja ketika anak kita di aqiqah, setelah usianya Empat puluh hari. Aku janji."
__ADS_1
"Maasss," rengek Lila. Tapi Ia akhirnya mengangguk, karena sangat faham akan keinginan Iam padanya. "Iya," pasrahnya.
Iam menggandengnya keluar. Tak banyak bawaan, karena semua telah dibawa Mba Dinnar dan Duta yang menunggu mereka di mobil. Genggaman tangan yang seperti biasa tak pernah lepas sebelum tiba di tempat yang mereka tuju.
"Ibu mana?"
"Nunggu di rumah, sama Aul. Mereka masak enak katanya, kesukaan Lila."
"Emang boleh makan pedes?"
"Ya, dikit aja. Nanti lukanya perih, atau gatel. Kan ngga enak."
"Haish, sabar... Tiga puluh tujuh hari lagi." lirihnya mengelus dada.
"Apanya?" toleh Lila, berjalan mundur menghadap Iam.
"Ah, engga. Ayo cepet pulang. Mereka nunggunya kelamaan nanti." Iam memutar tangan Lila, agar tubuhnya ikut berputar seperti orang yang tengah berdansa. Lila justru senang dan tertawa, hingga melakukan itu secara berulang-ulang.
"Eh, udah. Malah kesenengan." tegur Iam, menangkap pinggang istrinya agar berhenti.
__ADS_1
"Lila ngga pernah dansa,"
"Besok kita bikin pesta dansa. Atau dinner terus dansa disana."
"Emang mas bisa?"
"Engga. Bisanya gendong kamu." Iam menyergap tubuh istrinya, dan segera menggendongnnya ala Bridal. "Kelamaan, orang dari tadi udah nungguin." Ia membawa tubuh Lila dengan cepat menuju mobilnya.
"Hey, kok gendongan? Kenapa ngga pakai kursi roda aja?" tanya Mba Dinnar. Iam pun menurunkan istrinya, yang cengengesan menatap wajah perawatnya itu. "Hehe, maaf. Udah lama ngga jalan-jalan berdua. Meski ini Rumah sakit."
"Ish, kalian mah, aneh. Untung udah faham." ledek Mba Dinnar. Ia membuka pintu, dan membantu Lila masuk. Iam duduk di depan, bersama Duta yang tengah diminta menjadi supirnya.
"Lila udah sembuh. Berarti, kontrak selesai?" tanya Mba Dinnar, yang kembali harus kehilangan pekerjaan. Padahal, jika Baby attar lahir selamat, Ia juga akan menjadi Baby sitter yang baik untuk putra mahkota itu.
"Mba, nanti kontraknya selesai ketika Lila sudah sembuh total. Nanti, akan saya beri pekerjaan yang lebih pantas. Meski tidak dengan ijazah perawat nya, karena putus. Tapi, setidaknya ijazah SMA ada." jawab Iam.
"Eh, ngga usah, Mas. Maaf, tapi kata Mas Iwan, dia bakal berubah. Entah karena apa, katanya dia ngga mau, kalau saya kelelahan lagi. Kemarin, karna jaga Lila, makanya boleh. Setelah ini, saya harus fokus jadi ibu rumah tangga. Mau, program hamil." angguk nya tersipu malu.
Lila hanya mengangguk, dan memberi doa dan support penuh untuk mereka. Bahkan, Iam menawarkan untuk sebuah program, dan akan membiayai hingga berhasil.
__ADS_1