
Hari mulai beranjak siang. Lila masih di halaman belakang, melakukan olahraga yoga yang selama ini Ia pelajari. Duduk menyilang kan kedua kakinya, dengan tangan diatas lutut kedua sisi kanan dan kirinya. Tangannya sesekali beranjak, mengelus perutnya yang masih sangat rata itu.
"Lila... Lilaaaa...." suara seseorang membuyarkan konsentrasinya. Apalagi, Ia faham benar dengan suara merdu itu.
"Lila, kenapa ngga nyaut, Ibu panggil?" tanya Bu Marni, yang menyusulnya duduk di karpet yang Lila bentang disana.
"Lila lagi olahraga, Bu." jawabnya tanpa membuka mata, atau pun menoleh.
Tukkkk! Tangan Bu Marni menyentil dahi putrinya itu. Lila pun langsung membuka mata dan melirik sang Ibu dengan tatapannya yang begitu kesal.
"Sakit, Ibu. Kenapa sih, dateng-dateng nyentil jidat?"
"Katanya kamu hamil, bener?" tanya Bu Marni.
"Iya, baru tadi pagi cek nya. Pake testpeck." jawabnya santai.
"Kata dokter, kamu baru boleh hamil setelah Satu tahun, kenapa sekarang hamil? Ibu cuma takut, itu nanti ber resiko."
__ADS_1
"Ibu sama aja kayak Mas," Lila beranjak, dan berjalan untuk mengambil air minumnya. "Ini udah mau setahun, Bu. Jadi ngga papa. Biasanya juga, cuma Enam bulan jaraknya."
Bu Marni pun ikut berdiri, dan kembali menghampiri putrinya.
"Wajar Iam cemas. Ia adalah orang yang menangis paling perih kala itu. Dimana dia yang memakamkan sendiri anak pertama yang bahkan belum sempat Ia peluk."
"Sama, Bu. Lila juga begitu. Apalagi Lila yang hamil dan sakit. Yakin deh, Lila udah ngga papa. Ini aja rasanya enak aja, ngga mual, ngga pusing. Malah maunya aktifitas terus."
Lila membersihkan keringatnya dengan handuk kecil. Lalu pergi meninggalkan sang Ibu untuk membersihkan dirinya. Setelah itu, Ia keluar dengan aura yang lebih segar, dan kembali menghampir sang Ibu di ruang tamu.
Memang, semua orang pun mengakui jika Lila tampak lebih segar dan cerah dari biasanya. Wajahnya tampak berseri-seri, memancarkan kebahagiaan yang tiada tara. Apalagi, dengan segala kasih sayang Iam untuknya. Mungkin, itu juga karena segala proses yang telah Ia lewati, dan dapat semakin mendewasakan dirinya hingga saat ini.
"Baru beberapa minggu."
"Tapi kenapa udah di bawa olahraga? Itu bahaya?"
"Yang ini, agak beda, Bu. Lebih pengen Mamanya aktif. Kalau dibawa diem, malah ngga enak badannya."
__ADS_1
"Udah periksa?"
"Belum. Nanti sore aja, tunggu Mas pulang." jawab Lila, yang membaringkan diri di sofanya.
"Iam capek, Lila."
"Biarin, mau nya sama Mas, pokoknya." jawab Lila lagi.
"Ndablek, emang." lirik tajam sang Ibu padanya. Lila hanya bergeming, dengan setoples biskuit di tangannya.
"Memang tampak sangat mencolok perbedannya." gumam Bu Marni. Mereka menghabiskan waktunya berdua selama beberapa jam. Hingga seseorang datang, dan menmbuat wajah Bu Marni sedikit kusut menatapnya.
"Mami, kenapa kesini?" tanya Lila, menyambutnya sembari sesekali mengelus perut Mami Dona yang sudah tampak membulat. "Uluh, kesayangan udah gede aja. Pengen cepet gendong deh." gemasnya.
"Mami tadi masak asam manis. Inget kamu, jadi Mami bawain kesini. Bosen juga, dirumah sendirian." Mami Dona memberikan kantung berisi makanan pada Lila, dan langsung diterima dengan baik oleh menantunya itu.
"Lila, kamu lagi hamil. Makan asem dari buah aja, jangan dari saos. Itu sensitif." tegur Bu Marni, tanpa menoleh kebelakang menyambut besan mudanya itu.
__ADS_1
"Iya, kalau bukan Lila yang makan, kan ada Mas nanti." Lila sedikit aneh dengan sikap Ibunya.
"Bu Marni, ada disini? Udah lama, Bu?" sapa Mami Dona, yang hanya di balas lirikan sinis dari Bu Marni.