Cinta Tulus Sang Ceo

Cinta Tulus Sang Ceo
Perubahan besar dalam hidup


__ADS_3

"Mas, kau kita pindah, Apartement nya gimana? Apa mau dijual?" tanya Lila, yang tengah berkemas barang-barangnya berdua dengan sang suami. Tak terlalu banyak, hanya pakaian dan perlengkapan kerja Iam. Selebihnya, semua telah Ia siapkan di rumah baru yang akan mereka tempati.


"Mau nya Lila, gimana? Di jual, atau dibiarkan saja. Toh, ada yang selalu merawat jika disini."


"Kalau dibiarin, dosa ngga sih?"


"Dosa gimana? Ini kan salah satu invest masa depan kita. Makin lama, harga properti makin naik, sama kayak emas. Makanya kebanyakan orang, kalau ngga nabung di Emas, ya di properti. Buat kontrakan, kost, atau nabung tanah banyak-banyak." jelas Iam. Lila hanya duduk dengan manis, mendengarkan penjelasan suaminya itu.


"Katanya, katanya sih. Kalau kita punya terlalu banyak simpanan, terus ngga di pergunakan, maka itu akan di hisab di akhirat."


"Itu kalau simpenan ngga ada gunanya, sayang. Koleksi tas yang ngga kepakai, pokoknya barang yang kurang ada manfaatnya. Nanti, kita pelajari sama-sama, ya?" ajak Iam.


"Mas..." panggil Lila yang duduk sembari melipat pakaian mereka.


"Ya, apa lagi? Ada yang Lila mau?"


"Ada, tapi boleh ngga?" Lila tampak penuh harap kali ini. Iam pun berdiri menyudahi aktifitasnya, menghampiri sang istri dan duduk tepat di sebelahnya. Iam meraih dagu Lila, dan membawa kehadapan matanya.

__ADS_1


"Ada apa? Asal jangan minta Papa pulang lagi." sayaratnya.


"Cuma.... Cuma.... Pengen jenguk Bapak. Boleh?"


"Lilaa...."


"Satu kali aja, please. Dari jauh ngga papa, Mas." mohon Lila.


"Fokus dulu untuk pindahan kita. Baru kita bicarakan lagi." Iam langsung berdiri, meninggalkan Lila yang masih duduk diatas sofa mereka. Lila hanya menatapnya dengan penuh harap, sembari terus melipat dan nenyusun pakaian mereka diatas koper besar yang tersedia.


" Cuma pengen lihat, Mas. Ngga ketemu. Terlalu berat kah?" batin Lila, yang hingga kini belum mengetahui jika Bapaknya masih berada di Rumah sakit jiwa.


"Kondisinya, masih seperti itu. Kalau mau jenguk, ya tak apa. Tapi, istrimu bagaimana?"


"Mungkin kaget, karena hampir setahun, dan aku tak memberitahunya. Bahkan tak pernah membahasnya sama sekali."


"Ya, itu yang ku khawatirkan. Tapi, semoga dia kuat."

__ADS_1


"Baiklah. Persiapkan Bapak, nanti sore kami kesana." pinta Iam, lalu mematikan teleponnya.


"Siapa, Mas?" tanya Lila, menghampirinya di ruang kerja.


"Teman, ada apa?" sambut Iam padanya. Meraih pinggangnya dan membawanya duduk ke dalam pangkuannya..


"Beres-beresnya, udah selesai. Mas kenapa? Kok ngelamun?" Lila meraih wajah Iam, dan menatapnya dengan tajam.


Iam meraih bahunya, dan mengusapnya dengan beberapan menghela panjang. Dan Lila menatapnya aneh, lalu membawa Iam ke dalam dekap hangatnya.


"Maaf, kalau lagi-lagi permintaan Lila terkesan berat dan bodoh. Tapi, entah kenapa terasa rindu, dan sulit untuk di hilangkan. Bahkan, beberapa kali terbawa mimpi meski hanya sekelebat lewat."


"Tidak bodoh, karena wajar jika anak rindu dengan Bapaknya. Bersiaplah, tapi bukan hanya bersiap diri. Tapi, hatimu juga harus siap. Kamu, tahu sendiri Bapak bagaimana." kecup Iam bertubi-tubi padanya.


Lila hanya tersenyum beranjak dari pangkuan sang suami, dan mengganti pakaiannya dengan rapi. Sebuah kejutan pun Ia berikan, ketika kali ini Ia mengenakan sebuah setelan panjang, dan hijab segi empat rapi di kepalanya. Begitu anggun, bahkan Iam nyaris tak berkedip dengan apa yang Ia lihat.


"Masyaa Allah. Cantiknya. Makin gemesshhhh," cubit Iam di pipinya yang tampak bulat, ketika di balut hijabnya.

__ADS_1


"Bismillah ya, Mas." gandeng Lila dengan mesra.


__ADS_2