Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Pengakuan Aul


__ADS_3

Aul terperanjat, ketika Lila berdiri memeriksa Hpnya. Tertunduk, antara malu dan takut.


"Dia kenapa?" Lila menunjukkan isi wa itu pada Aul.


"Dia.... Itu, anu... Ehm..."


"Aul ganti baju, Kakak tunggu penjelasannya." Lila duduk, lalu memeriksa isi pesan yang lain.


Sementara itu, Aul tengah mengganti pakaiannya di hadapan sang Kakak ipar saat ini.


"Sudah sering begini?"


"Ehm, iya. Apalagi, sejak tinggal di rumah. Sering pulang malem, dan minta Aul kerjain tugasnya." lapor Aul.


"Kenapa diem?"


"Takut, kalau ada keributan lagi. Mami dan Kak Iam, baru saja bertegur sapa. Aul ngga mau, mereka panas lagi."


"Mengalah, tapi tidak dengan cara menginjak harga diri kamu, Aul."


Usai mengganti pakaian, Aul mendatangi Lila dan duduk diakm disampingnya. Dengan telaten, Lila mengeringkan rambut Aul dan menyisirnya hingga tampak rapi.

__ADS_1


"Kalau ada apa-apa itu, lapor. Kadang memang kita harus mengalah, demi sebuah kedamaian. Tapi jika mengalahnya kita ngga dihargai, sesekali kita juga harus melawan."


"Jujur, Aul takut. Aul memang lemah, maaf."


Lila hanya menghela nafas. Ia mulai tahu watak Aul, yang meski ceria, tapi Ia memiliki rasa takut yang berlebihan. Lila membiarkan Aul tidur sejenak, karena tampak dari wajah yang begitu lelah. Ia pun keluar, memasak untuk persiapan makan malam mereka bertiga.


***


"Bapak, katanya sebentar?" tanya Siska.


"Memang, bukannya hanya sebentar?"


"Ya, baiklah. Memang hanya sebentar. Karena bagi orang kasmaran, seharian pun rasanya hanya satu menit." gerutu Siska.


Siska lalu memberikan beberapa lembar proposal untuk Iam. Dengan menyatakan, jika semua talah di setujui oleh Dona. Hingga Iam hanya tinggal memeriksanya dengan baik.


"Dona mana?"


"Mami Bos? Sedang menemani Papa Bos untuk makan siangnya."


"Ya, baiklah." angguk Iam. Ia pun mulai lagi dengan pekerjaan yang begitu menumpuk, dan akan semakin menyita waktunya.

__ADS_1


Mengenai pesan dari Lila akan Duta. Iam sudah meminta bagian kepegawaian untuk kembali memanggilnya. Ia juga tak tega, ketika Lila menceritakan mengenai rumah tangganya yang kalang kabut karena menikah muda.


"Kamu memiliki jiwa sosial yang tinggi, sayang. Tapi, harus dengan kontrol, agar tak banyak dimanfaatkan orang lain." fikirnya, yang memang selalu berbunga ketika memikirkan istri kesayangannya.


**


"Mas, Aul tadi izin kerumah Iam."


"Nginap?"


"Entahlah, hanya bilang mau istirahat disana sejenak." jawab Dona.


"Kenapa dia? Apa begitu lelah dengan kuliahnya?" tanya Papa wira.


"Nanti, Aku coba dekati dan bertanya. Kadang hanya merasa, Ia tengah merahasiakan sesuatu. Maaf, kalau kurang memperhatikan." sesal Dona.


Papa Wira hanya mengangguk, dengan memberi seulas senyum manis pada sang istri. Ia sudah meminta Dona dirumah, mengurus Aul dan rumah mereka. Tapi, Dona merasa tertekan ketika dirumah dan memikirkan Mama dan Adiknya. Apalagi, harus membayarkan hutang mereka yang entah berapa jumlahnya.


"Aku hanya tak ingin, jika orang lain menganggapku memanfaatkan keadaan. Hidupku memang tanggung jawabmu, tapi Mama dan Shandy tidak." ucapnya kala debat kala itu.


Makan siang memang telat bagi mereka berdua. Tapi terasa nikmat jika bersama. Dona pun sesekali memeriksa Hpnya, mencari kabar akan Aul, Shandy, dan Mamanya yamg katanya akan diam dirumah.

__ADS_1


" Jangan pernah bohong, Ma. Dona ngga mau, jika Mama keluar lagi dan bergabung dengan sosialita itu. Dona ngga kuat, jika harus menanggung hal itu lagi." ucap Dona.


Sudah menyingkir, untuk menghindari sang Mama. Tapi rupanya, masih saja mencari celah untuk terus memanfaatkan keadaan.


__ADS_2