
"Demi Tuhan, aku tak melakukan apapun, Iam. Lepaskan, atau aku teriak!"
"Ini kantorku, perusahaanku. Tak akan ada yang bisa meleraiku. Kau ingat."
"Tapi memang bukan aku!" Mami Dona akhirnya bisa menepis tangan Iam dari lengannya. Ia menghela nafas sejenak, sembari menatap semua kepedihan yang Iam rasakan. "Apa yang terjadi dengan Lila, sampai kau begini padaku?" tanya nya, dengan penuh simpati.
Iam masih diam, dan akhirnya Alex mengambil alih tugas Iam untuk menjelaskan semunya. Dengan detail, hingga kondisi Lila saat ini. "Ya, dia masih belum sadar. Dan entah, bagaimana ketika Lila sadar, dan mengetahui anaknya telah tiada. Bukan hanya di perutnya, tapi juga di dunia." ucapnya.
Mami Dona terjatuh lemas. Ia berjalan dengan lututnya, menghampiri Iam yang duduk menutup wajahnya dengan telapak tangan. Ia tak menangis, tapi Ia begitu sakit menahan rasanya saat ini.
" Iam? Kau tahu bagaimana aku. Aku, tak akan mungkin melakukan itu. Apalagi, Lila adalah menantuku, dan anak itu adalah calon cucu ku. Aku bersumpah demi apapun, yang ada di dunia ini, jika aku tak melakukan itu."
"Lantas, kenapa ada namamu disana?" tanya Iam, tanpa mampu menatapnya.
"Aku tak tahu, aku berani bersumpah. Aku memang tak tahu apapun." Mami Dona mengemis maaf dari putra tirinya itu.
__ADS_1
"Papa, dimana dia? Apakah, masih berhubungan dengan adikmu? Karena, dia masih sering mencari info tentang kami." lirih Iam. Tapi, sebelum Mami Dona menjawab, Iam sudah berdiri dengan gusar dan berjalan dengan begitu cepat.
"Iam, mau kemana? Jangan nekat, dia Papamu." panggil Mami Dona. Ia pun menarik Alex, dan bersama mengejar Iam yang sudah berjalan dengan sangat jauh. "Iam, tunggu. Kita bisa selesaikan baik-baik...." panggilnya lagi.
"Kau fikir, aku sekarang baik-baik saja? Berdoalah, agar tak ada korban lagi hari ini." Iam naik kedalam mobilnya, setelah meraih kunci dari Alex. "Dimana alamat mereka?" tanya Iam, pada Mami Dona.
"Mereka, ada di kontrakan bekas ku dulu." jawabnya.
"Pergilah, ketika kau sampai, maka Papa sudah ada yang membawa. Aku tak tahu, ditangkap dalam keadaan bagaimana. Aku, sudah tak perduli lagi." ucap Iam, berlalu pergi dengan mobilnya.
"Aku tak tahu. Tapi jika iya, ini sudah keterlaluan." balas Mami Dona. Mereka pergi, sesuai arahan Iam pada nya. Mendatangi Papa Wira, yang mungkin akan syok dengan beberapa tamu yang akan menjemputnya.
"Aku tahu dia membenci Lila. Menganggap Lila hamil di luar nikah, dan begitu takut jika kehamilan dan bayi itu akan menjadi aib keluarga besar yang selama ini Ia jaga. Tapi, dengan membunuh, itu justru akan membuat dosa semakin besar." Mami Dona mencurahkan isi hatinya, pada sang sahabat.
" Ya, aku tahu. Kau sabar, kita akan lihat yang dilakukan Iam padanya." jawab Alex.
__ADS_1
***
Bel berbunyi. Aul membukakan pintu dan menyambut tamunya dengan ramah. Tapi, Ia begitu terkejut ketika tamu itu adalah beberapa orang polisi dengan atribut yang lengkap.
" Selamat siang, apakah Pak Wiratama ada di rumah? "
" I-iya, ada apa?" tanya Aul.
"Kami, kemari dengan surat perintah penangkapan." Pak polisi memberikan surat itu, dan Aul segera menerimanya.
"Aul, ada apa?" Papa Wira perlahan menghampiri dengan jalannya yang pelan.
"Maaf, anda harus kami tahan, dengan dugaan pembunuhan berencana terhadap bayi dalam kandungan Ibu Lila."
"Pembunuhan, berencana? Apa maksudnya? Saya tak mungkin membunuh cucu saya sendiri." ucap Papa Wira, dengan wajah begitu terkejut.
__ADS_1
"Jelaskan di kantor polisi." salah satu dari mereka, memborgol tangan Papa Wira dan menahannya dengan kuat.