Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Huru hara keluarga


__ADS_3

Aaaaaaarrrrrgggghh!


Suara teriakan menggaduhkan pagi hari yang damai. Papa Wira, Mami Dona dan bahkan Aul, berlari menghampiri sumber suara itu. Sedangkan Lila, berjalan dengan santai sembari meluruskan otot-otot pinggangnya.


"Mama, kenapa?" tanya Mami Dona.


"Dy, Shandy! Kenapa tidur diteras?" pekik Oma Nia, membangunkan putri kesayangannya itu.


"Hey, Shandy. Ngapain tidur disana?" Papa Wira menambahi.


Shandy tampak menggeliatkan tubuhnya. Menatap semua orang yang begitu khawatir melihatnya, lalu berdiri memasang wajah sedih pada mereka semua.


"Dia!" tunjuk Shandy pada Lila, yang tengah santai dengan segelas air putih ditangannya.


"Dia, kenapa, Sayang? Jelasin ke Mama." pinta Oma Nia, dengan belaian manjanya.


"Semalam aku pulang, minta tolong bukain pintu, malah makin dikunci sama dia. Padahal, aku ngantuk dan kedinan, Ma. Kak Wiraaaa..." panggil dan liriknya manja pada sang Kakak ipar.


"Kamu! Beraninya kamu begitu sama anak kesyangan saya! Sok berkuasa!" tunjuk Oma pada Lila.


"Lupa, saya istri Mas Iam? Sekali hembus, saya bisa mengusir kalian dari sini." Lila begitu santai menanggapinya.

__ADS_1


"Aku loh, ngga ada salah sama kamu. Kenapa jahat sama aku?" rengek Shandy dalam pelukan Mamanya.


Memang tidak ada. Tapi, kau sudah pulang larut malam, bahkan pagi. Jadi, aku punya hak melarangmu masuk. Apalagi, ketika kau mengganggu Aul di jam istirahatnya.


" Hey, kenapa kau mau saja disuruh dia?"


" Hey, kenapa kau tak meminta Mamamu saja yang membuka pintunya. Telepon, dan minta Mama mu bangun membuka pintunya." sergah Lila, pada ucapan Shandym


Semua tampak tegang. Apalagi Mami Dona, yang hanya dapat memijat dahinya saat ini. Sedangkan Papa Wira, hanya bisa menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar.


" Apa motivasi kamu, menginap disini, Lila?" tanya Sang Papa mertua.


"Karena Aul." jawab Lila dengan begitu singkat.


Papa Wira melirik pada anak gadisnya, yang tertunduk dengan segala ketakutannya. Menggeser tubuh dan bersembunyi dibelakang tubuh sang Kakak Ipar yang selalu pasang badan untuknya.


"Maaf, pa. Aul ngga pernah cerita. Aul, sering dibully sama Tante Shandy."


"Bohong, dia bohong. Mana ada shandy bully dia. Cuma sesekali minta tolong kerjain tugas doang."


"Tapi maksa, dan penuh ancaman. Itu namanya pembulian, Tante." sahut Lila.

__ADS_1


"Kenapa Aul ngga bilang papa?"


"Buat apa, Pa? Apa dengan lapor, Papa langsung usir mereka? Engga 'kan?" sergah Lila.


"Papa kurang tegas. Padahal ketika awal bertemu, Lila begitu takut bahkan gemetar. Tapi sekarang, rasa takutnya hilang, Pa. Ngga tahu kenapa? Lila pernah berhadapan dengan Bapak yang keras, bahkan mampu memukul Lila sesuka hati. Jadi, ngga terlalu takut lagi sama Papa."


"Kamuuu!!" Papa Wira menggenggam tangannya kuat. Tapi Lila hanya menatapnya datar.


"Kalau masih begini, Lila minta Aul tinggal sama kami. Meninggalkan seluruh isi rumah ini." ancam Lila.


Suasana itu kian panas, membuat isi kepala Mami Dona rasanya mendidih. Keributan demi keributan itu, benar-benar membuanya sakit, hingga akhirnya menghampiri sang adik.


Plaaaakkk!


" Mba Dona tampar aku? Jahat, Mba!"


"Kamu yang jahat. Atas dasar apa, kamu bully anakku? Kamu sudah berani melawan, atau bahkan berusaha menjadi antagonis disini?"


"Shandy ngga jahat! Shandy cuma minta tolong. Kenapa mba malah belain perempuan itu? Dia murahan, bahkan menikah dengan Mas Iam karena One night stand kan?" pekik Shandy, yang semakin tenggelam dalam amarahnya.


"Kenapa kalau iya?"

__ADS_1


"Mas, Iam?"


__ADS_2