Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Kamu mau membuang Papa?


__ADS_3

"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam, Lila udah pulang." sambut Bu Marni dengan senyumnya yang begitu bahagia. Begitu juga Aul, yang datang dengan pelukan hangat untuk Kakak iparnya itu. "Kak Lila, Aul turut berduka. Yang sabar, ya?" empatinya.


"Iya, Kakak udah ikhlas dengan semuanya. Semoga menjadi jalan Kakak untuk makin dewasa." ucap Lila. "Eh, Mami mana?"


"Ehm, Mami.... Mami seolah kehilangan muka sama Kak Lila dan Kak Iam. Mami bahkan mau pergi dari rumah, tapi Aul selalu tahan. Aul, kasihan sama calon adek Aul."


"Ya Allah, Mami hamil? Mas tahu?" toleh Lila pada suaminya.


"Ya, aku tahu. Maka dari itu, dari sekarang kita harus beri perhatian padanya. Setidaknya, Ia butuh dukungan." jawab Iam. "Ikut aku ke kamar." gandengnya di pada tangan sang istri.


"Kenapa, Mas?" tanya Lila. Apalagi, Iam langsung mengunci pintunya. Iam hanya diam, mendekati Lila dan menyibakkan rambut panjangnya. "Aku rindu." bisiknya dengan lembut.


"Kan belum boleh. Lila juga belum boleh banyak gerak." bibirnya ditutup Iam dengan jari telunjuknya. "Hssst, sebentar." tangan Iam beralih, membelai wajah Lila yang sebenarnya masih pucat. Lila menggenggamnya dan mengikuti kemana tangan itu mendarat. Ke bibirnya, dengan jempol yang mengusap bibir merah alami itu.

__ADS_1


Lila hanya sedikit memejam, apalagi ketika tahu jika Iam semakin mendekat. Satu kecupan mendarat ke dahi, hidung, pipi, dan turun ke bibir. Lila tak bisa menolak, hanya menjaga agar Iam tak terpancing lebih nantinya. Tangannya, menekan dada Iam dengan lmbut.


"Mas, sabar, ya?" tolak Lila dengan lembut.


"Ya, aku sangat sabar. Aku hanya rindu. Istirahatlah, aku keluar menemani Ibu dan Aul. Jika ingin makan siang, panggil saja." ucap Iam, dibalas anggukan Lila. Ia keluar dari kamar, dan Lila membaringkan dirinya sejenak di tempat tidurnya yang nyaman.


"Bu, Aul, Lila tidur sebentar, ya? Tolong, jangan di ganggu dulu."


"Iam mau kemana?" tanya Bu Marni. Mau keluar sebentar, ada urusan.


"Kamu, Wir. Udah dibilangin, kamu tinggal nurut aja, udah. Apa kurangnya Iam, yang udah kamu ambil wanitanya? Masih juga kamu usik."


"Dona, juga ngga cinta sama dia, Ma. Mereka cuma sahabat. Hanya Iam, yang tergila-gila padanya. Dan kalau Wira ngga nikah sama Dona, dia ngga akan ketemu Lila. Meski dengan cara penuh dosa."


"Mulutmu itu yang penuh dosa! Setidaknya Iam dan Lila langsung sadar dan mengakui kesalahan. Tak seperti kamu! Kamu selalu saja ego. Kalau bukan Mama Iam pertahankan kamu, sudah di usir kamu dari dulu."

__ADS_1


"Ma! Kenapa bahas masa lalu terus? Itu sudah sangat lama." hardiknya.


"Ya, tapi kelakuanmu pun tak pernah berubah. Masih saja bodoh. Di masa tua, bukannya memberi bahagia, malah merepotkan." omelnya pada sang putra.


Obrolan terhenti, ketika Iam datang. Sang Nenek menyambutnya, dengan segala rasa rindu dan empati yang menjadi Satu.


" Lila, sudah sehat, nak?"


" Sudah, Nek. Baru pulang dari Rumah sakit." jawab Iam.


" Alhamdulillah," Nenek membawanya masuk, dan bertemu dengan sang Papa untuk pertama kali dalam sepekan.


"Bagaimana kabarnya, Pa?" tatapnya sedih pada sang Papa. Sedangkan Papa Wira, masih dengan sikap angkuhnya.


"Kamu bersikeras, mau membuang Papa?" tanya nya datar.

__ADS_1


__ADS_2