
Suasana di ruang rapat tengah hening. Tapi Hp Iam terus saja bergetar, membuat semua orang menatapnya dengan sedikit lirikan tajam.
"Kalau penting, jawab saja dulu, Iam." bisik Mami Dona padanya. Iam mengangguk, lalu pamit keluar dari ruangan.
"Hallo, Dinar? Kenapa?" tanya Iam, menyelip di sebuah ruangan pojok dari ruangan yang lainnya.
"Hallo, Mas Iam?" jawab Mba Dinnar, dengan isak tangis yang begitu perih.
"Iya, kenapa? Kenapa nangis?"
"Mas, Lila Mas. Lila!"
"Iya, Lila kenapa? Ada apa? Ngomong yang jelas."
"Maaf, Aku lalai. Aku izin sejenak untuk mengganti pakaian dan mengurus Mas Iwan yang tengah libur. Tapi Lila... Entah kenapa, tidur begitu lama, dan rupanya mengeluarkan banyak darah, Mas." jelasnya dengan detail.
Bak petir yang menyambar dengan begitu kuat. Iam sampai lemas mendengarnya. Tapi, Ia berusaha tetap pada kekuatannya agar tak jatuh."Dimana, kalian sekarang?" tanya Iam, dengan nada yang begitu sakit.
__ADS_1
"Kami sedang jalan ke Rumah sakit. Mas Iwan menggendongnya. Aku ngga sempet periksa apapun dirumah, tadi. Ngga tahu, Lila abis makan atau minum apa." ucap Mba Dinnar, yang sudah berada di dalam mobilnya.
"Ada yang mencurigakan?"
"Aku lihat, ada sebuah paket diatas meja. Sepertinya, sebotol minuman telah Ia habiskan."
"Kalian pergilah, jaga Lila untukku. Aku, akan segera kesana." pinta Iam. Ia segera mematikan teleponnya, dan menghampiri siska yang memang tengah mencarinya.
"Bapak! Kok lama?" panggilnya. "Semua orang tengah mencari, karena banyak meminta tanda tangan dari bapak, dan....."
"Iam! Mau kemana?" panggil Mami Dona padanya. Tapi Iam tak menjawab sedikitpun, terus berlari tanpa pernah menoleh kebelakang.
"Siska, Iam kenapa?" tanya Mami Dona.
"Ngga tahu, Mami Bos. Tapi, tampaknya sangat cemas." Siska mengajaknya kembali masuk, dan menyelesaikan rapat mereka yang tertunda.
***
__ADS_1
"Dokter! Dokter! Tolong adik saya. Apapun, lakukan yang terbaik." pinta Iwan, meletakkan tubuh Lila yang lemah diatas brankarnya.
"Ini, Ibu Lila. Kenapa lagi?" Dokter langsung mengeceknya dengan teliti. "Astaga! Ini, apakah sudah lama pendarahan?" kagetnya, melihat darah di bawah tubuh Lila yang begitu banyak
"Maaf, saya kira dia tidur karena memang sangat pulas. Saya kaget, ketika sudah begitu banyak. Tolong! Tolong adik kami, Dok." mohon Dinnar, dengan air mata yang semakin deras mengalir.
"Kami akan berusaha sebaik mungkin. Kalian tunggu disini, dan hubungi suaminya. Kemungkinan sangat kecil, untuk bayi dapat terselamatkan." Dokter berbicara dengan begitu jujur, agar semua bersiap dengan kemungkinan terburuknya. Dinnar hanya bisa mengelus dada, dengan air mata yang berderai begitu derasnya membasahi pipi.
Terdengar langkah kaki, yang langsung datang menghampiri mereka. Ia lah Iam, dengan wajah yang tak kalah cemas, mengandung sejuta tanya di benaknya.
"Mana Lila? Bagaimana bisa begini? Apa yang terjadi!" tanya Iam, bernada sedikit keras.
"Tenang, Iam! Ini Rumah sakit!" sergah Iwan.
Iam hanya tertunduk menempelkan dahinya di dinding yang ada disana, lalu tangan nya mengepal dan memukulinya beberapa kali. Terdengar isak tangisnya, yang juga mengalirkan air mata begitu deras di pipinya.
"Maaf, Mas. Maaf, sekali lagi." sesal Dinar. Iam menjatuhkan tubuhnya dilantai. Duduk meringkuk memeluk lututnya. Tak perduli, kewibawaanya akan luntur dengan itu semua. Hanya Lila dan anaknya, yang ada dalam fikirannya saat ini.
__ADS_1