Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Ada apa dengan Lila?


__ADS_3

Khalila terbangun dari tidurnya. Rupanya, Iam tak kunjung kembali dari rapatnya. Perutnya lapar, dan Ia memutuskan memakan makanan itu lebih dulu. Tapi, Ia tak mendapati air minum disana. "Mau hubungin siapa?" Ia menoleh kekanan dan kekiri, lalu seidikit keluar mencari OB yang mungkin lewat.


"Mas," Panggil Lila pada seseorang. Rupanya Duta, yang sudah mulai dengan aktifitasnya meski masih dalam pengawasan.


"Iya, Bu, ada apa?" tanya Duta, dengan penuh hormat..


"Hmm, fikir Lila tadi, OB. Lia mau minta tolong, ambilin minum, bisa?" pinta Lila dengan sedikit canggung.


"Baiklah, akan saya ambilkan sebentar." Duta menunduk, lalu pergi dari hadapannya.


Lila kembali duduk di sofanya, dan mempersiapkan makan siang yang Ia bawa tadi. Berharap, Iam segera kembali dan makan bersamanya disana. "Resiko jadi istri Direktur," Senyum Lila, yang sudah terbiasa akan keadaan itu.


Tak lama kemudian, Duta pun datang. Mengetuk pintu, lalu masuk ke ruangan Lila untuk memberikan pesanannya. Lila pun menerimanya dengan ramah, dan mengajaknya mengobrol sebentar.

__ADS_1


" Bagaimana istri dan anakmu?"


"Baik, Bu. Anak ku, namanya Mauren. Sudah bisa jalan sekarang."


"Wah, pasti lagi lucu-lucunya," balas Lila, sembari mengusap perutnya. Membayangkan, ketika nanti Ia ada di posisi yang sama.


Kreeek! Pintu terbuka. Rupanya Papa Wira masuk, dan kaget melihat mereka berdua di dalam. Meski jarak berjauahan, tapi sangat tampak amarah di wajahnya.


" Kalian, ngapain berdua disini? Iam mana?" tanya nya, menatap Lila dan Duta secara bergantian.


"Lila, kenapa kamu gugup? Ada sesuatu? Tumben kamu kemari?"


"Lila, cuma antar makanan, Pa."

__ADS_1


"Kalau antar makanan, ngga perlu berduaan dengan mantan sahabat! Katakan, apa yang kalian lakukan? Ini rupanya, kamu diam-diam berniat jahat pada anak saya. Mulai dari Bapakmu yang meminta uang, dan sahabatmu ini. Atau, kalian diam-diam ada hubungan lain? Tampak sangat akrab tampaknya," kecurigaan Papa Wira semakin menjadi, ketika melihat Duta menatap khawatir pada Lila.


" Pak, kami hanya sebatas sahabat, Pak. Tak lebih. Saya, hanya ingin berterimakasih pada Lila, atas kesempatan yang Ia berikan pada saya. Itu saja," Duta kembali mencobe memberi penjelasan.


"Pa, Lila ngga ada hubungan apa-apa sama Mas Duta. Awwwh!" perut Lila terasa sedikit nyeri. Dan wajahnya seketika pucat, ketika Ia mulai berada dalam keadaan cemas.


"Lila, kamu ngga papa?" Duta menghampiri, dan ingin memapahnya. Tapi, Lila menghalanginya, "Panggil Mas Iam, cepat." pinta Lila pada Duta. Pria itu segera berlari keluar, tanpa perduli apapun yang ada di hadapannya. Meski harus tabrak sana sini, hingga akhirnya menerobos masuk ke ruangan Iam.


"Pak, Bu Lila, Pak." ucap Duta, dengan nafas yang terengah-engah. Iam langsung berdiri, dan meninggalkan ruangan itu tanpa permisi. Disitulah, tugas Siska mewakilinya agar para klien tak salah faham.


"Maaf, Pak. Saya tadi hanya mengantar minuman, tapi Pak Wira malah menyangka yang tidak-tidak." terang Duta. Iam semakin gusar, berjalan dengan begitu cepat tanpa memperhatikan apapun di depannya.


"Kamu kenapa, Lila? Saya hanya bertanya, kenapa kamu setakut itu? Bukankah, kala itu kamu berani menentang saya? Mana kekuatan kamu tempo hari?" tukas Papa Wira, yang perlahan mendekati Lila.

__ADS_1


"Pa, Lila sakit beneran, Pa. Lila ngga pernah bersandiwara apapun. Aakkkkh, bayiku." Lila nyaris menangis, dengan terus memegangi perutnya.


__ADS_2