
Masak memasak telah selesai. Tanpa terasa pun hari sudah menjelang malam. Lila beranjak ke kamar untuk membersihkan diri, sembari menyambut suami kesayangannya untuk pulang.
"Harus bisa bilang sama Mas Iam, mengenai Aul dirumahnya." tekadnya.
Ia memiliki rencana sendiri, tapi semua harus atas persetujuan sang suami. Apalagi, menyangkut adik dan seluruh keluarganya disana.
"Sayang, Lila dimana?" panggil Iam, yang rupanya pulang lebih cepat daru biasanya.
"Mas, Lila lagi mandi." pekiknya dari dalam.
Iam hanya diam, lalu masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya. Ia duduk sebentar mengecek Hp, dan menunggu Lila selesai dengan kegiatannya.
"Mas, Kok tumben cepet?" Lila keluar dengan mengusap rambutnya yang basah dengan handuk.
"Ehm, katanya Aul dateng. Jadi?"
"Ya, lagi tidur di kamar. Kecapean agaknya."
Lila menghampiri suaminya, mencium tangan dan sekedar mengecup pipinya dengan mesra.
"Mandi dulu gih, kecut." Lila menutup hidung dengan tangannya.
"Sebentar lagi, sayang." Iam masih menggelendot manja.
"Nanti handful Lila lepa, Mas."
"Ngga papa, aku seneng."
__ADS_1
"Ish, seneng mulu." Lila mengusap kepala Iam, lalu beralih dari pangkuannya.
Lila sekali lagi membujuk Iam untuk mandi. Rencananya, Ia akan berbicara dua mata dengannya, mengenai Aul.
"Ada apa, Sayang? Kenapa dengan Aul?" tanya Iam, yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Lila menghampiri dengan pakaian gantinya, dan membantu sang suami memakainya.
"Shandy, menindas Aul."
"Hah, serius? Kamu tahu darimana?"
"Ngga sengaja, baca chatnya. Kasar banget, Lila ngga suka."
Ganti baju selesai, dan Lila merapikan semuanya.
"Aku.... Tak ingin kesana." Iam tampak begitu ragu.
"Masss, demi Aul."
Iam sejenak diam, sulit menjawab pertanyaan. Bagai memakan buah simalakama kali ini, apalagi berurusn dengan keluarga itu. Keluarga Dona, tapi musuh adiknya. Ia baru saja akan berdamai dengan keadaan.
"Lila, nginep semalam aja. Besok sore, aku jemput. Gimana?"
"Hmmm," Lila berfikir, sembari memainkan bibirnya yang sensual itu. Membuat Iam begitu gemas ingin mengecupnya.
"Kau itu terlalu baik, sayang."
__ADS_1
"Tapi Lila ngga selemah yang Mas fikir. Ayolah." bujuk Lila berkali-kali.
Akhirnya Iam meng'iyakan. Ia membiarkan Lila menginap disana semalam. Sebagai percobaan, bagaimana sikap mereka dengan kehadiran Lila nantinya.
"Tapi, kalau ada apa-apa, hubungi aku. Ingat?"
"Iya...."
Lila menggandengnya kembali, keluar untuk menunggu waktu makan malam. Dan rupanya, Aul sudah duduk di sofa dengan cemilannya. Matanya sembab, wajahnya tampak lelah. Iam semakin tak tega dengan adik semata wayangnya itu.
"Aul sehat?"
"Iya, Kak. Hanya lelah, karena sering begadang."
"Nanti malam, Kak Lila akan menginap disana, menemani Aul."
"Kak Iam?" Aul tampak penuh harap.
Namun Iam menggelengkan kepalanya. Menolak lagi, ketika Aul memintanya singah semalam disana. Begitu berat, apalagi jika harus menahan batas sabarnya.
"Ya, Aul ngerti. Kak Lila aja, udah cukup. Setidaknya Aul istirahat malam ini." harapnya.
Lila memanggil mereka untuk makan malam. Ketiganya menikmati santapan dengan begitu riang gembira. Penuh canda tawa yang membuat Aul begitu nyaman.
"Andai bisa, Aul mau disini saja. Bersama kalian."
"Jangan... Aul harus tetap disana. Jika ini adalah sebuah cerita komik, maka Aul adalah pemilik istana itu. Dan Aul, harus kuat disana demi mempertahankan hak Aul." ucap Iam.
__ADS_1
Aul hanya mengangguk, berharap dirinya memiliki kekuatan tambahan untuk ujian hidupnya. Dikala mendapat Mami tiri yang baik, justru harus berhadapan dengan keluarganya yang lain. Menyedihkan bagi gadis lugu itu.