Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Curiganya Papa Wira


__ADS_3

"Mas, darimana?" tanya Mami Dona yang sedari tadi menunggu suaminya di ruangan.


"Keruangan Iam." jawab nya, sembari menaruh map itu dengan kasar.


Mami Dona mengambilnya, lalu membaca semuanya. Ya, Ia meneliti semua rincian keuangan Iam. Semuanya normal, hanya rincian hari kemarin yang membuatnya sangat syok.


"Ini, untuk apa?" tanya Mama Dona.


"Buat Bapak Lila." Papa Wira bicara dengan nafas yang sedikit kasar. Aura wajahnya pun tampak masih sangat emosi.


"Makin lama, mereka semakin terlihat nyatanya. Mulai bisa menggerogoti Iam, sedikit demi sedikit. Tak bisa di biarkan." dengkusnya kesal.


"Jangan suudzon, Mas. Pasti ada alasan tersendiri, Iam memberikan itu semua."


"Apa? Apa alasan yang tepat? Dia dengan berani dan lantang, mengusir Mama mu dari rumah. Mengatasnamakan kejahatan atau apalah itu. Tapi, dia sendiri tak bisa tegas dengan mertuanya? Lila, sok membela Aul, hanya untuk mencari perhatian? Tidak bisa dibiarkan. "


"Lalu, apa yang Mas akan lakukan? Jangan sampai, hanya karena salah faham, Mas menghancurkan hidup Iam sekali lagi."

__ADS_1


"Sekali lagi? Kamu merasa bersalah dengan Iam? Kenapa kamu nekat menikah dengan saya, jika kamu masih memikirkan dia?"


"Bu-bukan begitu, Mas. Maaf," Mami Dona tertunduk. Ia salah bicara, dan Ia telah memancing lebih amarah suaminya. Ia harus menjadi penengah mereka kali ini.


Tak lama, amarah sedikit mereda. Papa Wira duduk dalam diamnya, masih dengan sebuah fikiran menggelanyut di kepalanya. Ia bahkan, menaruh curiga akan anak yang Lila kandung saat ini. Mengingat pekerjaan Lila sebelum bersama Iam. Ya, pekerjaan itu memang rawan. Penuh dengan asumsi negatif, apalagi untuk wanita.


"Hotel itu? Aku harus mencari info tentang Lila, disana." tekad nya bulat, dan Ia menelpon orangnya untuk mulai menyelidiki tentang Lila lebih lanjut.


*


Waktu menunjukkan, bahwa sudah waktunya Iam pulang. Ia membereskan mejanya, dan beranjak dari ruangan menuju mobil yang terparkir di bawah. Serasa tak sabar, bertemu dengan istri dan calon anaknya di rumah.


"Sudah, Mas." Sang pelayan memberikan pesanannya dengan ramah.


Iam kembali ke mobil, dan membawanya segera pulang.


"Assalamualaikum," Iam membuka pintu dan masuk. Menelusuri seisi ruangan, dan menemukan Lila tengah tidur di sofa dan memeluk guling empuknya.

__ADS_1


"Hey, sayang, bangunlah." panggilnya lembut, sembari mengusap rambutnya yang indah.


Lila menggeliat, membuka matanya degan perlahan. Senyumnya tersimpul cantik, ketika melihat sang suami sudah ada di depan matanya. Ia pun mengulurkan tangan, mencium dan memeluknya dengan hangat.


"Taraaaaaa," Iam menunjukkan bungkusan makanan itu pada Lila.


"Apa ini, Mas?"


"Makan sore, buat Lila. Sengaja beliin, karena pas lewat sana tadi." jawab Iam.


"Kan, nanti mau keluar. Sekalian makan 'kan? Kenapa, sekarang suruh makan? Tadi siang, Lila udah makan."


"Ya makan aja, sayang. Kamu kan memang harus makan banyak, sekarang. Semuanya harus di bagi dua, sama Bayi kita." usap Iam di perut Lila. "Nanti, kalau pas jalan mau makan lagi, ya tinggal makan. Ngga masalah."


Iam beranjak meninggalkan Lila. Ia masuk ke kamar, untuk membersihkan dirinya. Istirahat sebentar diperlukan, sebelum beraksi lagi untuk memanjakan sang istri nanti malam. Sedangkan Lila, masih duduk termenung menatap nasi bungkus yang ada di depan mata.


"Dimakan kenyang, ngga dimakan sayang. Ini aneh juga, istri disuruh makan mulu. Gendut baru tahu rasa, entar. Mana ngga enak lagi, kalau disimpen." gerutu Lila. Akhirnya Ia mengambil piring dan sendok, lalu menyantapnya dengan begitu lahap.

__ADS_1


"Ngga papa, Nak. Biar Papa mu seneng." tawa Lila dalam hati.


__ADS_2